Tiga macam jihad ini termaktub di dalam Al-Qur-an surat al-Hajj: 78, at-Taubah: 41, al-Anfaal: 72. [4]
Menurut al-Hafizh Ahmad bin ‘Ali
bin Hajar al-Asqalani (yang terkenal dengan al-Hafizh Ibnu Hajar
al-‘Asqalany, wafat th. 852 H) rahimahullahu: “Jihad menurut syar’i
adalah mencurahkan seluruh kemampuan untuk memerangi orang-orang
kafir.” [5]
Istilah Jihad digunakan juga
untuk melawan hawa nafsu, syaithan, dan orang-orang fasiq. Adapun
melawan hawa nafsu yaitu dengan belajar agama Islam (belajar dengan
benar), lalu mengamalkannya kemudian mengajarkannya. Adapun jihad
melawan syaithan dengan menolak segala bentuk syubhat dan syahwat yang
selalu dihiasi oleh syaithan. Jihad melawan orang kafir dengan tangan,
harta, lisan, dan hati. Adapun jihad melawan orang-orang fasiq dengan
tangan, lisan dan hati. [6]
Perkataan al-Hafizh Ibnu Hajar tersebut sesuai dengan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Berjihadlah melawan orang-orang musyrikin dengan harta, jiwa, dan lisan kalian.” [7]
Jihad menurut Syaikhul Islam
Ibnu Taimiyyah rahimahullahu adalah: “Mencurahkan segenap kemampuan
untuk mencapai apa yang dicintai Allah Azza wa Jalla dan menolak semua
yang dibenci Allah.” [8] Kata beliau: “Bahwasanya jihad pada hakikatnya
adalah mencapai (meraih) apa yang dicintai oleh Allah berupa iman dan
amal shalih, dan menolak apa yang dibenci oleh Allah berupa kekufuran,
kefasikan, dan maksiyat.” [9]
Definisi ini mencakup setiap
macam jihad yang dilaksanakan oleh seorang Muslim, yaitu meliputi
ketaatannya kepada Allah Azza wa Jalla dengan melaksanakan
perintah-perintah Allah dan menjauhkan larangan-larangan-Nya.
Kesungguhan mengajak (mendakwahkan) orang lain untuk melaksanakan
ketaatan, yang dekat maupun jauh, muslim atau orang kafir dan
bersungguh-sungguh memerangi orang-orang kafir dalam rangka menegakkan
kalimat Allah dan selain itu. [10]
Jihad tidak dikatakan jihad yang
sebenarnya melainkan apabila jihad itu ditujukan untuk mencari wajah
Allah, menegakkan kalimat-Nya, mengibarkan panji kebenaran,
menyingkirkan kebathilan dan menyerahkan segenap jiwa raga untuk
mencari keridhaan Allah. Akan tetapi bila seseorang berjihad untuk
mencari dunia, maka tidak dikatakan jihad yang sebenarnya.
Barangsiapa yang berperang untuk
mendapatkan kedudukan, memperoleh harta rampasan, menunjukkan
keberanian, mencari ketenaran (kehebatan), maka ia tidak akan
mendapatkan ganjaran dan tidak akan mendapat pahala. [11]
Jihad dalam Islam merupakan
seutama-utama amal. Allah memerintahkan jihad yang termaktub di dalam
Al-Qur-an, yaitu pada surat al-Baqarah: 190, 193, 216, Ali ‘Imran: 142,
an-Nisaa’: 95, at-Taubah: 73, al-Anfaal: 74, al-Hajj: 78, al-Furqaan:
52 dan ash-Shaaf: 11.
Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu berkata:
“Aku pernah bertanya kepada
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: ‘Amal apa yang paling utama?’
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ‘Shalat pada
waktunya.’ Aku bertanya lagi: ‘Kemudian apa?’ Beliau Shallallahu
‘alaihi wa sallam menjawab: ‘Berbakti kepada kedua orang tua.’ Aku
bertanya lagi: ‘Kemudian apa lagi?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa
sallam menjawab: ‘Jihad fii sabiilil-laah.’” [12]
Abu Dzarr Radhiyallahu ‘anhu
pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Amal
apa saja yang paling utama?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam
menjawab: “Beriman kepada Allah dan berjihad fii sabiilillaah...” [13]
‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu
‘anhuma berkata: “Sesungguhnya seutama-utama amal sesudah shalat
adalah jihad fii sabilillaah.” [14]
Ada seseorang bertanya kepada
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Wahai Rasulullah, ada
seseorang yang berperang karena mengharap ghani-mah (harta rampasan
perang), ada yang lain berperang supaya disebut namanya, dan yang lain
berperang supaya dapat dilihat kedudukannya, siapakah yang dimaksud
berperang di jalan Allah?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:
“Barangsiapa yang berperang supaya kalimat Allah tinggi, maka ia fii sabiilillaah (di jalan Allah).” [15]
HUKUM JIHAD
Hukum jihad adalah fardhu (wajib) dengan dasar firman Allah al-Qaahir:
“Diwajibkan
atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu
benci. Boleh jadi kamu membenci se-suatu, padahal ia amat baik bagimu,
dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk
bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.” [Al-Baqarah:
216]
Ayat ini merupakan penetapan
kewajiban jihad dari Allah Azza wa Jalla bagi kaum Muslimin, agar
mereka menghentikan kejahatan musuh dari wilayah Islam.
Muhammad bin Syihab az-Zuhri
(wafat th. 124 H) rahimahullahu berkata: ‘Jihad itu wajib bagi setiap
individu, baik yang dalam keadaan berperang maupun yang sedang duduk
(tidak ikut berperang). Orang yang sedang duduk, apabila dimintai
bantuan, maka ia harus memberikan bantuan, jika diminta untuk maju
berperang, maka ia harus maju perang, dan jika tidak dibutuh-kan, maka
hendaklah ia tetap di tempat (tidak ikut).’” [16]
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pada waktu Fat-hu Makkah (pembebasan kota Makkah):
“Tidak ada hijrah setelah Fat-hu
Makkah (pembebasan kota Makkah), akan tetapi yang ada adalah jihad dan
niat baik. Bila kalian diminta untuk maju perang, maka majulah!” [17]
Hukum jihad adalah fardhu
kifayah [18] dengan dalil-dalil dari Al-Qur'an dan As-Sunnah yang
shahih serta penjelasan ulama Ahlus Sunnah antara lain dari Al-Qur’an
surat an-Nisaa’: 95-96, at-Taubah: 122, al-Muzzamil: 20, dan beberapa
hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih.
Empat Imam Madzhab dan lainnya
telah sepakat bahwa jihad fii sabiilillaah hukumnya adalah fardhu
kifayah, apabila sebagian kaum Muslimin melaksanakannya, maka gugur
(kewajiban) atas yang lainnya. Kalau tidak ada yang melaksanakan-nya
maka berdosa semuanya. [19]
Para ulama menyebutkan bahwa jihad menjadi fardhu ‘ain pada tiga kondisi:
Pertama: Apabila pasukan
Muslimin dan kafirin (orang-orang kafir) bertemu dan sudah saling
berhadapan di medan perang, maka tidak boleh seseorang mundur atau
berbalik.
Kedua: Apabila musuh
menyerang negeri Muslim yang aman dan mengepungnya, maka wajib bagi
penduduk negeri untuk keluar memerangi musuh (dalam rangka
mempertahankan tanah air), kecuali wanita dan anak-anak.
Ketiga: Apabila Imam
meminta satu kaum atau menentukan beberapa orang untuk berangkat
perang, maka wajib berangkat. Dalilnya adalah surat at-Taubah: 38-39.
[20]
Jihad diwajibkan atas:
1. Setiap Muslim.
2. Baligh.
3. Berakal.
4. Merdeka.
5. Laki-laki.
6. Mempunyai kemampuan untuk berperang.
7. Mempunyai harta yang mencukupi baginya dan keluarganya selama kepergiannya dalam berjihad. [21]
Bagi kaum wanita tidak ada
jihad, jihad mereka adalah haji dan ‘umrah. Hal ini berdasarkan hadits
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari ‘Aisyah Radhiyallahu
‘anha, ketika beliau bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam:
“Wahai Rasulullah, apakah kaum
wanita wajib berjihad? Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
menjawab: ‘Ya, kaum wanita wajib berjihad (meskipun) tidak ada
peperangan di dalamnya, yaitu (ibadah) haji dan ‘umrah.’” [22]
_________
Foote Note
[1]. Lisaanul ‘Arab (II/395-396), Mu’jamul Wasiith (I/142).
[2]. Mufradaat Alfaazhil Qur-aan (hal. 208).
[3]. Lihat an-Nihaayah fii Ghariibil Hadiits (I/319) Ibnul Atsir.
[4]. Mufradaat Alfaazhil Qur-aan (hal. 208) oleh al-‘Allamah ar-Raghib al-Ashfahani (wafat th. 425 H) t.
[5]. Fat-hul Baari (VI/3) oleh al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani.
[6]. Ibid.
[7]. HR. Ahmad (III/124), an-Nasa-i (VI/7) dan al-Hakim (II/81) dari Sahabat Anas bin Malikz, dengan sanad yang shahih.
[8]. Majmuu’ Fataawaa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (X/192-193).
[9]. Ibid, (X/191).
[10].
Lihat al-Jihaad fii Sabiilillaah Haqiiqatuhu wa Ghaayatuhu (I/50) oleh
Syaikh ‘Abdullah bin Ahmad Qadiry, cet. II/Darul Manarah-Jeddah, th.
1413 H.
[11]. Fiq-hus Sunnah oleh
Sayyid Sabiq (III/40) dan al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil
‘Aziiz (hal. 481) oleh ‘Abdul ‘Azhim Badawi.
[12]. HR. Al-Bukhari (no. 527) dan Muslim (no. 85 (137)) dari Sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu 'anhu
[13]. HR. Muslim (no. 84 (136)).
[14]. HR. Ahmad (II/32) sanadnya shahih. Lihat Musnad Ahmad (no. 4873) dan Silsilatul Ahaadiits ash-Shahiihah (III/477).
[15].
HR. Al-Bukhari (no. 2810, 3126), Muslim (no. 1904) dan Ahmad (IV/392,
397, 402, 405, 417) dari Sahabat Abu Musa al-Asy’ari Radhiyallahu 'ahu
[16]. Tafsir Ibnu Katsir (I/270).
[17].
HR. Al-Bukhari (no. 2783, 2825, 3077), Muslim (no. 1353), Abu Dawud
(no. 2480), at-Tirmidzi (no. 1590), an-Nasa'i (VII/146) dan Ahmad
(I/266) dari Sahabat Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu 'anhuma, dan juga oleh
Muslim (no. 1864) dari ‘Aisyah Radhiyallahu 'anha.
[18].
Risaalatul Irsyaad ilaa Bayaanil Haqq fii Hukmil Jihaad (hal. 44-73)
oleh Syaikh Ahmad bin Yahya an-Najmi, cet. II/Daar Ulama' Salaf, th.
1414 H.
[19]. Lihat al-Jihad fii Sabiilillaah Haqiiqatuhu wa Ghaayatuhu (I/56) oleh Syaikh ‘Abdullah bin Ahmad Qadir.
[20].
Lihat Risaalatul Irsyaad ilaa Bayaanil Haqq fii Hukmil Jihaad (hal.
89-90) oleh Syaikh Ahmad bin Yahya an-Najmi, Taudhiihul Ahkaam Syarah
Bulughul Maram (VI/331-332) syarah ‘Abdullah bin ‘Abdirrahman
al-Bassam, cet. V/Maktabah al-Asadi, th. 1423 H.
[21].
Lihat al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil ‘Aziiz (hal. 487) oleh
‘Abdul ‘Azhim bin Badawi al-Khalafi, cet. III/Daar Ibnu Rajab, th. 1421
H.
[22]. HR. Al-Bukhari (no. 1520), Ibnu Majah (no. 2901) dan Ahmad (VI/165), lafazh ini miliki Ibnu Majah.
[Disalin dari kitab Syarah
Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah, Pasal "Ahlus Sunnah Wal Jama'ah
Menegakkan Jihad Fii Sabiilillaah Bersama Ulil Amri". Penulis Yazid bin
Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi'i, PO BOX 7803/JACC
13340A. Cetakan Ketiga Jumadil Awwal 1427H/Juni 2006M]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar