PENGANTAR
Polemik berita datangnya Imam Mahdi selalu actual untuk diulas dan dibicarakan. Pasalnya, masalah ini hingga kini masih menjadi buah bibir di kalangan kaum muslimin, khususnya kaum pelajar dan intelektual. Ironis memang, tatkala melihat orang yang bukan bidangnya ikut andil terjun menangani kontroversi masalah prinsip ini, sehingga bukannya menyembuhkan, tetapi justru malah meruwetkan masalah.
Beragam komentar pro kontra bermunculan seputar masalah Mahdi di akhir zaman. Betapa banyak para penulis dan penceramah berani menegaskan dengan penuh percaya diri, tanpa ragu sedikitpun: “Hadits-hadits tentang Mahdi seluruhnya palsu, hanya karangan politisi Syi’ah”!![1]. Sebaliknya, tak sedikit juga kalangan yang berkomentar dengan mantap: “Si anu adalah Mahdi yang ditunggu-tunggu”. Padahal dia tidak mengerti ciri-ciri Mahdi yang hakiki.
Melihat fenomena di atas, tentu kita tidak bisa tinggal diam begitu saja, kita harus berani bicara kebenaran dan menepis kebatilan. Alangkah bagusnya ucapan Ali ad-Daqqaq rahimahullah: “Orang yang tidak berani bicara kebenaran adalah syetan yang bisu dan orang yang bicara kebatilan adalah syetan yang bicara”. [2]
.
TEKS DAN TAKHRIJ HADITS
Ketahuilah wahai saudaraku -semoga Allah merahmatimu- bahwa hadits-hadits tentang datangnya Imam Mahdi banyak sekali, ada yang shahih, hasan, dha’if bahkan maudhu’. Untuk menyeleksinya perlu penelitian ahli hadits. Berikut kami paparkan beberapa contoh hadits yang shahih mengenai kedatangan Imam Al-Mahdi:
Hadits Pertama:
1. Zirr bin Khubaisy
1. Muhammad bin Hanafiyyah
1. Abu Nadhrah
1. Haditsnya Mutawatir
Melihat begitu banyaknya hadits tentang kedatangan Imam Mahdi, maka para pakar ilmu hadits menetapkan bahwa hadits-haditsnya mencapai derajat mutawatir, diantaranya adalah Imam Abul Hasan Al-Aaburri[6], as-Sakhawi dalam Fathul Mughits 3/43, asy-Syaukani dalam At-Taudhih fi Tawaturi Maa Jaa fil Muntadhar wad Dajjal wal Masih[7], Shiddiq Hasan Khan dalam al-Idha’ah hal. 112, As-Saffarini dalam Lawami’ Anwar 2/84, Syaraful Haq Adzim Abadi dalam Aunul Ma’bud 11/243, al-Kattani dalam Nadhmul Mutanatsir hal. 147, al-Barazanji dalam Al-Isya’ah li Asyrat As-Saa’ah hal. 87, Muhammad Habibullah Asy-Syinqithi dalam Al-Muqni’ Al-Muharrir hal. 30, al-Albani dalam Majalah Tamaddun Islami 22/646 -sebagaimana dalam Maqalat Al-Albani hal. 110-, Syaikh Abdul Aziz bin Baz dalam Majmu Fatawanya 4/98-99, dll.
2. Para Ulama Yang Menshahihkan
Syaikh al-Albani dalam ash-Shahihah 4/41 menyebutkan lima belas nama ulama yang menshahihkan hadits-hadits-hadits tentang Mahdi, bahkan sebagian mereka menegaskan tentang kemutawatirannya. Syaikh Muhammad bin Ahmad bin Ismail menulis sebuah kitab berjudul “Al-Mahdi Haqiqah Laa Khurafah”[8]. Pada hal. 35-36 beliau menyebutkan daftar nama ulama yang menshahihkan hadits-hadits tentang Mahdi, baik para ulama dahulu maupun sekarang:
Berdasarkan dalil-dalil yang sangat jelas di atas, maka seluruh ulama terpercaya bersepakat bahwa turunnya Isa kelak di akhir zaman merupakan aqidah Islam yang wajib diimani oleh setiap muslim. Diantara para ulama yang menegaskan kesepakatan tersebut adalah Imam As-Saffarini.dalam Lawami’ul Anwar 2/84, kata beliau: “Iman terhadap kedatangan Mahdi merupakan kewajiban sebagaimana ditetapkan oleh ahli ilmu sehingga dikategorikan termasuk aqidah Ahlu Sunnah wal Jama’ah”.
4. Beberapa Kitab Khusus Tentang Al-Mahdi[10]
Begitu seriusnya masalah penting ini, maka sebagian peneliti hadits menulis secara khusus. Diantaranya:
Kesimpulan kritikan mereka sebagai berikut:
MENJAWAB SYUBHAT
Sekarang kami mengajak para pembaca untuk mengikuti bersama kami sanggahan atas kritikan-kritikan tersebut:
1. Hadits-haditsnya tidak ada yang shahih
Seringkali para pengkritik berhujjah dengan keterangan Ibnu Khuldun dalam kitabnya yang masyhur itu dan menipu umat dengannya.
Jawab: Alasan ini tidak bisa diterima karena dua sebab:
Pertama: Ibnu Khuldun bukanlah ahli hadits. Oleh karena itulah para pakar hadits mengingkari dan membantah keterangannya tersebut. Diantaranya Al-Allamah Shiddiq Hasan Khan, beliau berkata setelah menukil ucapan Ibnu Khuldun: “Masalahnya tak seperti yang dia terangkan. Dan kebenaran lebih utama untuk diikuti”, Syaikh Adzim Abadi dan Al-Mubarakfuri mengatakan: “Dia jatuh dalam kesalahan dan jauh dari kebenaran”.[13]
Syaikh Al-Allamah Ahmad Syakir rahimahullah berkata:
Oleh karena itulah Imam Muhammad Nasiruddin Al-Albani berkata dalam Ash-Shahihah 4/40: “Barangsiapa menisbatkan pada Ibnu Khuldun bahwa beliau melemahkan seluruh hadits tentang Al-Mahdi, sungguh dia telah berdusta baik lupa maupun sengaja”.[18]
3. Hadits-haditsnya karangan para politisi kelompok Syi’ah dan seluruh sanadnya tak luput dari seorang rawi Syi’ah.
Jawaban: Alasan ini sangat rapuh sekali karena:
Pertama: Menyatakan secara mutlak seperti itu tidak benar dan hanya dugaan semata yang tidak ada buktinya karena empat hadits yang telah saya sebutkan di atas, tak ada seorang rawi-pun dalam sanadnya yang dikenal termasuk golongan Syi’ah. Benar, memang ada beberapa hadits tentang Mahdi yang dikarang oleh Syi’ah tetapi para ahli hadits telah menjelaskan secara detail dan terperinci tentangnya sehingga dapat terbedakan. “Adanya hadits-hadits tentang Mahdi yang palsu karena karangan politisi Syi’ah atau sejenisnya tidaklah berarti kita mengingkari hadits shahih tentang Mahdi” sebagaimana dikatakan oleh Ustadz Muhammad Hidhir Husain (Syaikh Al-Azhar dahulu).
Kedua: Taruhlah memang semua hadits tentang Al-Mahdi tak luput dari rawi Syi’ah[19], maka hal itu tidaklah merusak keabsahan hadits karena perselisihan madzhab bukanlah syarat absahnya suatu hadits sebagaimana diterangkan dalam kitab-kitab mustholah hadits. Oleh karenanya, Imam Bukhari dan Muslim juga meriwayatkan dalam kitab shahihnya dari beberapa rawi Syi’ah dan kelompok-kelompok lainnya.[20]
4. Haditsnya tidak diriwayatkan Imam Bukhari Muslim
Jawaban:
Pertama: Apakah hadits-hadits shahih hanya terhimpun dalam Shahih Bukhari dan Muslim saja?!! Tak ada satupun ulama yang mengatakan demikian, karena banyak juga hadits-hadits shahih yang terhimpun dalam kitab-kitab Sunan, Musnad, Mu’jam dan ensiklopedi hadits lainnya. Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata: “Sesunggunya Bukhari dan Muslim tidaklah mengeluarkan seluruh hadits shahih dalam kitabnya. Buktinya keduanya telah menshahihkan beberapa hadits dalam selain kitab shahihnya tersebut sebagaimana Tirmidzi dan lainnya menukil dari Bukhari bahwa beliau menshahihkan beberapa hadits yang tidak ada dalam kitab shahihnya, tetapi dalam kitab sunan”. [21]
Kedua: Sebenarnya dalam Shahih Bukhari Muslim ada beberapa hadits yang memberikan isyarat tentang Al-Mahdi seperti:
Hal tersebut karena “hadits itu saling menafsirkan satu sama lainnya”. Diantara hadits yang menjelaskannya adalah sebagai berikut:
Jawaban:
Anggapan ini tertolak karena Ta’arudh (kontradiksi) antara hadits barulah dianggap kalau memang haditsnya sama-sama shahih, tetapi kalau yang satu shahih dan satunya dha’if maka jelas tidak dianggap sebagaimana diketahui oleh setiap orang yang belajar ilmu hadits. Sebagai contoh hadits dari Ummu Salamah di atas: “Al-Mahdi adalah dari keturunanku dari anak keturunan Fathimah”. Dengan hadits Utsman bin Affan secara marfu’:
6. Membendung para pengaku Mahdi yang dusta
Jawaban:
Pertama: Sesungguhnya Imam Mahdi yang dikhabarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki ciri-ciri yang jelas sebagaimana penjelasan dalam hadits-hadits di atas seperti keluar di akhir zaman, laki-laki, keturunan ahli bait, namanya Muhammad bin Abdullah, berdahi lebar, berhidung mancung, menegakkan agama dan keadilan, dermawan dan shalih, mengimami Isa bin Maryam dalam shalat. Dengan demikian, apabila ada yang mengaku Mahdi sedangkan tidak sesuai dengan ciri-ciri tersebut, maka berarti dia adalah pendusta.
Kedua: Para ulama telah membantah para pengaku Mahdi dusta tersebut[26]. Jadi, benar kami setuju dengan kalian dalam mengingkari para pengaku Mahdi secara dusta seperti Juhaiman (Saudi Arabia) seperti halnya Mirza Ghulam Ahmad Al-Qadiyani, seorang dajjal India[27] yang mengaku sebagai Nabi Isa lalu mengaku sebagai Nabi. Namun seperti inikah cara kita membendung para pendusta tersebut?!! Apakah kita mengingkari aqidah yang shahih hanya karena adanya pengaku dusta tersebut?!! Kalau demikian caranya, kita akan bertabrakan dengan kaidah kita sendiri. Coba fikirkan, apa kita juga akan mengingkari adanya ilmu dan ulama karena adanya orang-orang bodoh yang mengaku sok berilmu?!! Dan apabila ada sebagian yang mengaku sebagai Tuhan seperti Fir’aun dan Dajjal, apakah cara membendungnya dengan mengingkari adanya Tuhan?!! Tidak, sekali-kali tidak!! Demikian pula kita beriman tentang Imam Mahdi yang hakiki dan mendustakan para pengaku Mahdi yang palsu.
7. Menyebabkan manusia tidak berusaha
Jawaban:
Kesimpulan:
[3] Lihat Ash-Shahihah no. 2371.
[4]. Dan orang yang meriwayatkan dari Abu Ash-Shddiq banyak sekali, bahkan Al-Albani mengatakan: “Menurut saya hadits ini mutawatir dari Abu Ash-Shiddiq dari Abu Said Al-Khudri. Dan yang paling shahih adalah dua jalur:
Pertama: Auf bin Abu Jamilah. Riwayat Ahmad 3/36, Ibnu Hibban: 1880, Al-Hakim 4/557 dan Abu Nuaim dalam Al-Hilyah 3/101. Al-Hakim berkata: “Shahih menurut syarat Bukhari Muslim” Dan disetujui Adz-Dzahabi dan memang seperti itu.
Kedua: Sulaiman bin Ubaid. Riwayat Al-Hakim 4/557-558 dan berkata: “Sanadnya shahih”. Dan disetujui Adz-Dzahabi dan Ibnu Khuldun. (Lihat Ash-Shahihah 4/40, 2/328).
[5] Silsilah Adh-Dha’ifah al-Albani 1/181.
[6] Nama lengkapnya adalah Abul Hasan Muhammad bin Husain bin Ibrahim bin Ashim as-Sijistani al-Aaburriy. Beliau adalah ahli hadits besar Sijistan setelah Ibnu Hibban dan murid Imam Ibnu Khuzaimah. (Lihat Siyar 16/299 dan Tadzkirah Huffadz 3/954 oleh adz-Dzahabi). Ucapan beliau ini banyak dinukil dan direstui oleh para ulama seperti Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 6/493-494, As-Suyuthi dalam Al-Urful Wardi hal. 81, 83, 84, Al-Kattani dalam Nadhmul Mutanatsir hal. 228 dan Al-Albani dalam As-Shahihah 5/372/2293.
[7] Sebagaimana dinukil oleh al-Kattani dalam Nadhmul Mutanatsir hal. 241 dan Al-Azhim Abadi dalam Aunul Ma’bud 11/308.
[8] Sebagaimana dinukil oleh Syaikh Asyraf Abdul Maqshud dalam kitabnya Jinayah Syaikh al-Ghozali Ala Hadits wa Ahlihi hal. 306-308
[9] Diwan Farazdaq 1/418 dan Al-Iidhah fi Ulum Balaghah, Al-Khathib al-Qazwini 1/46. Ini adalah ucapan Farazdaq kepada Jarir bin ‘Athiyah al-Khathafi, keduanya adalah penyair ulung yang saling bersaing dan menjatuhkan sehingga dikumpulkan oleh Abu Ubaidah Ma’mar bin Mutsanna al-Bashri perdebatan mereka dalam kitabnya berjudul Naqaidh Jarir wal Farazdaq, cet Dar Kutub Ilmiyyah. Lihat pula Asy-Syi’ru wa Asyu’ara hal. 309-314 oleh Ibnu Qutaibah.
[10] Lihat Asyrat As-Sa’ah hal. 263 oleh Syaikh Yusuf Al-Waabil, Aqidah Ahli Sunnah wal Atsar fi Al-Mahdi Al-Muntadhar hal. 166-168 oleh Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad dan buku “Menunggu Kedatangan Imam Mahdi, Dajjal, Nabi Isa” oleh Abdul Latif Asyur.
[11] Lihat Asyrat As-Saa’ah hal. 265-266 oleh Syaikh Yusuf al-Wabil dan As-Shahihah 4/42 oleh Al-Albani.
[12] Lihat ash-Shahihah al-Albani 4/42, Al-Adillah wa Syawahid Salim al-Hilali hal. 113)
[13] Aunul Ma’bud 11/243 dan Tuhfatul Ahwadzi 6/402
[14]. Dan Syaikh Ahmad bin Shiddiq Al-Ghumari memiliki kitab yang menjelaskan tentang kesalahan-kesalahan Ibnu Khuldun tentang hadits Mahdi dengan judul “Ar-Raddu Ala Tawahhumi Ibnu Khuldun”. Sebagaimana dalam buku “Menunggu Kedatangan Imam Mahdi, Dajjal, Nabi Isa” oleh Abdul Latif Asyur cet. Darul Nu’man, Kuala Lumpur.
[15] Syarhul Musnad 5/197-198.
[16] Takhrij Ahadits Fadhail Syam: 45 cet. Mkt Al-Ma’arif.
[17] Muqaddimah Tarikh Ibnu Khuldun 1/574.
[18] Lihat pula bantahan menarik Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad dalam risalahnya Aqidah Ahli Sunnah wal Atsar hal. 210-214
[19] Pelu diketahui bahwa Syi’ah dahulu hanya sekedar mengkritk atau melecehkan Utsman bin Affan, Mua’wiyah bin Abu Sufyan, Zubair bin Awam Thalhah dan lain sebagainya tetapi tetap jujur dan bagus hafalannya. (Lihat Mizanul I’tidal 1/118-119 –Biografi Abaan bin Taghlib- oleh Adz-Dzahabi dan Al-Baits Hatsits 1/304 oleh Syaikh Ahmad Syakir).
[20] Lihat Hadyu Saari hal. 459 oleh Ibnu Hajar, Tsamarat Nadhar hal. 86-93 oleh Ash-Shan’ani, Al-Baits Hatsits 1/303 Ahmad Syakir, As-Shahihah no. 396 Al-Albani.
[21] Al-Baits Al-Hatsits 1/106.
[22] HR. Bukhari 2449 Muslim 155.
[23] HR. Muslim 156
[24] HR. Harits bin Abu Usamah dalam Musnadnya. Ibnu Qayyim berkata dalam Al-Manar Al-Munif hal. 147-148: “Sanadnya jayyid (bagus)”. Dan disetujui oleh Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad dalam risalahnya “Al-Mahdi” dan Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 2236).
[25] Silsilah adh-Dhaifah no. 80
[26] Dalam Majalah Buhuts Islamiyyah edisi Rajab 1417 H ada sebuah makalah menarik tentang sejarah para pengaku Mahdi.
[27] Supaya diketahui saja bahwa yang menggelari seperti ini adalah Syaikh Muhammad Nasiruddin Al-Albani. (Lihat Ash-Shahihah 4/252/1683 dan Maqalat Al-Albani hal. 110 oleh Nuruddin Thalib).
[28] Lihat ash-Shahihah 4/42).
[29] Anehnya, dalam Majalah Al-Qudwah edisi 53 Jumadits Tsaniyah 1425 H/2004 M hal. 24-29 mencantumkan sebuah artikel dari Majlis Muthala’ah Dewan Asatidzah Tahdzibul Washiyyah yang menyimpulkan sebuah kesimpulan yang salah fatal, dimana mereka mengatakan: “Semua hadits Mahdi adalah palsu”. “Berita munculnya Imam Mahdi adalah tahayyul dan mempercayainya adalah musyrik”. Hanya kepada Allah-lah kita mengadu atas merajalelanya kajahilan dan kesombongan!! (Lihat Majalah Al Furqon edisi 1/Th. V Rubrik Soal Jawab). Kesimpulan serupa juga dilontarkan oleh Syaikh Abdullah bin Zaid dalam kitabnya La Mahdi Ba’da Isa, yang telah dibantah oleh dua alim besar, Syaikh Humud at-Tuwaijiri dalam kitabnya Al-Ihtijaj bil Atsar ‘ala Man Kadzdzaba al-Mahdi al-Muntadzar, dan Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad dalam kitabnya Ar-Radd Ala Man Kadzdzaba bil Ahadits Ash-Shahihah fil Mahdi. Semoga Allah membalas kebaikan beliau berdua.
[30] Majalah At-Tamaddun Al-Islami 22/642-646 sebagaimana dalam Maqalat Al-Albani hal. 110
Polemik berita datangnya Imam Mahdi selalu actual untuk diulas dan dibicarakan. Pasalnya, masalah ini hingga kini masih menjadi buah bibir di kalangan kaum muslimin, khususnya kaum pelajar dan intelektual. Ironis memang, tatkala melihat orang yang bukan bidangnya ikut andil terjun menangani kontroversi masalah prinsip ini, sehingga bukannya menyembuhkan, tetapi justru malah meruwetkan masalah.
Beragam komentar pro kontra bermunculan seputar masalah Mahdi di akhir zaman. Betapa banyak para penulis dan penceramah berani menegaskan dengan penuh percaya diri, tanpa ragu sedikitpun: “Hadits-hadits tentang Mahdi seluruhnya palsu, hanya karangan politisi Syi’ah”!![1]. Sebaliknya, tak sedikit juga kalangan yang berkomentar dengan mantap: “Si anu adalah Mahdi yang ditunggu-tunggu”. Padahal dia tidak mengerti ciri-ciri Mahdi yang hakiki.
Melihat fenomena di atas, tentu kita tidak bisa tinggal diam begitu saja, kita harus berani bicara kebenaran dan menepis kebatilan. Alangkah bagusnya ucapan Ali ad-Daqqaq rahimahullah: “Orang yang tidak berani bicara kebenaran adalah syetan yang bisu dan orang yang bicara kebatilan adalah syetan yang bicara”. [2]
.
TEKS DAN TAKHRIJ HADITS
Ketahuilah wahai saudaraku -semoga Allah merahmatimu- bahwa hadits-hadits tentang datangnya Imam Mahdi banyak sekali, ada yang shahih, hasan, dha’if bahkan maudhu’. Untuk menyeleksinya perlu penelitian ahli hadits. Berikut kami paparkan beberapa contoh hadits yang shahih mengenai kedatangan Imam Al-Mahdi:
Hadits Pertama:
Orang yang meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu ada dua:عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُوْدٍ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: لَوْ لَمْ يَبْقَ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ يَوْمٌ لَطَوَّلَ اللهُ ذَلِكَ الْيَوْمَ حَتَّى يَبْعَثَ فِيْهِ رَجُلاً مِنِّيْ أَوْ مِنْ أهْلِ بَيْتِيْ يُوَاطِئُ اسْمُهُ اسْمِيْ وَاسْمَ أَبِيْهِ اسْمَ أَبِيْ يَمْلأُ الأَرْضَ قِسْطًا وَعَدْلاً كَمَا مُلِئَتْ ظُلْمًا وَجَوْرًا
Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Seandainya dunia tidak tersisa kecuali tinggal sehari saja, maka Allah akan memanjangkan hari itu sehingga mengutus seorang laki-laki dari keturunanku atau dari ahli baitku, namanya seperti namaku dan nama ayahnya seperti nama ayahku, dia memenuhi bumi dengan keadilan sebagaimana sebelumnya dipenuhi kedhaliman dan penganiayaan”.
1. Zirr bin Khubaisy
- Riwayat Abu Daud: 4282, Tirmidzi: 2230, 2231, Ahmad 1/376, 377, 430, 448, Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir 10/10213-10230 dan Al-Mu’jam Ash-Shaghir hal. 245, Abu Nuaim dalam Al-Hilyah dan Al-Khatib dalam Tarikh Baghdad.
- Imam Tirmidzi berkata: “Hasan Shahih”. Imam Adz-Dzahabi menshahihkannya dalam At-Talkhis 4/442 dan disetujui oleh Syaikh Al-Albani.
- Riwayat Ibnu Majah: 4082 dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak 4/264.
- Syaikh Al-Albani berkata: “Sanadnya hasan”.
Hadits Kedua:
عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِيْ طَالِبٍ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه: الْمَهْدِيْ مِنَّا أَهْلَ الْبَيْتِ يُصْلِحُهُ اللهُ فِيْ لَيْلَةٍ
Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Al-Mahdi adalah dari keturunan kami, ahli bait, Allah memperbaikinnya (memberi taufik dan hidayah) dalam sehari”.
Orang yang meriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib ada dua:1. Muhammad bin Hanafiyyah
- Riwayat Ibnu Majah: 4085, Ahmad 1/84, Al-Uqaili dalam Adh-Dhu’afa: 470, Ibnu Adi dalam Al-Kamil 2/360 dan Abu Nuaim dalam Al-Hilyah 3/177 dari Yasin Al-Ijli dari Ibrahim bin Muhammad bin Hanafiyyah dari ayahnya.
- Sanad hadits ini hasan. Seluruh perawinya terpercaya kecuali Yasin yaitu Ibnu Syaiban, haditsnya hasan. Namun dia tidak sendirian, dia dikuatkan oleh Salim bin Abu Hafshah (haditsnya hasan) sebagaimana riwayat Abu Nuaim dalam Akhbar Ashbahan 1/170 sehingga hadits ini naik kepada derajat shahih.[3]
- Riwayat Abu Daud: 4283, Ahmad 1/99 dengan lafadz seperti hadits Abdullah bin Mas’ud.
- Syaikh Adzim Abadi berkata dalam Aunul Ma’bud 11/251: “Sanadnya hasan dan kuat”. Dan dishahihkan Syaikh Ahmad Syakir dan Syaikh Al-Albani dalam Takhrij Ahadits Fadhail Syam hal. 44.
Hadits Ketiga:
عَنْ أَبِيْ سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: الْمَهْدِيْ مِنِّيْ أَجْلَى الْجَبْهَةِ أَقْنَى الأَنْفِ يَمْلأَ الأَرْضَ قِسْطًا وَعَدْلاً كَمَا مُلِئَتْ جَوْرًا وَظُلْمًا وَ يَمْلِكُ سَبْعَ سِنِيْنَ
Dari Abu Said Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda: “Al-Mahdi adalah dari keturunanku, berdahi lebar dan
berhidung mancung, dia memenuhi bumi dengan keadilan sebagaimana
sebelumnya terpenuhi dengan kedhaliman dan dia berkuasa selama tujuh
tahun lamanya”.
Orang yang meriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri ada dua:1. Abu Nadhrah
- Riwayat Abu Daud: 4285 dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak 1/556 dari jalur Imran Al-Qaththan dari Qotadah dari Abu Nadhrah dengannya.
- Al-Hakim berkata: “Hadits ini shahih menurut syarat Muslim”. Dan disetujui Adz-Dzahabi. Syaikh Al-Albani berkata: “Sanadnya hasan”.
- Riwayat Tirmidzi: 2232, Ibnu Majah: 4083, Ahmad 3/21 dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak 4/557 dari jalur Zaid Al-‘Ummi dari Abu Ash-Shiddiq.
- Imam Tirmidzi berkata: “Haditsnya hasan”.
- Al-Hakim berkata: “Shahih menurut syarat Muslim”. Dan disetujui Adz-Dzahabi dan Al-Albani.
.
Hadits Keempat:
عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ رضي الله عنها قَالَتْ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم يَقُوْلُ : الْمَهْدِيْ مِنْ عِتْرَتِيْ مِنْ وَلَدِ فَاطِمَةَ
Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha berkata: Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Al-Mahdi adalah dari keturunanku dari anak keturunan Fathimah”.
- Riwayat Abu Daud: 4284, Ibnu Majah: 4086, Al-Hakim dalam Al-Mustadrak 4/557, Abu Amr Ad-Dani dalam As-Sunan Al-Waridah fil Fitan: 99-100 dan Al-Uqaili dalam Adh-Dhu’afa: 139, 300 dari jalur Ziyad bin Bayan dari Ali bin Nufail dari Said bin Musayyib dari Ummu Salamah secara marfu’.
- Syaikh Al-Albani berkata: “Sanadnya jayyid (bagus), seluruh rawinya terpercaya”. [5]
1. Haditsnya Mutawatir
Melihat begitu banyaknya hadits tentang kedatangan Imam Mahdi, maka para pakar ilmu hadits menetapkan bahwa hadits-haditsnya mencapai derajat mutawatir, diantaranya adalah Imam Abul Hasan Al-Aaburri[6], as-Sakhawi dalam Fathul Mughits 3/43, asy-Syaukani dalam At-Taudhih fi Tawaturi Maa Jaa fil Muntadhar wad Dajjal wal Masih[7], Shiddiq Hasan Khan dalam al-Idha’ah hal. 112, As-Saffarini dalam Lawami’ Anwar 2/84, Syaraful Haq Adzim Abadi dalam Aunul Ma’bud 11/243, al-Kattani dalam Nadhmul Mutanatsir hal. 147, al-Barazanji dalam Al-Isya’ah li Asyrat As-Saa’ah hal. 87, Muhammad Habibullah Asy-Syinqithi dalam Al-Muqni’ Al-Muharrir hal. 30, al-Albani dalam Majalah Tamaddun Islami 22/646 -sebagaimana dalam Maqalat Al-Albani hal. 110-, Syaikh Abdul Aziz bin Baz dalam Majmu Fatawanya 4/98-99, dll.
2. Para Ulama Yang Menshahihkan
Syaikh al-Albani dalam ash-Shahihah 4/41 menyebutkan lima belas nama ulama yang menshahihkan hadits-hadits-hadits tentang Mahdi, bahkan sebagian mereka menegaskan tentang kemutawatirannya. Syaikh Muhammad bin Ahmad bin Ismail menulis sebuah kitab berjudul “Al-Mahdi Haqiqah Laa Khurafah”[8]. Pada hal. 35-36 beliau menyebutkan daftar nama ulama yang menshahihkan hadits-hadits tentang Mahdi, baik para ulama dahulu maupun sekarang:
- al-Uqaili
- al-Aburri
- as-Suhaili
- al-Khaththabi
- al-Baihaqi
- Ibnu Atsir
- al-Haitsami
- Ibnu Hibban
- Ibnul Jauzi
- al-Mundziri
- Ibnu Taimiyyah
- Ibnu Qayyim
- adz-Dzahabi
- Ibnu Katsir
- Ibnul Arabi
- ash-Shan’ani
- al-Munawi
- al-Mubarakfuri
- Syamsul Haq Abadi
- al-Haitami
- al-Ajluni
- az-Zurqani
- Ibnu Hajar
- ash-Shabban
- Shiddiq Hasan Khan
- as-Sindi
- as-Suyuthi
- Ali al-Qari
- al-Kattani
- abu Su’ud
- abul Ala’ Iraqi
- as-Sakhawi
- as-Saffarini
- al-Qasthalani
- al-Bushiri
- al-Kisymiri
- Abdur Rahman asy-Syaibani
- al-Qurthubi
- asy-Syakani
- as-Samruzi
- Muhammad al-Faasi
- Jalaluddin Yusuf
- Abu Zaid al-Qasimi
- Ahmad Syakir
- Abu Abdir Rahman
- al-Albani
- Abdul Qadir al-Farisi
- Muhammad Abu Syuhbah
- al-Mar’I Hanbali
- Humud at-Tuwaijiri
- Muhammad Basyir as-Sahsawani
- Abdul Aziz bin Baz
- Abdul Qadir Salim
- Muhammad Husain Makhluf
- Habibullah as-Syinqithi
- Sayyid Sabiq
- Manshur Ali Nashif
- Muhammad Amin as-Sinqithi
- Dan masih banyak lagi lainnya.
أُوْلَئِكَ آبَائِيْ فَجِئْنِيْ بِمِثْلِهِمْ
إِذَا جَمَعَتْنَا يَا جَرِيْرُ الْمَجَامِعُ
Merekalah orang tuaku, maka datangkanlah padaku semisal mereka
Apabila perkumpulan mengumpulkan kita wahai Jarir.[9]
3. Kesepakatan UlamaBerdasarkan dalil-dalil yang sangat jelas di atas, maka seluruh ulama terpercaya bersepakat bahwa turunnya Isa kelak di akhir zaman merupakan aqidah Islam yang wajib diimani oleh setiap muslim. Diantara para ulama yang menegaskan kesepakatan tersebut adalah Imam As-Saffarini.dalam Lawami’ul Anwar 2/84, kata beliau: “Iman terhadap kedatangan Mahdi merupakan kewajiban sebagaimana ditetapkan oleh ahli ilmu sehingga dikategorikan termasuk aqidah Ahlu Sunnah wal Jama’ah”.
4. Beberapa Kitab Khusus Tentang Al-Mahdi[10]
Begitu seriusnya masalah penting ini, maka sebagian peneliti hadits menulis secara khusus. Diantaranya:
- Imam Abu Nuaim Al-Ashbahani rahimahullah menulis sebuah kitab berjudul “Akhbar Al-Mahdi” sebagaimana disebutkan Imam Suyuthi dalam Al-Urful Wardi 2/64 -Al-Hawi-.
- Al-Hafizh Ibnu Abi Khaitsamah rahimahullah mengumpulkan hadits-hadits tentang Al-Mahdi dalam sebuah kitab sebagaimana disebutkan Ibnu Khuldun dalam Muqaddimah Tarikhnya hal. 556.
- Al-Hafizh Jalaluddin Ash-Suyuthi rahimahullah dalam bukunya yang berjudul “Al-Urful Wardi fi Akhbar Al-Mahdi” telah dicetak bersama Al-Hawi lil Fatawi 2/57.
- Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah menulis risalah khusus tentang Al-Mahdi sebagaimana beliau sebutkan dalam kitabnya An-Nihayah 1/30.
- Syaikh Ali Al-Muttaqi Al-Hindi rahimahullah memiliki risalah khusus tentang Al-Mahdi sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Isya’ah li Asyrat Sa’ah hal. 121.
- Syaikh Mula Ali Al-Qari rahimahullah menulis kitab berjudul “Al-Masyrab Al-Wardi fi Madzhab Al-Mahdi” sebagaimana dalam Al-Isya’ah hal. 113.
- Al-Hafizh Asy-Syaukani rahimahullah dalam risalahnya “At-Taudhih fi Tawaturi Maa Ja’a fi Al-Mahdi wa Dajjal wal Masih”.
- Al-Allamah Ash-Shan’ani rahimahullah dalam telah mengumpulkan hadits-hadits tentang kedatangan Al-Mahdi sebagaimana disebutkan Shiddiq Hasan Khan dalam Al-Idha’ah hal. 114
- Syaikh Abdul Alim Abdul Adzim rahimahullah menulis sebuah risalah “Al-Ahadits Al-Waridhah fi Al-Mahdi fi Mizan Al-Jarh wa At-Ta’dil”. Risalah ini adalah referensi yang paling luas tentang Al-Mahdi sebagaimana dikatakan oleh Al-Allamah Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad dalam Majalah Al-Jami’ah Al-Islamiyyah edisi 45 hal. 323.
- Syaikh Al-Allamah Abdul Muhsin Al-Abbad rahimahullah dalam risalahnya “Aqidah Ahli Sunnah wal Atsar fi Al-Mahdi Al-Muntahdar” dan “Ar-Raddu ‘ala Man Kadzdzaba bil Ahadits As-Shahihah Al-Waridah fi Al-Mahdi”. Dan keduannya telah tercetak.
SYUBHAT PENGKRITIK HADITS
Sangat disayangkan sekali, aqidah mulia ini telah digugat oleh sebagain kalangan, diantaranya adalah Syaikh Muhammad Rasyid Ridha rahimahullah dalam Tafsir Al-Manar 9/499-504, Muhammad Farid Wajdi rahimahullah dalam Dairah Ma’arif Al-Qarni Al-‘Isyrin 10/480, Ahmad Amin rahimahullah dalam Dhuha Islam 3/237-241, Muhammad Al-Ghozali rahimahullah dalam Musykilat fi Thariq Hayat Islamiyyah hal. 139[11], Ust. Umar Hubaisy rahimahullah dalam Fatawa hal. 334-335Kesimpulan kritikan mereka sebagai berikut:
1. Hadits-haditsnya tidak ada yang shahih.
2. Ucapan Imam Ibnu Khuldun
3. Hadits-haditsnya karangan para politisi kelompok Syi’ah
4. Haditsnya tidak diriwayatkan Imam Bukhari Muslim
5. Haditsnya saling bertentangan
6. Membendung para pengaku Mahdi yang dusta
7. Menyebabkan manusia tidak berusaha
MENJAWAB SYUBHAT
Sekarang kami mengajak para pembaca untuk mengikuti bersama kami sanggahan atas kritikan-kritikan tersebut:
1. Hadits-haditsnya tidak ada yang shahih
Jawab: Siapakah yang mengatakan demikian?! Apakah mereka ahli hadits?! Ataukah ahli kalam dan filsafat yang tidak mengerti ilmu hadits?!! Tak perlu kita memperpanjang pembicaraan lagi, karena kami kira penjelasan di atas sudah cukup bagi pencari kebenaran[12].2. Ucapan Imam Ibnu Khuldun
Seringkali para pengkritik berhujjah dengan keterangan Ibnu Khuldun dalam kitabnya yang masyhur itu dan menipu umat dengannya.
Jawab: Alasan ini tidak bisa diterima karena dua sebab:
Pertama: Ibnu Khuldun bukanlah ahli hadits. Oleh karena itulah para pakar hadits mengingkari dan membantah keterangannya tersebut. Diantaranya Al-Allamah Shiddiq Hasan Khan, beliau berkata setelah menukil ucapan Ibnu Khuldun: “Masalahnya tak seperti yang dia terangkan. Dan kebenaran lebih utama untuk diikuti”, Syaikh Adzim Abadi dan Al-Mubarakfuri mengatakan: “Dia jatuh dalam kesalahan dan jauh dari kebenaran”.[13]
Syaikh Al-Allamah Ahmad Syakir rahimahullah berkata:
“Ibnu Khuldun tidak faham kaidah ahli hadits “Al-Jarh Muqaddam ‘ala Ta’dil” (Celaan lebih didahulukan daripada pujian). Seandainya dia mengetahui dan memahami kaidah tersebut, niscaya dia tidak akan berucap seperti ini. Atau mungkin dia tahu tetapi sengaja melemahkan hadits-hadits tentang Al-Mahdi karena situasi politik pada masanya”. Kemudian beliau menjelaskan bahwa keterangan Ibnu Khuldun banyak memuat kesalahan[14]”. [15]Syaikh Al-Albani rahimahullah juga berkata:
“Ibnu Khuldun telah melakukan kesalahan yang amat fatal tatkala melemahkan kebanyakan hadits-hadits tentang Mahdi. Hal itu tak aneh, karena memang ilmu hadits bukanlah bidangnya”. [16]Kedua: Sekalipun Ibnu Khuldun menilai bahwa kebanyakan hadits tentang Mahdi adalah cacat, tetapi beliau tidak melemahkan semuanya. Perhatikan ucapan beliau usai memaparkannya: “Inilah beberapa hadits yang diriwayatkan oleh para imam tentang kedatangan Al-Mahdi di akhir zaman. Sebagaimana anda lihat sendiri tidak ada yang selamat dari cacat kecuali sedikit atau sedikit sekali”.[17]
Oleh karena itulah Imam Muhammad Nasiruddin Al-Albani berkata dalam Ash-Shahihah 4/40: “Barangsiapa menisbatkan pada Ibnu Khuldun bahwa beliau melemahkan seluruh hadits tentang Al-Mahdi, sungguh dia telah berdusta baik lupa maupun sengaja”.[18]
3. Hadits-haditsnya karangan para politisi kelompok Syi’ah dan seluruh sanadnya tak luput dari seorang rawi Syi’ah.
Jawaban: Alasan ini sangat rapuh sekali karena:
Pertama: Menyatakan secara mutlak seperti itu tidak benar dan hanya dugaan semata yang tidak ada buktinya karena empat hadits yang telah saya sebutkan di atas, tak ada seorang rawi-pun dalam sanadnya yang dikenal termasuk golongan Syi’ah. Benar, memang ada beberapa hadits tentang Mahdi yang dikarang oleh Syi’ah tetapi para ahli hadits telah menjelaskan secara detail dan terperinci tentangnya sehingga dapat terbedakan. “Adanya hadits-hadits tentang Mahdi yang palsu karena karangan politisi Syi’ah atau sejenisnya tidaklah berarti kita mengingkari hadits shahih tentang Mahdi” sebagaimana dikatakan oleh Ustadz Muhammad Hidhir Husain (Syaikh Al-Azhar dahulu).
Kedua: Taruhlah memang semua hadits tentang Al-Mahdi tak luput dari rawi Syi’ah[19], maka hal itu tidaklah merusak keabsahan hadits karena perselisihan madzhab bukanlah syarat absahnya suatu hadits sebagaimana diterangkan dalam kitab-kitab mustholah hadits. Oleh karenanya, Imam Bukhari dan Muslim juga meriwayatkan dalam kitab shahihnya dari beberapa rawi Syi’ah dan kelompok-kelompok lainnya.[20]
4. Haditsnya tidak diriwayatkan Imam Bukhari Muslim
Jawaban:
Pertama: Apakah hadits-hadits shahih hanya terhimpun dalam Shahih Bukhari dan Muslim saja?!! Tak ada satupun ulama yang mengatakan demikian, karena banyak juga hadits-hadits shahih yang terhimpun dalam kitab-kitab Sunan, Musnad, Mu’jam dan ensiklopedi hadits lainnya. Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata: “Sesunggunya Bukhari dan Muslim tidaklah mengeluarkan seluruh hadits shahih dalam kitabnya. Buktinya keduanya telah menshahihkan beberapa hadits dalam selain kitab shahihnya tersebut sebagaimana Tirmidzi dan lainnya menukil dari Bukhari bahwa beliau menshahihkan beberapa hadits yang tidak ada dalam kitab shahihnya, tetapi dalam kitab sunan”. [21]
Kedua: Sebenarnya dalam Shahih Bukhari Muslim ada beberapa hadits yang memberikan isyarat tentang Al-Mahdi seperti:
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: كَيْفَ أَنْتُمْ إِذَا نَزَلَ ابْنُ مَرْيَمَ فِيْكُمْ وَإِمَامُكُمْ مِنْكُمْ؟!
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bagaimana kalian apabila Isa bin Maryam turun pada kalian dan imam kalian dari kalian?!”. [22]
Al-Allamah Shiddiq Hasan Khan rahimahullah setelah membawakan beberapa hadits yang banyak sekali dalam kitabnya Al-Idha’ah hal. 144, beliau mengakhirinya dengan hadits Jabir di atas lalu berkomentar: “Memang benar dalam hadits ini tidak ada kata “Al-Mahdi” secara jelas, namun tidak ada maksud lain dari hadits ini dan hadits-hadits sejenisnya melainkan adalah Al-Mahdi yang dinanti-nanti sebagaimana dijelaskan dalam beberapa hadits dan atsar yang banyak sekali”.عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ رضي الله عنه قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم يَقُوْلُ: لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِيْ يُقَاتِلُوْنَ عَلَى الْحَقِّ ظَاهِرِيْنَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. قَالَ: فَيَنْزِلُ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ فَيَقُوْلُ أَمِيْرُهُمْ: تَعَالَ صَلِّ لَنَا. فَيَقُوْلُ: لاَ, إِنَّ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ أُمَرَاءُ, تَكْرِمَةُ اللهِ عَلَى هَذِهِ الأُمَّةِ
Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu berkata: Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku yang berperang di atas al-haq dan tegar (menang) hingga hari kiamat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Maka Isa bin Maryam turun, lalu amir mereka mengatakan: Ayo, majulah menjadi imam shalat kami. Isa menjawab: Tidak, sesungguhnya sebagian kalian adalah pemimpin pada sebagian lainnya, kemulian Allah atas umat ini”.[23]
Hal tersebut karena “hadits itu saling menafsirkan satu sama lainnya”. Diantara hadits yang menjelaskannya adalah sebagai berikut:
5. Haditsnya saling bertentanganعَنْ جَابِرٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: يَنْزِلُ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ فَيَقُوْلُ أَمِيْرُهُمْ الْمَهْدِيْ: تَعَالَ صَلِّ لَنَا. فَيَقُوْلُ: لاَ, إِنَّ بَعْضَهُمْ أَمِيْرُ بَعْضٍ, تَكْرِمَةُ اللهِ هَذِهِ الأُمَّةَ
Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tatkala Isa bin Maryam turun, amir mereka Al-Mahdi mengatakan: Kemarilah, imami kami dalam shalat. Isa menjawab: Tidak, sesungguhnya sebagian mereka adalah pemimpin atas lainnya, kemulian Allah pada umat ini”. [24]
Jawaban:
Anggapan ini tertolak karena Ta’arudh (kontradiksi) antara hadits barulah dianggap kalau memang haditsnya sama-sama shahih, tetapi kalau yang satu shahih dan satunya dha’if maka jelas tidak dianggap sebagaimana diketahui oleh setiap orang yang belajar ilmu hadits. Sebagai contoh hadits dari Ummu Salamah di atas: “Al-Mahdi adalah dari keturunanku dari anak keturunan Fathimah”. Dengan hadits Utsman bin Affan secara marfu’:
الْمَهْدِيْ مِنْ وَلَدِ الْعَبَّاسِ عَمِّيْ
Al-Mahdi dari keturunan anak Abbas, pamanku.
- Bagaimana bisa dipertentangkan, sedangkan hadits Ummu Salamah sanadnya shahih dengan hadits maudhu’ yang diriwayatkan Imam Daruqutni dalam Al-Afrad no. 26, Ad-Dailami 4/84 dan Ibnu Jauzi dalam Al-Wahiyat: 1431 dan pada sanadnya tedapat rawi bernama Muhammad bin Walid Al-Qurasyi, sedangkan dia pendusta.[25]
- Jadi anggapan kontradiksi tersebut hanyalah muncul dari hadits-hadits yang tidak shahih tentang Mahdi. Sedangkan hadits-hadits yang shahih, maka tiada kontradiksi sedikitpun.
6. Membendung para pengaku Mahdi yang dusta
Jawaban:
Pertama: Sesungguhnya Imam Mahdi yang dikhabarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki ciri-ciri yang jelas sebagaimana penjelasan dalam hadits-hadits di atas seperti keluar di akhir zaman, laki-laki, keturunan ahli bait, namanya Muhammad bin Abdullah, berdahi lebar, berhidung mancung, menegakkan agama dan keadilan, dermawan dan shalih, mengimami Isa bin Maryam dalam shalat. Dengan demikian, apabila ada yang mengaku Mahdi sedangkan tidak sesuai dengan ciri-ciri tersebut, maka berarti dia adalah pendusta.
Kedua: Para ulama telah membantah para pengaku Mahdi dusta tersebut[26]. Jadi, benar kami setuju dengan kalian dalam mengingkari para pengaku Mahdi secara dusta seperti Juhaiman (Saudi Arabia) seperti halnya Mirza Ghulam Ahmad Al-Qadiyani, seorang dajjal India[27] yang mengaku sebagai Nabi Isa lalu mengaku sebagai Nabi. Namun seperti inikah cara kita membendung para pendusta tersebut?!! Apakah kita mengingkari aqidah yang shahih hanya karena adanya pengaku dusta tersebut?!! Kalau demikian caranya, kita akan bertabrakan dengan kaidah kita sendiri. Coba fikirkan, apa kita juga akan mengingkari adanya ilmu dan ulama karena adanya orang-orang bodoh yang mengaku sok berilmu?!! Dan apabila ada sebagian yang mengaku sebagai Tuhan seperti Fir’aun dan Dajjal, apakah cara membendungnya dengan mengingkari adanya Tuhan?!! Tidak, sekali-kali tidak!! Demikian pula kita beriman tentang Imam Mahdi yang hakiki dan mendustakan para pengaku Mahdi yang palsu.
7. Menyebabkan manusia tidak berusaha
Jawaban:
Kami sependapat dengan kalian dalam mengingkari pemahaman keliru dan khurafat Syetan ini, karena tidak ada keterangan sedikitpun dalam hadits-hadits Mahdi yang mengisyaratkan bahwa kejayaan Islam tidak mungkin digapai sebelum datangnya Mahdi. Namun kalau memang ada sebagian kalangan yang berpemaham keliru seperti itu, apakah caranya dengan mengingkari hadits-hadits shahih tentang Mahdi ataukah dengan memahamkan kepada mereka bahwa faham tersebut keliru tanpa mengingkari hadits shahih tentang Mahdi?!! Tak ragu lagi bahwa cara kedua ini yang benar. [28]
Kesimpulan:
Sesungguhnya keyakinan datangnya Imam Mahdi termasuk aqidah yang ditetapkan dalam hadits-hadits mutawatir yang wajib bagi setiap muslim untuk mengimaninya karena hal itu termasuk perkara ghaib[29], sedangkan beriman dengan ghaib adalah sifat orang-orang yang beriman sebagaimana firman Allah:.
ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ ِفيهِ هُدَى لِلْمُتَّقِينَ . الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ
Kitab (Al-Quraan) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka. (QS. Al-Baqarah: 2-3).Dan tidak ada yang mengingkari aqidah ini kecuali orang yang jahil atau sombong. Saya memohon kepada Allah agar mewafatkan kita dalam beriman terhadapnya serta aqidah-aqidah shahih lainnya.[30]
Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi
(abiubaidah.com)
[1] Seperti ditegaskan oleh Ahmad Amin dalam Dhuha Islam 3/24.
[2] ar-Risalah Qusyairiyyah hal. 57, ad-Da’ wa Dawa’ Ibnu Qayyim hal. 155.[3] Lihat Ash-Shahihah no. 2371.
[4]. Dan orang yang meriwayatkan dari Abu Ash-Shddiq banyak sekali, bahkan Al-Albani mengatakan: “Menurut saya hadits ini mutawatir dari Abu Ash-Shiddiq dari Abu Said Al-Khudri. Dan yang paling shahih adalah dua jalur:
Pertama: Auf bin Abu Jamilah. Riwayat Ahmad 3/36, Ibnu Hibban: 1880, Al-Hakim 4/557 dan Abu Nuaim dalam Al-Hilyah 3/101. Al-Hakim berkata: “Shahih menurut syarat Bukhari Muslim” Dan disetujui Adz-Dzahabi dan memang seperti itu.
Kedua: Sulaiman bin Ubaid. Riwayat Al-Hakim 4/557-558 dan berkata: “Sanadnya shahih”. Dan disetujui Adz-Dzahabi dan Ibnu Khuldun. (Lihat Ash-Shahihah 4/40, 2/328).
[5] Silsilah Adh-Dha’ifah al-Albani 1/181.
[6] Nama lengkapnya adalah Abul Hasan Muhammad bin Husain bin Ibrahim bin Ashim as-Sijistani al-Aaburriy. Beliau adalah ahli hadits besar Sijistan setelah Ibnu Hibban dan murid Imam Ibnu Khuzaimah. (Lihat Siyar 16/299 dan Tadzkirah Huffadz 3/954 oleh adz-Dzahabi). Ucapan beliau ini banyak dinukil dan direstui oleh para ulama seperti Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 6/493-494, As-Suyuthi dalam Al-Urful Wardi hal. 81, 83, 84, Al-Kattani dalam Nadhmul Mutanatsir hal. 228 dan Al-Albani dalam As-Shahihah 5/372/2293.
[7] Sebagaimana dinukil oleh al-Kattani dalam Nadhmul Mutanatsir hal. 241 dan Al-Azhim Abadi dalam Aunul Ma’bud 11/308.
[8] Sebagaimana dinukil oleh Syaikh Asyraf Abdul Maqshud dalam kitabnya Jinayah Syaikh al-Ghozali Ala Hadits wa Ahlihi hal. 306-308
[9] Diwan Farazdaq 1/418 dan Al-Iidhah fi Ulum Balaghah, Al-Khathib al-Qazwini 1/46. Ini adalah ucapan Farazdaq kepada Jarir bin ‘Athiyah al-Khathafi, keduanya adalah penyair ulung yang saling bersaing dan menjatuhkan sehingga dikumpulkan oleh Abu Ubaidah Ma’mar bin Mutsanna al-Bashri perdebatan mereka dalam kitabnya berjudul Naqaidh Jarir wal Farazdaq, cet Dar Kutub Ilmiyyah. Lihat pula Asy-Syi’ru wa Asyu’ara hal. 309-314 oleh Ibnu Qutaibah.
[10] Lihat Asyrat As-Sa’ah hal. 263 oleh Syaikh Yusuf Al-Waabil, Aqidah Ahli Sunnah wal Atsar fi Al-Mahdi Al-Muntadhar hal. 166-168 oleh Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad dan buku “Menunggu Kedatangan Imam Mahdi, Dajjal, Nabi Isa” oleh Abdul Latif Asyur.
[11] Lihat Asyrat As-Saa’ah hal. 265-266 oleh Syaikh Yusuf al-Wabil dan As-Shahihah 4/42 oleh Al-Albani.
[12] Lihat ash-Shahihah al-Albani 4/42, Al-Adillah wa Syawahid Salim al-Hilali hal. 113)
[13] Aunul Ma’bud 11/243 dan Tuhfatul Ahwadzi 6/402
[14]. Dan Syaikh Ahmad bin Shiddiq Al-Ghumari memiliki kitab yang menjelaskan tentang kesalahan-kesalahan Ibnu Khuldun tentang hadits Mahdi dengan judul “Ar-Raddu Ala Tawahhumi Ibnu Khuldun”. Sebagaimana dalam buku “Menunggu Kedatangan Imam Mahdi, Dajjal, Nabi Isa” oleh Abdul Latif Asyur cet. Darul Nu’man, Kuala Lumpur.
[15] Syarhul Musnad 5/197-198.
[16] Takhrij Ahadits Fadhail Syam: 45 cet. Mkt Al-Ma’arif.
[17] Muqaddimah Tarikh Ibnu Khuldun 1/574.
[18] Lihat pula bantahan menarik Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad dalam risalahnya Aqidah Ahli Sunnah wal Atsar hal. 210-214
[19] Pelu diketahui bahwa Syi’ah dahulu hanya sekedar mengkritk atau melecehkan Utsman bin Affan, Mua’wiyah bin Abu Sufyan, Zubair bin Awam Thalhah dan lain sebagainya tetapi tetap jujur dan bagus hafalannya. (Lihat Mizanul I’tidal 1/118-119 –Biografi Abaan bin Taghlib- oleh Adz-Dzahabi dan Al-Baits Hatsits 1/304 oleh Syaikh Ahmad Syakir).
[20] Lihat Hadyu Saari hal. 459 oleh Ibnu Hajar, Tsamarat Nadhar hal. 86-93 oleh Ash-Shan’ani, Al-Baits Hatsits 1/303 Ahmad Syakir, As-Shahihah no. 396 Al-Albani.
[21] Al-Baits Al-Hatsits 1/106.
[22] HR. Bukhari 2449 Muslim 155.
[23] HR. Muslim 156
[24] HR. Harits bin Abu Usamah dalam Musnadnya. Ibnu Qayyim berkata dalam Al-Manar Al-Munif hal. 147-148: “Sanadnya jayyid (bagus)”. Dan disetujui oleh Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad dalam risalahnya “Al-Mahdi” dan Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 2236).
[25] Silsilah adh-Dhaifah no. 80
[26] Dalam Majalah Buhuts Islamiyyah edisi Rajab 1417 H ada sebuah makalah menarik tentang sejarah para pengaku Mahdi.
[27] Supaya diketahui saja bahwa yang menggelari seperti ini adalah Syaikh Muhammad Nasiruddin Al-Albani. (Lihat Ash-Shahihah 4/252/1683 dan Maqalat Al-Albani hal. 110 oleh Nuruddin Thalib).
[28] Lihat ash-Shahihah 4/42).
[29] Anehnya, dalam Majalah Al-Qudwah edisi 53 Jumadits Tsaniyah 1425 H/2004 M hal. 24-29 mencantumkan sebuah artikel dari Majlis Muthala’ah Dewan Asatidzah Tahdzibul Washiyyah yang menyimpulkan sebuah kesimpulan yang salah fatal, dimana mereka mengatakan: “Semua hadits Mahdi adalah palsu”. “Berita munculnya Imam Mahdi adalah tahayyul dan mempercayainya adalah musyrik”. Hanya kepada Allah-lah kita mengadu atas merajalelanya kajahilan dan kesombongan!! (Lihat Majalah Al Furqon edisi 1/Th. V Rubrik Soal Jawab). Kesimpulan serupa juga dilontarkan oleh Syaikh Abdullah bin Zaid dalam kitabnya La Mahdi Ba’da Isa, yang telah dibantah oleh dua alim besar, Syaikh Humud at-Tuwaijiri dalam kitabnya Al-Ihtijaj bil Atsar ‘ala Man Kadzdzaba al-Mahdi al-Muntadzar, dan Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad dalam kitabnya Ar-Radd Ala Man Kadzdzaba bil Ahadits Ash-Shahihah fil Mahdi. Semoga Allah membalas kebaikan beliau berdua.
[30] Majalah At-Tamaddun Al-Islami 22/642-646 sebagaimana dalam Maqalat Al-Albani hal. 110
TURUNNYA ISA BIN MARYAM
DI AKHIR ZAMAN
Merupakan
kewajiban bagi setiap muslim adalah beriman terhadap setiap hadits yang
telah shahih dari Nabi, karena pada hakekatnya hadits juga merupakan
wahyu dari Allah. Allah berfirman:
Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya. (QS. An-Najm: 3-4)
Imam Ibnu Qudamah berkata: “Kita harus beriman terhadap setiap apa yang
diinformasikan oleh Nabi dan shahih penukilan tersebut, baik dijangkau
oleh akal kita maupun tidak, kita harus percaya bahwa bahwa itu benar
adanya sekalipun kita tidak mengetahui hakekatnya seperti hadits tentang
Isra’ Mi’raj yang terjadi saat sadar bukan dalam tidur, karena kaum
kuffar Quraish mengingkarinya sedangkan mereka tidak mengingkari mimpi.
Demikian pula hadits yang menceritakan bahwa Malaikat pencabut nyawa
pernah dating kepada Nabi Musa untuk mencabut nyawanya, lalu Musa
memukulnya sehingga merusak matanya, kemudian Malaikat kembali kepada
Allah sehingga dikembalikan lagi matanya. Termasuk diantaranya juga
hadits-hadits yang berkaitan tentang tanda-tanda dekatnya hari kiamat
seperti keluarnya Dajjal, turunnya Isa bin Maryam untuk membunuhnya,
keluarnya Ya’juj dan Ma’juj, keluarnya hewan aneh, terbitnya matahari
dari barat dan hadits-hadits shahih lainnya yang shahih”.[1]
Pembahasan kita kali ini adalah tentang hadits turunnya Isa bin Maryam
ke dunia di akhir zaman, yang oleh sementara kalangan dianggap sebagai
hadits yang tidak terpakai. Kita berharap dengan tulisan agar kiranya
dapat menambah keimanan kita dan menghilangkan segala keraguan yang
mungkin pernah melekat pada diri kita.
A. TEKS HADITS
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ a يَقُوْلُ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ n : وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ لَيُوْشِكَنَّ أَنْ يَنْزِلَ فِيْكُمْ ابْنُ مَرْيَمَ حَكَمًا مُقْسِطًا فَيَكْسِرُ الصَّلِيْبَ وَيَقْتُلُ الْخِنْزِيْرَ وَيَضَعُ الْجِزْيَةَ وَيَفِيْضُ الْمَالُ حَتَّى لاَ يَقْبَلَهُ أَحَدٌ
Dari Abu Hurairah a berkata: Rasulullah n bersabda: Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh pasti akan turun pada kalian Ibnu Maryam sebagai hakim yang adil lalu dia menghancurkan salib, membunuh babi dan membebaskan pajak serta harta begitu melimpah sehingga tak ada seorangpun yang mau menerimanya”. [2]
B. TAKHRIJ HADITS
Karena
haditsnya mutawatir dan diriwayatkan dari sekian banyak sahabat, maka
sangatlah berat kalau kita turunkan semuanya. Oleh karenanya, cukuplah
kiranya kita tampilkan saja daftar sahabat yang meriwayatkan hadits
tentang turunnya Isa bin Maryam serta ahli hadits yang mencatatnya dalam
kitab-kitab mereka.
a. Daftar Nama Sahabat
Abu
Hurairah, Abdullah bin Amr, Jabir bin Abdullah, Nawwas bin Sam’an, Abu
Umamah al-Bahili, Abdullah bin Umar, Mujammi’ bin Jariyah, Aisyah,
Hudzaifah bin Asid, Utsamn bin Abu ‘Ash, Samurah bin Jundub, Abu Sa’id
al-Khudri, Abdullah bin Mas’ud, Hudzaifah bin Yaman, Anas bin Malik,
Abdullah bin Mughaffal, Safinah, Abu Bakrah, Auf bin Aus, Nafi’ bin
‘Albah, Tsauban, Kaisan, Ibnu Abbas.[3]
b. Daftar Nama Periwayat Hadits
Hampir
tidak ada penyusun kitab hadits kecuali mencatat hadits tentang
turunnya Isa bin Maryam di akhir zaman. Diantaranya adalah Imam Bukhari,
Muslim, Ahmad bin Hanbal dalam Musnadnya, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasai,
Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah dalam at-Tauhid, Ibnu Hibban dalam Shahihnya,
al-Hakim dalam al-Mustadrak, Abu Awanah dalam al-Mustakhraj, al-Isma’ili dalam al-Mustakhraj, adh-Dhiya’ al-Maqdisi dalam al-Mukhtarah, ath-Thayyalisi dalam Musnadnya, Ishaq bin Rahawaih dalam Musnadnya, Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf, Abu Ya’la dalam Musnadnya, al-Bazzar dalam Musnadnya, ad-Dailami dalam Musnadnya, ath-Thabrani dalam Mu’jam Kabir dan al-Ausath, al-Ajurri dalam asy-Syari’ah, al-Baghawi dalam Syarh Sunnah, Ibnu Abi Ashim dalam al-Ahad wal Matsani, al-Ashbahani, Ibnu Mardawaih, Abdu bin Humaid dalam al-Muntakhab, al-Baihaqi dalam Sunan Kubra, Asma’ wa Sifat, dan al-Ba’ts wa Nusyur, Ibnu Asakair dalam Tarikh Dimsyaq, ath-Thahawi, Said bin Manshur, Abu Nu’aim dalam al-Hilyah, ad-Daruquthni, al-Khathib al-Baghdadi, Ibnu Hazm dalam al-Muhalla, Ibnu Mandah dalam al-Iman, Abu ‘Amr ad-Dani dalam al-Fitan, Abdur Razzaq dalam al-Mushannaf, Hanbal bin Ishaq dalam al-Fitan, Ibnu Jarir dalam Tafsirnya, Ibnu Adi dalam al-Kamil, Ibnu A’rabi dalam Mu’jamnya dan lain sebagainya banyak sekali.[4]
c. Haditsnya Mutawatir
Melihat
begitu banyaknya hadits tentang turunnya Isa bin Maryam, maka para
pakar ilmu hadits menetapkan bahwa hadits-haditsnya mencapai derajat
mutawatir, diantaranya adalah Imam At-Thabari dalam Jami’ul Bayan 3/291, Ibnu Katsir dalam Tafsirnya 2/566, asy-Syaukani dalam risalahnya “At-Taudhih”, Shiddiq Hasan Khon dalam Al-Idha’ah hal. 160, Al-Kattani dalam Nadhmul Mutanatsir hal. 147, Syaraful Haq Azhim Abadi dalam Aunul Ma’bud 11/307, Syaikh Ahmad Syakir dalam Syarhul Musnad 7/98-99 dan 8/20, Syaikh Al-Albani dalam Ta’liq Syarah Aqidah Thohawiyyah hal. 501, Asy-Syanqithi dalam Adhwaul Bayan 7/128, 130, 136, Komisi Fatwa Saudi Arabia yang diketuai Syaikh Abdul Aziz bin Baz dalam Fatawa Lajnah Daimah 3/307, Samahatus Syaikh Abdul Aziz bin Baz dalam Majmu Fatawanya 1/453, Syaikh Muhammad Anwar Syah al-Kisymiri dalam kitabnya At-Tashrih bima Tawatara fi Nuzuli Masih, Syaikh Abdullah al-Ghumari dalam Aqidah Ahli Islam fi Nuzuli Isa Alaihi Salam hal. 5, Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i dalam Rudud Ahli Ilmu hal. 25 dan lain sebagainya.
Abu
Ubaidah -semoga Allah memberkahinya- bekata: Demikianlah ketegasan para
peneliti hadits. Apabila hadits tentang turunnya Isa bin Maryam tidak
mutawatir, maka tidak ada contoh hadits mutawatir di dunia hadits
selama-lamanya!!.
d. Para Ulama Yang Menshahihkan
Disamping para ulama
yang menegaskan haditsnya mutawatir akan saya sebutkan pula beberapa
ulama yang menegaskan keabsahan haditsnya dengan kata-kata yang indah
dan mantap sekalipun tidak secara tegas menetapkan mutawatir.
Diantaranya:
a. Imam Ibnu Abdil Barr berkata dalam At-Tamhid 5/440: “Dan dalil tentang kebenaran pendapat ini (masih hidupnya Isa sekarang) adalah hadits-hadits shahih dari Nabi n bahwa Isa akan turun, membunuh Dajjal, menunaikan haji yang diriwayatkan dengan sanad-sanad yang tiada cacat padanya”.
b. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata dalam Majmu’ Fatawa
4/329: “Adapun Al-Masih (Isa), dia pasti akan turun ke bumi di atas
menara putih sebelah timur Damaskus untuk membunuh Dajjal, menghancurkan
salib dan membunuh babi sebagaimana telah tetap dalam hadits-hadits
yang shahih. Oleh karenanya, beliau berada di langit kedua padahal
beliau lebih utama daripada Yusuf, Idris dan Harun karena memang dia mau
turun ke bumi sebelum tiba hari kiamat, berbeda halnya dengan para nabi
lainnya”.
c. Al-Hafizh Al-Hatsami berkata dalam Bahrul Fawaid:
“Tentang turunnya Isa telah shahih dari sejumlah hadits yang banyak
sekali. Diriwayatkan oleh para imam yang terpercaya dan tidak ada yang
menolaknya kecuali orang yang sombong dan penyimpang”. [5]
e. Kesepakatan Ulama
Berdasarkan
dalil-dalil yang sangat jelas di atas, maka seluruh ulama terpercaya
bersepakat bahwa turunnya Isa kelak di akhir zaman merupakan aqidah
Islam yang wajib diimani oleh setiap muslim. Tidak ada yang
mengingkarinya kecuali para ahli filsafat dan penyimpang agama yang
sesat, menyesatkan dan menyelisihi Al-Qur’an, hadits dan kesepakatan
ahli sunnah”. Demikian ditegaskan oleh As-Saffarini dalam Lawami’ Anwar 2/94-95 dan Syaikh Syaraful Haq Adzim Abadi dalam Aunul Ma’bud 11/312.
f. Beberapa Kitab Khusus Berkaitan Turunnya Isa bin Maryam
Begitu seriusnya masalah penting ini, maka sebagian peneliti hadits menulis secara khusus. Diantaranya:
a. Imam Jalaluddin Ash-Suyuthi dalam bukunya yang berjudul “Nuzul Isa bin Maryam Akhir Zaman”.
Buku ini telah dicetak Darul Kutub Ilmiyyah, Bairut dengan editor
Muhammad Abdul Qadir Atha. Dalam kitab ini, beliau menyebutkan beberapa
hadits. Pada hal. 22, beliau menegaskan bahwa turunnya Isa bin Maryam
dengan menegakkan hukum Islam didukung oleh hadits-hadits yang shahih
dan kesepakatan ulama. Pada hal. 53-54, beliau membantah syubhat dan
takwil sebagian kalangan seraya menegaskan bahwa pengingkaran turunnya
Isa merupakan bentuk kekufuran. Pada hal. 56, beliau menceritakan bahwa
ada sebagian orang yang mengingakari bahwa Isa shalat shubuh di belakang
Al-Mahdi, bahkan mengarang tulisan khusus tentangnya. Imam Suyuthi
membantahnya: “Ini sangat lucu sekali, karena shalatnya Isa di belakang
Mahdi ditegaskan dalam hadits-hadits yang shahih (lalu memaparkannya)”.
b. Al-Hafizh Asy-Syaukani dalam risalahnya “At-Taudhih fi Tawaturi Maa Ja’a fi Al-Mahdi wa Dajjal wal Masih[6]”.
Dalam buku ini, beliau memaparkan sebanyak dua puluh sembilan hadits,
kemudian beliau memaparkan dan menyimpulkan: “Seluruh hadits yang saya
paparkan di atas mencapai derajat mutawatir sebagaimana tidak samar lagi
bagi para peneliti (ilmu hadits)”.
c. Syaikh Muhammad Anwar Al-Kisymiri Al-Hindi (Wafat Th. 1352 H) dalam bukunya yang berjudul “At-Tashrih Bimaa Tawatara fi Nuzul Al-Masih”.
Buku ini telah tercetak dengan editor Syaikh Abdul Fattah Abu Ghuddah.
Dalam bukunya ini, beliau mengumpulkan hadits-hadits tentang turunnya
Isa sehingga mencapai sebanyak tujuh puluh hadits lebih.
d[7]. Syaikh Abul Fadhl Abdullah Muhammad As-Shiddiq Al-Ghumari menulis sebuah risalah berjudul “Aqidah Ahli Islam fi Nuzul Isa Alaihi Salam”.
Buku ini telah dicetak dan diterbitkan Maktabah Al-Qahirah. Dalam kitab
ini, dia menyebutkan para sahabat yang meriwayatkan hadits turunnya Isa
bin Maryam sehingga mencapai lebih dari dua puluh lima sahabat dari
tiga puluh lebih tabi’in. Pada hal. 5 dia menegaskan: “Tidak ada secuil
keraguanpun tentang mutawatirnya hadits tentang turunnya Isa bin Maryam.
Tidak ada yang mengingkarinya kecuali orang-orang yang jahil dan dungu
seperti kelompok Al-Qodiyaniyyah (Baca: Ahmadiyyah -pent) dan
orang-orang yang sealiran dengan mereka, sebab telah dinukil dari jalan
yang begitu banyak sekali sehingga tetap dalam kitab-kitab hadits secara
mutawatir dari generasi ke generasi selanjutnya”.
Pada
hal. 12 dia menegaskan: “Sungguh telah shahih keyakinan tentang
turunnya Isa dari sejumlah sahabat, tabi’in, tabi’ tabi’in, para imam
dan seluruh ulama dari berbagai madzhab sepanjang masa hingga hari ini”.
e. Syaikh Al-Allamah Al-Muhaddits Muhammad Nasiruddin Al-Albani dalam risalahnya yang berjudul “Qisshah Al-Masih Dajjal wa Nuzul Isa…”
Dalam kitab ini, beliau memaparkan hadits-hadits tentang keluarnya
Dajjal dan turunnya Isa dari empat puluh sahabat. Pada hal. 24-25 beliau
mengatakan: “Cukuplah akan hal itu kesepakatan para ulama pakar ahli
hadits tentang mutawatirnya hadits Dajjal dan turunnya Isa dari langit
seperti Al-Hafizh Ibnu Katsir[8], Ibnu Hajar[9] dan selainnya, bahkan Imam As-Syaukani menulis sebuah risalah khusus berjudul “At-Taudhih fi Tawaturi Maa Ja’a fi Al-Mahdi wa Dajjal wal Masih”.
C. SYUBHAT PENGKRITIK HADITS
Sementara
sebagian kalangan menghujat hadits-hadits tersebut hanya bertelakan
pada berbagai alasan yang sangat kropos sekali. Diantaranya:
1. Syaikh Mahmuad Syaltut[10]
berpendapat bahwa hadits-hadits yang meriwayatkan tentang turunnya Nabi
Isa mudhtharib (goncang). Dan juga hadits-hadits tersebut derajatnya
Ahad, sedang masalah aqidah ditetapkan berdasarkan nash qath’I seperti
ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits mutawatir[11].
2.
Prof. KH. Hasbullah Bakri, SH. Dalam bukunya “Nabi Isa dalam Al-Qur’an
dan Nabi Muhammad dalam Biybel. Diantara pendapatnya ialah: Hadits
Bukhari dari Abu Hurairah tentang akan turunnya Nabi, walaupun
dinyatakan shahih tetapi bertentangan dengan ayat Al-Qur’an yang
menyatakan bahwa Nabi Isa telah wafat. Tambahan lagi hadits ini
bersumber dari Abu Hurairah yang kecerdasannya kurang tinggi sedang
isinya mengandung persoalan historis yang tinggi.
3.
Dr. Quraish Shihab mengatakan bahwa ada ulama yang menyatakan “Isa as
masih hidup di langit” bukanlah suatu kewajiban untuk mempercayainya.
Serta beberapa hadits yang berkaitan dengan kenaikan Isa Al-Masih dan
akan turun kelak menjelang kiamat. Hadits-hadits tersebut kesemuanya
bermuara pada dua orang saja, yang keduanya bekas penganut agama
Kristen, yaitu Ka’ab Al-Akhbar dan Wahb bin Munabbih (yang masih punya
keterkaitan pada kepercayaan lamanya). Dengan demikian pengertian QS.
3:55 di atas bukan dalam arti diangkat fisiknya tapi diangkat derajatnya
ke sisi Allah swt[12].[13]
4. Syaikh Muhammad Abduh berkata: “Hadits tersebut hanyalah ahad dan
berkaitan dengan masalah aqidah karena menunjukkan perkara-perkara
ghaib. Sedangkan masalah aqidah tidak boleh diambil kecuali yang
bersifat qath’iy (pasti) sebab dituntut sesuatu yang menyakinkan. Dan
tidak ada dalam masalah ini hadits yang mutawatir”. Dia juga memaparkan
pendapat para ulama seputar turunnya Isa Al-Masih lalu memperkuat
pendapat yang menyatakan bahwa Isa tidak turun dan dia mentakwil ayat
seraya berkata: “Makna رَافِعُكَ
yaitu terangkatnya ruh setelah kematiannya, sedangkan arti turunnya ke
bumi yaitu tersebarnya perdamaian dan toleransi diantara manusia”.[14]
5.
Hasan Abdullah At-Turabi mengingkari turunnya Isa di akhir zaman.
Tatkala ditanya: Bagaimana anda berani mengingkari hadits mutawatir?
Jawabnya: “Saya tidak membicarakan hadits dari segi sanadnya tetapi
menurut saya hadits itu bertentangan dengan akal, sedangkan apabila
dalil bertentangan akal, maka akal harus lebih didahulukan”. [15]
Dari komentar di atas dapat ditarik kesimpulan syubhat mereka pada dua point:
Pertama: Kritik dari segi sanad yaitu:
a. Sahabat Abu Hurairah
b. Hanya bermuara pada Ka’ab Al-Ahbar dan Wahb bin Munabbih
c. Haditsny mudhtharib (goncang)
d. Haditsnya Ahad
Kedua: Dari segi matan yaitu:
a. Ta’wil arti turun
b. Bertentangan dengan akal
c. Kontradiksi dengan Al-Qur’an
D.MENJAWAB SYUBHAT
Sebelum
menjawab syubhat para pengingkar tersebut satu-persatu, penulis
mengajak saudara pembaca untuk berfikir dengan otak jernih: “Mungkinkah
para pengkritik tersebut dalam kebenaran sedang mereka sendiri
berselisih tentang alasannya?” Ketahuilah wahai saudaraku bahwa
perselisihan mereka itu saja sudah cukup menunjukkan kroposnya hujjah
mereka. Sadarkah para pengingkar tersebut bahwa kelakuan mereka itu pada
hakekatanya adalah mencela Nabi, para sahabat, para imam ahli hadits
yang berjerih payah merekam hadits tersebut?! Fikirkanlah baik-baik!!
Baiklah, sekarang dengan memohon pertolongan dari Allah mari kita jawab alasan mereka satu-persatu walaupun secara ringkas.
Pertama: Abu Hurairah, sahabat bermasalah.
Jawab: Alasan ini sangat rapuh sekali dan amat berbahaya bagi pelontarnya sendiri ditinjau dari beberapa segi[16]:
1.
Mencela sahabat termasuk perbuatan dosa besar dan kemunafikan yang tak
samar lagi berdasarkan kesepakatan ulama. Syaikh Bakr bin Abdullah Abu
Zaid mengatakan: “Seluruh pemeluk agama Islam bersepakat bahwa mencela
salah satu sahabat merupakan bentuk kemunafikan yang nyata…”.[17]
2.
Kalau memang kalian tidak mau menerima riwayat Abu Hurairah karena dia
bermasalah, lantas apakah para sahabat lainnya yang begitu banyak
seperti Abdullah bin Umar, Nawwas bin Sam’an … juga bermasalah? Jawablah
hai orang yang dikaruniai akal!!! Bila riwayat mereka masih tetap tidak
dipercayai juga, maka saya ucapkan selamat tinggal dari dunia!! Karena
pada hakekatnya anda telah menghancurkan pondasi-pondasi agama, menghina
Allah, Rasulullah n, syari’at Islam, para ulama dan seluruh kaum muslimin semuanya? Apakah anda menyadarinya?!!!
Kedua: Haditsnya bermuara pada Ka’ab Al-Ahbar dan Wahb bin Munabbih
Jawab:
1.
Ucapan ini menunjukkan kurangnya pengetahuan pelontarnya tentang ilmu
hadits. Karena anda tahu sendiri bahwa hadits ini diriwayatkan oleh
begitu banyak para sahabat Nabi. Kami tidak mengerti, apakah ucapan
tersebut didasari kebodohan ataukah penyesatan ataukah kedua-duanya?!!
2. Perlu diketahui bahwa riwayat Ka’ab Al-Ahbar dan Wahb bin Munabbih dari Nabi n
sangat sedikit sekali. Dan hukum riwayat keduanya dalam ilmu musthalah
hadits disebut “Mursal” karena keduanya tidak berjumpa dengan Nabi,
sedangkan hadits mursal bukanlah hujjah. Adapun riwayat keduanya dari
sahabat dan tabi’in, maka para ulama mengoreksinya seperti riwayat para
tabi’in lainnya. [18]
3. Ucapan DR. Quraish Shihab
ini telah didahului sebelumnya oleh Syaikh Mahmud Syaltut dalam
tulisannya yang dimuat dalam Majalah ar-Risalah. Syaikh
al-Albani berkata: “Saya telah meneliti hadits-hadits tentang turunnya
Isa dari sumber aslinya (kitab-kitab hadits) seperti kutub sittah dan
lain sebagainya sehingga saya dapat mengumpulkan banyak hadits dari
beberapa jalur yang mutawatir lebih dari empat puluh sahabat. Saya
sangat terkejut sekali ketika saya tidak menemukan nama Wahb bin
Munabbih dan Ka’ab al-Ahbar pada jalur sanad-sanad tersebut sekalipun
dalam hadits yang lemah sanadnya. Saya lalu berkeyakinan bahwa Syaikh
Syaltut hanya menulis sesuai dengan apa yang terlintas dalam benaknya
saja tanpa meneliti kitab-kitab hadits. Lalu saya menulis sebuah risalah
terpisah untuk mencounter fatwanya itu tetapi…”.[19]
Ketiga: Haditsnya “Mudhtarib”
Jawab:
Hadits “Mudhtarib” itu adalah hadits yang diriwayatkan dari seorang
rawi atau beberapa rawi yang banyak dengan berbagai macam redaksi yang
berbeda, sama-sama kuat dan tidak mungkin untuk dikompromikan atau
dikuatkan salah satunya. Perbedaan tersebut menunjukkan tidak kuatnya
hafalan rawi padahal itu adalah syarat sahnya suatu hadits. Sekalipun
bisa terjadi pada matan (isi) hadits, namun yang paling banyak adalah
pada sanad hadits. [20]
Setelah anda memahami
defenisi hadits mudhtarib, maka katakanlah padaku: Apakah hadits
pembahasan kita termasuk kategori mudhtarib?! Adakah hadits shahih lain
yang menyelisihnya?! Ahli hadits mana yang mengatakannya termasuk
“mudhtarib”?! Dengan demikian maka dapatlah kita ketahui bahwa hadits
turunnya Isa tidaklah termasuk mudhtarib (goncang) tetapi yang mudhtarib
adalah pemikiran pelontarnya sendiri yang jauh dari ilmu hadits.
Keempat: Haditsnya “Ahad”
Hadits ahad hanya bersifat zhan (prasangka), tidak qath’i (pasti), sedangkan masalah aqidah harus bersifat pasti.
Jawab:
1. Kalian setuju dan bersepakat dengan kami bahwa hadits mutawatir menunjukkan qath’I
(sesuatu yang menyakinkan). Lantas, siapakah yang paling berhak
menetapkan hadits ini ahad, sedang hadits itu mutawatir? Tentunya ahli
hadits. Sekarang kita ketahui bersama bahwa ahli hadits telah menetapkan
hadits tersebut berderajat mutawatir. Lantas kenapa kalian masih
bersikukuh menetapkannya berderajat ahad?! Kenapa kalian tidak percaya
kepada penelitian ahli hadits dan lebih percaya kepada orang yang bukan
ahli dalam bidangnya?!!!
Supaya
lebih memantapkan saudara pembaca, berikut saya nukilkan perkataan
berharga seorang pakar ilmu hadits abad ini, Syaikh Muhammad Nasiruddin
Al-Albani dalam Ta’liq Syarh Aqidah Thohawiyyah hal. 501:
وَاعْلَمْ أَنَّ أَحَادِيْثَ الدَّجَّالِ وَنُزُوْلِ عِيْسَى q
مُتَوَاتِرَةٌ يَجِبُ الإِيْمَانُ بِهَا وَلاَ تَغْتَرَّ بِمَنْ يَدَّعِيْ
فِيْهَا أَنَّهَا أَحَادِيْثُ آحَادٌ فَإِنَّهُمْ جُهَّالٌ بِهَذَا
الْعِلْمِ وَلَيْسَ فِيْهِمْ مَنْ تَتَبَّع طُرُقَهَا وَلَوْ فَعَلَ
لَوَجَدَهَا مُتَوَاتِرَةً كَمَا شَهِدَ بِذَلِكَ أَئِمَّةُ هَذَا
الْعِلْمِ كَالْحَافِظِ ابْنِ حَجَرٍ وَغَيْرِهِ. وَمِنَ الْمُؤْسِفِ
حَقًّا أَنْ يَتَجَرَّأَ الْبَعْضُ عَلَى الْكَلاَمِ فِيْمَا لَيْسَ مِنْ
اخْتِصَاصِهِمْ, لاَ سِيَّمَا وَالأَمْرُ دِيْنٌ وَعَقِيْدَةٌ.
Ketahuilah bahwa
hadits-hadits tentang Dajjal dan turunnya Isa bin Maryam telah mencapai
derajat mutawatir yang wajib diimani. Janganlah anda tertipu dengan
anggapan sebagian kalangan yang menyatakan bahwa haditsnya hanyalah ahad
sebab mereka adalah manusia yang jahil tentang ilmu hadits. Tak ada
dari kalangan mereka yang mau menelitinya. Seandainya mereka benar-benar
mau menelitinya, niscaya mereka akan mendapatinya mutawatir sebagaimana
ditegaskan oleh para pakar ilmu hadits seperti Ibnu Hajar dan lainnya.
Sungguh amat disayangkan ketika sebagian manusia lancang berbicara
tentang sesuatu yang bukan bidangnya. Lebih-lebih masalah ini berkaitan
tentang aqidah dan agama.
2. Ketahuilah bahwa sekalipun para ulama ahli hadits berbeda pendapat tentang hadits ahad apakah menunjukkan zhan atau qath’i,
tetapi mereka tidak berselisih pendapat tentang hujjahnya hadits ahad
Janganlah anda tertipu oleh bualan dan filsafat sebagian kalangan yang
mengoceh dan mengecoh umat dengan perselisihan ulama tentang; apakah
hadits ahad menunjukkan dhan atau qath’i. Jadi, taruhlah haditsnya
memang berderajat ahad, apakah berarti kita membuangnya begitu saja? Tak
ada satupun ulama ahli hadits yang bertindak demikian, itu hanyalah
pemahaman aneh dan filsafat kotor yang diusung dari pemikiran Mu’tazilah
dan ahli kalam (filsafat). Camkanlah hal ini baik-baik pada hati kita!.
3.
Pendapat para ulama ahli hadits yang lebih kuat bahwa tidak seluruh
hadits ahad menunjukkan dhan, tetapi kadang-kadang bisa menunjukkan
qath’i (pasti) apabila ada indikasi penguatnya seperti riwayat Bukhari
Muslim, hadits masyhur yang banyak jalannya dan lain sebagainya[21].
Bila
kita teliti hadits pembahasan kita, niscaya akan kita dapati bahwa dia
menunjukkan sesuatu yang qath’i karena memiliki qarinah-qarinah
tersebut. Hal Itu kalau kita menganggap haditsnya hanya ahad, apalagi
telah terbukti haditsnya berderajat mutawatir. Wallahu A’lam
.
Kelima: Ta’wil Arti Turun
Jawab:
Kalau kita tilik dan cermati beberapa hadits tentang turunnya Isa
secara tenang, pasti akan kita rasakan bahwa ta’wil seperti itu sangat
kaku dan lucu. Perhatikanlah hadits lafadz-lafadz haditsnya secara
jernih seperti “lalu dia menghancurkan salib, membunuh babi dan
membebaskan pajak”. “Isa bin Maryam shalat di belakang imam Al-Mahdi”.[22]
Isa bin Maryam turun di menara putih sebelah timur Damaskus, memakai
pakaian yang harum sambil meletakkan kedua lengan tangannya pada sayap
dua malaikat, rambutnya meneteskan air, bila dia mengangkat kepala, maka
air berkilau seperti berlian. Orang yang mencium baunya, pasti akan
mati seketika dan baunya sejauh dia memandang. Hingga Isa mencari Dajjal
dan ketemu di pintu Luddin (sebuah kota dekat Baitul Maqdis) dan
membunuhnya”.[23] “Isa menunaikan ibadah haji/ umrah”.[24] “Isa kemudian wafat dan dishalati kaum muslimin” [25]
Sungguh alangkah bagusnya ucapan Samahatus Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz t
tatkala membantah ta’wil ini: “Merupakan kebatilan yang sangat keji dan
kelancangan yang sangat kelewatan batas terhadap Allah dan rasul-Nya
adalah ta’wil sebagian kalangan tidak seperti dhahirnya. Sebab dia telah
mengumpulkan dua bencana:
Pertama: Mendustakan dan tidak mengimani dalil-dalil yang tegas tentang turunnya Isa.
Kedua: Menuduh Rasul n
yang paling mengerti syari’at dan ahli penasehat sebagai orang yang
berbicara ngacau dan rancu, maksud ucapannya tidak seperti dia sabdakan
secara dhahir. Sungguh ini merupakan kedustaan yang tiada taranya dan
penipuan terhadap umat yang Nabi n
berlepas diri darinya. Ucapan seperti ini serupa dengan pendapat kaum
para penyeleweng yang menisbahkan pada rasul dengan kerancuan demi
maslahat mayoritas manusia”.[26]
Ajaibnya, takwil seperti ini juga digugat oleh Syaikh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi dalam bukunya yang berjudul Kaifa Nata’amal Ma’a As-Sunnah An-Nabawiyyah hal. 169-170.
Keenam: Bertentangan Dengan Akal
Jawab:
1.
Katakanlah padaku: Semudah itukah kalian mementahkan hadits Nabi? Bila
sesuai dengan akal kalian, baru diterima dan bila tidak sesuai akal
kalian, maka ditolak begitu saja?! Seperti inikah sifat orang-orang yang
mengaku beriman kepada Allah? Ataukah ini adalah ciri bala tentara
Iblis yang dicontohkan oleh nenek moyang mereka tatkala memprotes
perintah Allah dengan akalnya:
قَالَ مَامَنَعَكَ أَلاَّتَسْجُدَ إِذْأَمَرْتُكَ قَالَ أَنَاخَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ
Allah
berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di
waktu Aku menyuruhmu?” Menjawab iblis “Saya lebih baik daripadanya:
“Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”. (QS. Al-A’raf: 12).
2. Kalau agama ini
berdasar pada akal, maka katakan padaku: “Mengapa Allah mewajibkan
shalat shubuh sebanyak dua rakaat, maghrib tiga raka’at, sedangkan
dhuhur, ashar dan isya empat rakaat?” Kenapa bacaan shalat dhuhur dan
ashar lirih, sedangkan shubuh, maghrib dan isya dikeraskan?! Jawablah!!
3.
Kalau agama ini berdasar pada akal, maka katakan padaku juga: “Akal
siapakah yang menjadi standar dan patokan?” Apakah akal para ulama
ataukah sembarangan orang?! Alangkah bagusnya ucapan Al-Qadhi Iyadh:
“Turunnya Isa dan pembunuhannya terhadap Dajjal merupakan kebenaran
menurut ahli sunnah wal Jama’ah berdasarkan hadits-hadits shahih tentang
masalah tersebut. Tidak ada dalil akal maupun naql yang memustahilkannya. Oleh karenanya, maka aqidah ini wajib diimani. Adapun Mu’tazilah, Jahmiyyah cs mengingkari aqidah ini…”.[27] Ucapan in dinukil dan disetujui oleh Imam Nawawi[28]
Ketujuh: Kontradiksi Dengan Al-Qur’an
Jawab:
1.
Metode menubrukkan Al-Qur’an dengan hadits shahih merupakan ciri khas
ahli bid’ah dan pengekor hawa nafsu semenjak dahulu hingga sekarang,
karena hadits shahih diturunkan bukan untuk menentang Al-Qur’an, tetapi
untuk menafsirkan dan menjelaskannya sebagaimana firman Allah:
وَأَنزَلْنَآ إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَانُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
Dan
Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an, agar kamu menerangkan pada umat
manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka
memikirkan. (QS. An-Nahl: 44).
Kemudian
katakanlah padaku: Siapakah orang yang paling faham tentang tafsir
Al-Qur’an?!! Bukankah mereka adalah Nabi, para sahabat, serta para ulama
Islam?!! Benar. Tetapi anehnya, kenapa mereka tidak mempersoalkannya?!
Apakah anda lebih pandai daripada mereka?!!
2. Al-Qur’an sendiri telah menjelaskan tentang turunnya Isa bin Maryam kelak di akhir zaman:
1. Firman Allah:
وَإِن مِّنْ أَهْلِ الْكِتَابِ إِلاَّلَيُؤْمِنَنَّ بِهِ قَبْلَ مَوْتِهِ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكُونُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا
Tidak
ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa)
sebelum kematiannya. Dan di hari kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi
terhadap mereka. (QS. An-Nisa’: 159).
Sahabat Abdullah Ibnu Abbas, penafsir ulung mengatakan: “Yakni sebelum kematian Isa bin Maryam”.[29]
Imam
Al-Hasan Al-Bashri juga berkata: “Yakni sebelum kematian Isa. Demi
Allah, Isa sekarang masih hidup di sisi Allah, tetapi apabila dia turun,
maka mereka akan beriman semua”. Tafsir ini dikuatkan oleh mayoritas
ulama seperti Ibnu Jarir, Ibnu Katsir dan sebagainya. [30]
2. Firman Allah:
وَإِنَّهُ لَعِلْمٌ لِّلسَّاعَةِ فَلاَ تَمْتَرُنَّ بِهَا وَاتَّبِعُونِ هَذَا صِرَاطٌ مُّسْتَقِيمٌ
Benar-benar
memberikan pengetahuan tentang hari kiamat. Karena itu janganlah kamu
ragu-ragu tentang kiamat itu dan ikutilah Aku. Inilah jalan yang lurus. (QS. Az-Zukhruf: 61).
Sahabat
Abdullah Ibnu Abbas mengatakan tentang ayat yang mulia ini: “Maksudnya
adalah keluarnya Isa bin Maryam sebelum hari kiamat tiba”. [31]
Al-Hafizh Ibnu Katsir juga berkata dalam Tafsirnya 7/222: “Pendapat yang benar bahwa dhamir tersebut kembali pada Isa karena konteks kalimatnya berkaitan tentang beliau”. [32]
3. Adapun alasan sebagian kalangan bahwa Isa sekarang telah wafat berdasarkan dalil surat Ali-Imran: 155, maka jawabannya cukup panjang, tetapi cukuplah saya mengatakan: “Siapakah pendahulu anda dalam faham ini?! Bukankah mereka adalah kaum Yahudi yang didustakan oleh Allah?!! Demi Allah, benar sekali. Oleh karena itu, para pemikir komtemporer yang mengingkari turunnya Isa dan menyakini wafatnya beliau sekarang, pada hakekatnya da adalah cucu pewaris Yahudi.
Kesimpulan dan Penutup
Sebagai kata kesimpulan, Syaikh Al-Allamah Abdul Aziz bin Baz t
menegaskan: “Turunnya Isa telah ditetapkan berdasarkan Al-Qur’an,
hadits mutawatir dan ijma ulama Islam sehingga mereka selalu menyebutnya
dalam kitab-kitab aqidah. Barangsiapa yang mengingkarinya dengan alasan
haditsnya “Ahad” tidak menunjukkan qath’i atau menta’wil bahwa maksud
sebenarnya adalah manusia pada akhir zaman berpegang teguh dengan akhlak
Isa Al-Masih berupa kasih sayang dan lemah lembut atau manusia
menerapkan ruh syari’at dan intinya, maka semuaa itu adalah kebatilan
nyata yang bertentangan dengan aqidah para imam kaum muslimin, bahkan
nyata-nyata merupakan bentuk penentangan nash-nash shahih dan mutawatir,
kejahatan terhadap syari’at yang mulia, kelancangan sangat terhadap
Islam dan hadits Nabi, menuhankan hawa nafsu, keluar dari rel kebenaran
dan petunjuk, orang tersebut tidak memiliki ilmu mapan tentang syari’at
dan keimanan yang kuat serta pengagungan terhadap dalil dan hukum
Islam”. [33]
[5] Dinukil oleh Al-Munawi dalam Faidhul Qadir 5/573. (Lihat pula Al-Manarul Munif hal. 148 oleh Ibnu Qayyim dan Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an 4/64 oleh Al-Qurthubi.
[6] Penulis belum mendapatinya sendiri, tetapi risalah ini banyak dinukil oleh para ulama seperti Al-Kattani dalam Nadhmul Mutanatsir hal. 145-146, Shiddiq Hasan Khon dalam Al-Idha’ah hal. 113, Al-Adhim Abadi dalam Aunul Ma’bud 11/308 dan Syaikh Al-Albani dalam Qhisshah Dajjal wa Nuzul Isa hal. 25 dan lain sebagainya.
[10]
Terlepas apakah beliau telah kembali meralat ucapannya ini ataukah
tidak, namun yang terpenting bagi kita adalah mengingatkan umat dari
kesalahan pendapat beliau yang termuat dalam al-Fatawa. Kami katakana hal ini, sebab dalam risalahnya al-Bid’ah Asbabbuha wa Madharuha
hal. 30 beliau menguatkan hadits-hadits tentang turunnya Isa. Diperkuat
lagi oleh apa yang diceritakan DR. al-Buthi dalam kitabnya Kubra Yaqiniyyat al-Kauniyyah hal. 269: “Sebagian
para ulama Azhar yang dekat dengan Syaikh Syaltut meriwayatkan bahwa
beliau di akhir kehidupannya, di saat beliau terkena penyakit stroke di
rumahnya, dia membakar semua kertas dan kitab yang berisi
pendapat-pendapatnya yang ganjil, khususnya masalah turunnya Isa bin
Maryam, dan beliau bersaksi di hadapan mereka bahwa beliau telah
bertaubat kepada Allah dari keyakinan tersebut dan kembali memeluk
aqidah mayoritas kaum muslimin Ahli Sunnah wal Jama’ah”. (Dinukil dari muqaddimah Syaikh Ali Hasan al-Halabi dalam al-Fatawa al-Muhimmat
karya Syaikh Mahmud Syaltut hal. 13-15). Para ulama telah membantah
pendapat Syaikh Syaltut tentang pengingkarannya terhadap turunnya Isa,
seperti Syaikh Humud at-Tuwaijiri dalama Ithaf Jama’ah 3/128-136, Syaikh al-Albani dalam Muqaddimah Qishshatul Masih, dll. Dan Syaikh Al-Allamah Abdullah bin Ali bin Yabis memiliki sebuah kitab berjudul menarik “I’lamul Anam mi Mukhalafah Syaikh Azhar Syaltut lil Islam”. (Pemberitahuan kepada manusia tentang penyimpangan Syaikh Syaltut terhadap Islam).
[28] Syarh Shahih Muslim 18/383. Perlu diketahui bersama bahwa Imam Nawawi termasuk seorang ulama yang menguatkan bahwa hadits ahad menunjukkan zhan secara mutlak baik riwayat Bukhari Muslim maupun selainnya sebagaimana dalam A-Taqrib hal. 40 dan Syarah Shahih Muslim
1/26. Tetapi lihatlah wahai saudaraku bagaimana beliau tetap berhujjah
dengan hadits ini. Maka camkanlah hal ini baik-baik agar anda tidak
tertipu oleh filsafat yang dungu. Wallahu A’lam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar