Senin, 31 Maret 2014

Membongkar Koleksi Dusta Syaikh Idahram 7 - BENARKAH KHAWARIJ MUNCUL DARI NAJD ARAB SAUDI??

Idahram membawakan beberapa hadits yang –menurut persangkaannya- menunjukkan bahwa khawarij munculnya dari Najd yang ada di timur kota Madinah, yaitu daerah tempat munculnya Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab, yang ini menunjukkan bahwa yang dimaksud oleh Nabi dengan kaum khawarij adalah kaum Salafi Wahabi.
Diantara hadits-hadits yang menunjukkan bahwa Najd adalah tempat munculnya fitnah adalah:
عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا وَفِي يَمَنِنَا قَالَ قَالُوا وَفِي نَجْدِنَا قَالَ قَالَ هُنَاكَ الزَّلَازِلُ وَالْفِتَنُ وَبِهَا يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ
Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata : Nabi pernah bersabda : “Ya Allah, berikanlah barakah kepada kami pada Syaam kami dan Yamaan kami”. Para shahabat : “Dan juga Najd kami ?”. Beliau bersabda : “Di sana muncul bencana dan fitnah. Dan di sanalah akan muncul tanduk setan. (Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 1037. Diriwayatkan juga pada no. 7094 dan Muslim no. 2095)

Dalam riwayat yang lain dari Ibnu ‘Umar :

أَنَّهُ سَمِعَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَهُوَ مُسْتَقْبِلَ الْمَشْرِقِ يَقُوْلُ "أَلآ إِنَّ الْفِتْنَةَ هَهُنَا. أَلآ إِنَّ الْفِتْنَةَ هَهُنَا، مِنْ حَيْثُ يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ".

Bahwasanya ia mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam - dimana beliau waktu itu menghadap ke timur -, beliau bersabda : “Ketahuilah, sesungguhnya fitnah datang dari sini, ketahuilah sesungguhnya fitnah datang dari sini, dari arah munculnya tanduk setan” (HR Muslim no 2095)
Dalam lafadh lain:
فَقَالَ بِيَدِهِ نَحْوَ الْمَشْرِقِ "الْفِتْنَةُ هَهُنَا مِنْ حَيْثُ يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ" قالها مرتين أو ثلاثا.
"Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda dengan berisyarat dengan tangannya ke arah timur : “Fitnah itu dari sini, dari arah munculnya tanduk setan”. Beliau mengatakannya dua atau tiga kali" (HR Muslim 2905)

Dalam riwayat yang lain : يُشِيرُ بِيَدِهِ نَحْوَ الْمَشْرِقِ "Beliau memberi isyarat dengan tangannya ke arah timur" (HR Muslim 2905)
Dalam hadits yang lain menunjukkan bahwa kau khawarij munculnya dari arah timur.
عَنْ يُسَيْرِ بْنِ عَمْرٍو، قَالَ: سَأَلْتُ سَهْلَ بْنَ حُنَيْفٍ، هَلْ سَمِعْتَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْكُرُ الْخَوَارِجَ، فَقَالَ: سَمِعْتُهُ وَأَشَارَ بِيَدِهِ نَحْوَ الْمَشْرِقِ «قَوْمٌ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ بِأَلْسِنَتِهِمْ لَا يَعْدُو تَرَاقِيَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ، كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ»
Dari Yusair bin 'Amr  berkata, "Aku bertanya kepada Sahl bin Hunaif (radhiallahu 'anhu), Apakah engkau mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menyebutkan tentang khawarij?". Maka Sahl berkata, "Aku mendengarnya –dan Nabi sambil mengisyaratkan tangannya ke arah timur- beliau bersabda, "Suatu kaum yang membaca Al-Qur'an dengan lisan-lisan mereka akan tetapi tidak melewati kerongkongan mereka, mereka keluar dari agama sebagaimana keluarnya anak panah dari badan hewan buruannya" (HR Muslim no 1068)
Riwayat-riwayat di atas menunjukkan bahwa akan muncul banyak fitnah dari arah timur kota Madinah, yaitu dari Najd, yaitu tempat munculnya tanduk syaitan. Dan diantara fitnah-fitnah tersebut yang datang dari timur adalah munculnya kaum khawarij.
Idahram berkesimpulan bahwa yang dimaksud dengan Najd dalam hadits di atas adalah Najd yang ada di Arab Saudi yaitu daerah sekitar kota Riyadh, tempat kelahirannya Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab. Dengan demikian berarti pantaslah jika Syaikh Muhammad bin Abdil Wahab adalah tokoh khawarij yang muncul dari arah timur kota Madinah.
Idahram berkata,
"Nabi saw. telah memberitahukan kepada umatnya bahwa kemunculan fitnah-fitnah yang menerpa umatnya berasal dari arah timur (baca : timur Madinah, yakni Najd di Saudi Arabia). Fitnah ini bukan hanya sekali, tetapi berkali-kali. Sebab, kata fitnah dalam hadits di atas menggunakan bentuk plural, yaitu fitan (fitnah-fitnah). Sejarah mencatat bahwa Musailamah ibnu Habib al-Kadzdzab, Sajah binti Al-Harits ibnu Suwaid at-Tamimah, Thalhah ibnu Khuwailid al-Asadi, dan orang-orang semisal mereka, semuanya berasal dari Najd, tanah kelahiran Muhammad ibnu Abdil Wahhab si pendiri sekte Salafy Wahabi. Bahkan para pembuat fitnah itu berasal dari kaum/kabilah yang sama dengan kabilahnya pendiri Wahabi, yaitu Bani Tamim" (Sejarah Berdarah… hal 150).
Idahram juga berkata,
"Mereka yang mengatakan bahwa Najd adalah "dataran tinggi"di Iraq, salah besar. Karena selain Iraq bukan dataran tinggi, juga karena Iraq berada di sebelah utara kota Madinah, dan tidak pernah ada nama daerah Najd di Iraq" (Sejarah Berdarah… hal 152)

SANGAAHAN

Pernyataan-pernyataan Idahram di atas adalah salah, bisa dilihat dari banyak sisi :

Pertama :  Untuk mengetahui yang dimaksud dengan Najd dalam hadits di atas maka metode yang terbaik adalah dengan melihat riwayat-riwayat hadits-hadits yang lain. Karena metode menafsirkan hadits yang terbaik adalah menafsirkan hadits dengan hadits-hadits yang lain.

Jika kita kembali memperhatikan hadits di atas :

عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا وَفِي يَمَنِنَا قَالَ قَالُوا وَفِي نَجْدِنَا قَالَ قَالَ هُنَاكَ الزَّلَازِلُ وَالْفِتَنُ وَبِهَا يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ

Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata : Nabi pernah bersabda : “Ya Allah, berikanlah barakah kepada kami pada Syaam kami dan Yamaan kami”. Para shahabat : “Dan juga Najd kami ?”. Beliau bersabda : “Di sana muncul bencana dan fitnah. Dan di sanalah akan muncul tanduk setan

Lantas kita bandingkan dengan riwayat yang lain sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ath-Thabaraani dari Ibnu Umar radhiallahu 'anhu:
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عليه وسلم قال : اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا، اللَّهُمَّ بَارِكْ فِي يَمَنِنَا، فَقَالَهَا مِرَاراً، فَلَمَّا كَانَ فِي الثَّالِثَةِ أَوِ الرَّابِعَةِ، قَالُوا: يَا رَسُوْلَ اللهِ! وَفِي عِرَاقِنَا؟ قَالَ: إِنّ بِهَا الزَّلاَزِلَ وَالْفِتَنَ، وَبِهَا يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ
Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Ya Allah, berikanlah barakah kepada kami pada Syaam kami dan Yamaan kami”. Beliau mengatakannya beberapa kali. Saat beliau mengatakan yang ketiga kali atau keempat, para shahabat berkata : “Wahai Rasulullah, juga pada 'Iraq kami ?”. Beliau bersabda : “Sesungguhnya di sana terdapat bencana dan fitnah. Dan di sanalah muncul tanduk setan” [Al-Mu’jamul-Kabiir, 12/384 no. 13422].
Hadits ini telah dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah, beliau telah mentakhrij hadits ini dengan menyebutkan seluruh jalan-jalan hadits ini. (Lihat Silsilah Al-Ahaadiits As-Shahihah 5/302-306, takhriij hadits no 2246)

Kedua : Dalam hadits juga disebutkan bahwa kaum khawarij keluar dari arah timur kota Madinah.
عَنْ يُسَيْرِ بْنِ عَمْرٍو، قَالَ: سَأَلْتُ سَهْلَ بْنَ حُنَيْفٍ، هَلْ سَمِعْتَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْكُرُ الْخَوَارِجَ، فَقَالَ: سَمِعْتُهُ وَأَشَارَ بِيَدِهِ نَحْوَ الْمَشْرِقِ «قَوْمٌ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ بِأَلْسِنَتِهِمْ لَا يَعْدُو تَرَاقِيَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ، كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ»
Dari Yusair bin 'Amr  berkata, "Aku bertanya kepada Sahl bin Hunaif (radhiallahu 'anhu), Apakah engkau mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menyebutkan tentang khawarij?". Maka Sahl berkata, "Aku mendengarnya –dan Nabi sambil mengisyaratkan tangannya ke arah timur- beliau bersabda, "Suatu kaum yang membaca Al-Qur'an dengan lisan-lisan mereka akan tetapi tidak melewati kerongkongan mereka, mereka keluar dari agama sebagaimana keluarnya anak panah tembus keluar dari badan hewan buruannya" (HR Muslim no 1068)

Rasulullah juga bersada

يَتِيهُ قَوْمٌ قِبَلَ الْمَشْرِقِ مُحَلَّقَةٌ رُءُوسُهُمْ
"Tersesat suatu kaum di arah timur, kepala-kepala mereka gundul" (HR Muslim no 1068)

Rasulullah juga bersabda,

«يَخْرُجُ نَاسٌ مِنْ قِبَلِ المَشْرِقِ، وَيَقْرَءُونَ القُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ، يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ، ثُمَّ لاَ يَعُودُونَ فِيهِ حَتَّى يَعُودَ السَّهْمُ إِلَى فُوقِهِ»، قِيلَ مَا سِيمَاهُمْ؟ قَالَ: " سِيمَاهُمْ التَّحْلِيقُ
"Akan keluar dari arah timur segolongan manusia yang membaca Al-Qur'an namun tidak sampai melewati batas kerongkongan mereka. Mereka keluar dari agama Islam seperti anak panah tembus keluar dari (badan) binatang buruannya. Mereka tidak pernah kembali sampai anak panah bisa kembali ke busurnya. Ciri-ciri mereka adalah mencukur habis rambutnya atau gundul" (HR Al-Bukhari no 7562)

Lebih jelas dalam riwayat berikut
عَنْ يُسَيْرِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ دَخَلْتُ عَلَى سَهْلِ بْنِ حُنَيْفٍ فَقُلْتُ حَدِّثْنِي مَا سَمِعْتَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فِي الْحَرُورِيَّةِ قَالَ أُحَدِّثُكَ مَا سَمِعْتُ لَا أَزِيدُكَ عَلَيْهِ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْكُرُ قَوْمًا يَخْرُجُونَ مِنْ هَاهُنَا وَأَشَارَ بِيَدِهِ نَحْوَ الْعِرَاقِ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ قُلْتُ هَلْ ذَكَرَ لَهُمْ عَلَامَةً قَالَ هَذَا مَا سَمِعْتُ لَا أَزِيدُكَ عَلَيْهِ
Dari Yusair bin 'Amr  berkata, "Aku menemui Sahl bin Hunaif (radhiallahu 'anhu) lalu aku berkata, "Sampaikanlah kepadaku hadits yang engkau dengar dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tentang Haruriyah". Sahl berkata, Aku akan menyampaikan kepada engkau hadits yang aku dengar dan aku tidak akan menambah-nambahi. Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menyebut suatu kaum yang keluar dari arah sini -dan Nabi mengisyaratkan tangannya ke arah Iraq- mereka membaca Al-Qur'an akan tetapi tidak melewati kerongkongan mereka, mereka keluar dari agama sebagaimana keluarnya anak panah tembus keluar dari badan hewan buruannya".

Aku (yaitu Yusair bin 'Amr) berkata, "Apakah Nabi menyebutkan suatu tanda tentang mereka?", Sahl berkata, "Ini yang aku dengar, aku tidak menambah-nambahinya" (HR Ahmad no 15977)

Sungguh benar sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ini, ternyata sejarah menyatakan bahwa kaum Khawarij keluar dan muncul di Iraq.

Ketiga : Kaedah menunjukkan bahwasanya perawi hadits lebih paham dengan apa yang dia riwayatkan, terlebih lagi jika perawi hadits tersebut sahabat atau tabi'in.

Imam Muslim meriwayatkan dalam shahihnya dari Ibnu Fudhail, ia berkata :

سَمِعْتُ سَالِمَ بْنَ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ، يَقُولُ: يَا أَهْلَ الْعِرَاقِ مَا أَسْأَلَكُمْ عَنِ الصَّغِيرَةِ، وَأَرْكَبَكُمْ لِلْكَبِيرَةِ سَمِعْتُ أَبِي عَبْدَ اللهِ بْنَ عُمَرَ يَقُولُ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «إِنَّ الْفِتْنَةَ تَجِيءُ مِنْ هَاهُنَا» وَأَوْمَأَ بِيَدِهِ نَحْوَ الْمَشْرِقِ «مِنْ حَيْثُ يَطْلُعُ قَرْنَا الشَّيْطَانِ» وَأَنْتُمْ يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابَ بَعْضٍ، وَإِنَّمَا قَتَلَ مُوسَى الَّذِي قَتَلَ، مِنْ آلِ فِرْعَوْنَ، خَطَأً فَقَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُ: {وَقَتَلْتَ نَفْسًا فَنَجَّيْنَاكَ مِنَ الْغَمِّ وَفَتَنَّاكَ فُتُونًا} [طه: 40]

Aku mendengar Salim bin ‘Abdillah bin ‘Umar berkata : “Wahai penduduk ‘Iraq, aku tidak bertanya tentang masalah kecil dan aku tidak mendorong kalian untuk masalah besar. Aku pernah mendengar ayahku, Abdullah bin ‘Umar berkata : Aku pernah mendengar Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa salam bersabda : ‘Sesungguhnya fitnah itu datang dari sini - ia menunjukkan tangannya ke arah timur - dari arah munculya dua tanduk setan’. Kalian saling menebas leher satu sama lain. Musa hanya membunuh orang yang ia bunuh yang berasal dari keluarga Fir'aun itu karena tidak sengaja. Lalu Allah 'azza wa jalla berfirman padanya : 'Dan kamu pernah membunuh seorang manusia, lalu kami selamatkan kamu dari kesusahan dan Kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan." (Thaahaa: 40)” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2905].

Salim bin ‘Abdillah bin ‘Umar mengecam penduduk ‘Iraaq karena fitnah yang mereka timbulkan dengan menyebut hadits kemunculan tanduk setan dari arah mereka. Ini menunjukkan bahwa Salim bin ‘Abdillah bin ‘Umar memahami arah timur yaitu arah Iraq.

Keempat : Para ulama juga memahami bahwa Iraq adalah sebelah timurnya Mekah.

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkali-kali menekankan makna "masyriq" (timur) dalam kitabnya "Fathul Bari", beliau berkata :

"Sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ((Puncak kekufuran di arah timur)), …. Ini menunjukkan akan parahnya kekafiran kaum majusi, karena kerajaan Persia dan orang-orang Arab yang tunduk kepada mereka berada di arah timur kota Madinah. Mereka berada di puncak kekerasan hati, kesombongan dan keangkuhan, hingga raja mereka merobek surat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam –sebagaimana akan datang penjelasannya pada tempatnya- dan fitnah-fitnahpun berkesinambungan dari arah timur" (Fathul Baari 6/352)

Ibnu Hajar juga berkata tatkala menjelaskan tentang hadits yang diriwayatkan oleh Usamah radhiallahu 'anhu

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَشْرَفَ عَلَى أُطُمٍ مِنْ آطَامِ الْمَدِينَةِ، ثُمَّ قَالَ: «هَلْ تَرَوْنَ مَا أَرَى؟ إِنِّي لَأَرَى مَوَاقِعَ الْفِتَنِ خِلَالَ بُيُوتِكُمْ، كَمَوَاقِعِ الْقَطْرِ»

"Bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melihat dari salah bangunan yang tinggi (benteng) di kota Madinah, lalu beliau berkata, "Apakah kalian melihat apa yang aku lihat?, Sesungguhnya aku benar-benar melihat tempat-tempat fitnah diantara rumah-rumah kalian, sebagaimana tempat-tempat turunnya hujan" (HR Al-Bukhari no 1878 dan Muslim no 2885)

"Hanyalah dikhususkan kota Madinah dengan hal itu (*munculnya fitnah-fintah) karena pembunuhan Utsman terjadi di Madinah, kemudian tersebarlah fitnah di negeri-negeri setelah itu. Perang Jamal, perang shiffin semuanya karena peristiwa pembunuhan Utsman. Perang di Nahrawaan disebabkan karena permasalahn tahkiim yang dilakukan di siffin. Seluruh peperangan yang terjadi di masa itu hanyalah buah dari pembunuhan Utsman atau karena sesuatu yang timbul akibat pembunuhan Utsman. Kemudian sebab utama terjadi pembunuhan Utsman adalah pencelaan terhadap para gubernur dan juga pencelaan terhadap Utsman yang telah mengangkat para gubernur tersebut. Dan yang pertama kali timbul hal itu dari Iraq, dan ia dari arah timur."  (Fathul Baari 13/13)

Ibnu Hajar juga berkata

"Selain Al-Khtthoobi berkata bahwasanya penduduk daerah timur tatkala itu orang-orang kafir, maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengabarkan bahwa fitnah akan datang dari arah timur, dan terjadilah sebagaimana yang dikabarkan oleh Nabi. Fitnah yang pertama kali terjadi dari arah timur dan hal itu terjadi karena perpecahan diantara kaum muslimin, dan hal ini merupakan perkara yang disukai dan digembirai syaitan. Demikian juga bid'ah tersebar dari arah tersebut.

Al-Khottoobi berkata, "Najd dari sisi timur, barang siapa yang di kota Madinah maka Najd nya adalah padang Iraq dan sekitarnya, dan itu adalah bagian timur penduduk Madinah. Dan Najd asalnya (*dalam bahasa) adalah setiap dataran yang tinggi, hal ini berbeda dengan "ghour" karena ghour adalah dataran rendah. Dan Tihamah seluruhnya dari ghour, dan kota Mekah termasuk Tihamah" demikian perkataan Al-Khotthoobi.

Dengan demikian diketahuilah kelemahan pendapat Ad-Dawudi yang menyatakan bahwa Najd (suatu tempat) di arah Iraq, karena ia menyangka bahwa Najd adalah suatu tempat khusus tertentu, padahal bukan demikian, seluruh tempat yang tinggi ditinjau dari daerah yang setelahnya dikatakan dataran tinggi tersebut Najd dan dataran rendah ghour" (Fathul Baari 13/47)

Ibnu Hajar juga berkata,

"Sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ((Keluar sekelompok manusia dari arah timur)), sebagaimana telah lalu… mereka adalah khawarij…dan awal kemunculan mereka di Iraq, dan Iraq berada di arah timur jika ditinjau dari kota Mekah Al-Musyarrofah" (Fathul Baari 13/536)

Kesimpulan dari penjelasan Ibnu Hajar diatas diantaranya :
  • Iraq merupakan timur kota Madinah
  •  Fitnah khawarij munculnya di Iraq, tatkala terpecah kaum muslimin
  • Najd artinya adalah dataran tinggi, dan ini adalah makna Najd menurut asli bahasanya.
  • Najd bukanlah nama suatu tempat khusus yang ada di Iraq, karenanya Ibnu Hajar membantah Ad-Dawudi yang menyangka ada suatu daerah yang Namanya Najd di Iraq
  • Jadi memang tidak ada nama daerah Najd di Iraq

Kelima : Dari penjelasan lalu maka kita pahami bahwasanya kata "masyriq" tidak berarti harus persis ke arah timur, akan tetapi kata "masyriq" juga mencakup arah timur laut. Karena posisi Iraq berada di arah timur laut kota Madinah.

Sebagai bukti bahwasanya kata "masyriq" mencakup arah timur laut, sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wa salam telah mengabarkan bahwa akan muncul Dajjaal dari arah timur. Rasulullah bersabda:

أَلَا إِنَّهُ فِي بَحْرِ الشَّأْمِ أَوْ بَحْرِ الْيَمَنِ، لَا بَلْ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ مَا هُوَ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ، مَا هُوَ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ، مَا هُوَ وَأَوْمَأَ بِيَدِهِ إِلَى الْمَشْرِقِ

"Ketahuilah, bahwasannya ia (Dajjaal) keluar dari laut Syaam atau laut Yaman. Tidak, bahkan ia keluar dari arah Timur. Ia dari arah Timur !, ia dari arah Timur !!”. Dan beliau mengarahkan tangannya ke Timur" (HR Muslim no. 2942).

Rasulullah juga bersabda dalam hadits yang lain yang diriwayatkan oleh Abu Hurairoh :

" يَأْتِي الْمَسِيحُ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ هِمَّتُهُ الْمَدِينَةُ حَتَّى يَنْزِلَ دُبُرَ أُحُدٍ، ثُمَّ تَصْرِفُ الْمَلَائِكَةُ وَجْهَهُ قِبَلَ الشَّامِ، وَهُنَالِكَ يَهْلِكُ "

“Al-Masiih (Ad-Dajjaal) datang dari arah Timur menuju kota Madinah dan berhenti di belakang bukit Uhud. Kemudian malaikat memalingkan mukanya ke arah Syaam dan ia binasa di sana” (HR Muslim no. 1380).

Ternyata yang dimaksud dengan arah timur tempat kemunculan dajjal adalah di daerah Khuraasaan, sebagaimana dijelaskan dalam riwayat berikut :

عَنْ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ، قَالَ: حَدَّثَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " الدَّجَّالُ يَخْرُجُ مِنْ أَرْضٍ بِالْمَشْرِقِ، يُقَالُ لَهَا: خُرَاسَانُ، يَتْبَعُهُ أَقْوَامٌ كَأَنَّ وُجُوهَهُمُ الْمَجَانُّ الْمُطْرَقَةُ "

dari Abu Bakr Ash-Shiddiiq, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Dajjaal akan keluar dari bumi Timur, yang bernama : Khuraasaan. Ia akan diikuti oleh beberapa kaum, dimana wajah mereka itu seperti perisai yang ditambal” (HR At-Timidzi no. 2237, Ibnu Majah no 4072, Ahmad no 12, dan Al-Hakim no 8608, dan dishahihkan oleh Al-Hakim dan disepakati oleh Adz-Dzahabi, silahkan lihat takhrij hadits ini secara luas di Silasilah Al-Ahaadiits As-Shahihah 4/165 no 1591).

Khuraasaan adalah negeri yang letaknya tidak pas di arah timur mata angin kota Madiinah, namun ia terletak di arah timur laut kota Madinah sebagaimana ‘Iraq.

Dalam hadits yang lain disebutkan bahwa Dajjal muncul dari Asbahan, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda

وَإِنَّهُ يَخْرُجُ فِي يَهُودِيَّةِ أَصْبَهَانَ حَتَّى يَأْتِيَ الْمَدِينَةَ فَيَنْزِلُ فِي نَاحِيَتِهَا

"Dan sesungguhnya Dajjal akan keluar di Yahudi Asbahan hingga ia mendatangi kota Madinah, lalu iapun berhenti di pinggiran Madinah" (HR Ahmad no 24467, Ibnu Hibban no 1905 dan dishahihkan oleh Al-Haitsami dalam Majma' Az-Zawaid 7/651)

Dan semisal hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dengan lafal

يَتْبَعُ الدَّجَّالَ مِنْ يَهُودِ أَصْبَهَانَ، سَبْعُونَ أَلْفًا عَلَيْهِمُ الطَّيَالِسَةُ

"Dajjal diikuti oleh 70 ribu Yahudi Asbahan, mereka memakai thoyalisah (semacam pakaian yang diletakan di bahu)" (HR Muslim no 2944)

Al-Hafiz Ibnu Hajar berkata :

وَأَمَّا مِنْ أَيْنَ يَخْرُجُ؟ فَمِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ جَزْمًا، ثُمَّ جَاءِ فِي رِوَايَةٍ أَنَّهُ يَخْرُجُ مِنْ خُرَاسَان، أَخْرَجَ ذَلِكَ أَحْمَدُ وَالْحَاكِمُ مِنْ حَدِيْثِ أَبِي بَكْرٍ وَفِي أُخْرَى أَنَّهُ يَخْرُجُ مِنْ أَصْبَهَان أَخْرَجَهَا مُسْلِمٌ

"Adapun dari mana keluarnya Dajjal?, maka keluarnya pasti dari arah timur, kemudian dalam sebuah riwayat bahwasanya Dajjal keluar dari Khurosan, sebagaimana riwayatnya dikeluarkan oleh Imam Ahmad dan Al-Hakim dari hadits Abu Bakr As-Shiddiq, dan dalam riwayat yang lain bahwasanya Dajjaal keluar dari Ashbahaan, riwayatnya dikeluarkan oleh Muslim" (Fathul Baari 13/91)

Padahal Asbahan terletak di timur laut kota madinah, dan tidak persis ke arah timur, sebagaimana juga Iraq (tempat munculnya Khawarij), ternyata juga di timur laut Madinah dan tidak persis di arah timur, akan tetapi Nabi menyatakan dua tempat ini (Iraq dan Asbahan) adalah di masyriq (timur) kota Madinah. Perhatikan peta di bawah ini (sumber : http://maps.google.co.id/, kata kunci kufah)



Keenam : Para ahli bahasa Arab juga menyatakan bahwa Najd dalam bahasa Arab artinya dataran tinggi.

Al-Azhari (wafat 370 H) berkata

قال ابن شميل: النَّجْدُ: قفاف الأرض وصلابتها، وما غلظ منها وأشرف، والجماعة: النَّجَادُ، ولا يكون إلا قفاًّ أو صلابة من الأرض في ارتفاع مثل الجبل مُعترضاً بين يديك، يردُّ طرفك عمَّا وراءه

"Ibnu Syumail berkata, "An-Najd : Tanah kering dan keras, tanah yang keras dan tinggi. Pluralnya An-Najaad, dan tidak dikatakn An-Najd kecuali dataran kering dan keras serta tinggi, seperti gunung yang membentang dihadapanmu, ia menghalangi pandanganmu dari apa yang ada di belakangnya" (Tahdziib Al-Lughoh 10/662)

Ibnu Faaris (wafat 395 H) berkata :

وَالنَّجْدُ مُرْتَفَعٌ مِنَ الأَرْضِ

(Mu'jam Maqooyiis Al-Lughoh 4/401)

Ibnul Atsiir (wafat 606 H) berkata :

والنَّجْد : ما ارْتَفع من الأرض وهو اسمٌ خاصٌّ لما دون الحجاز ممَّا يَلي العِراق

"Dan An-Najd adalah dataran tinggi, dan ia adalah nama khusus untuk daerah setelah Hijaz (*Mekah-Madinah) ke arah Iraq" (An-Nihaayah fi Ghoriib Al-Hadiits 5/19)

Al-Fairuz Aabadi (wafat 817 H) berkata:

النَّجْدُ : ما أشْرَفَ من الأرضِ

"An-Najd adalah dataran tinggi' (Qoomuus Al-Muhiith 1/337)

Dari perkataan para Ahli bahasa Arab ini kita mengetahui dengan pasti bahwa An-Najd secara bahasa adalah dataran tinggi.

Karenanya terdapat banyak Najd di dunia ini, yang berarti dataran tinggi, sebagaimana disebutkan oleh Yaquut bin Abdillah Al-Hamawi Ar-Rumi Al-Baghdadi dalam kitabnya Mu'jam Al-Buldaan, bahwasanya ada Najd Barq, Najd Khool, Najd 'Ufr, Najd 'Uqoob, Najd Kabkab, Najd Yaman, dll (Lihat Mu'jam Al-Buldaan 5/265)

Ketujuh : Terbukti kalau Iraq memang tempat munculnya fitnah-fitnah, diantara fitnah-fitnah tersebut:
  • Terbunuhnya Al-Husain bin Ali bin Abi Thoolib di Karbala

Tatkala ada penduduk Iraq yang bertanya kepada Ibnu Umar radhiallahu 'anhu tentang hukum membunuh seekor lalat tatkala sedang ihrom, maka Ibnu Umar berkata

أَهْلُ العِرَاقِ يَسْأَلُونَ عَنِ الذُّبَابِ، وَقَدْ قَتَلُوا ابْنَ ابْنَةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

"Penduduk Iraq mereka bertanya tentang (hukum membunuh) lalat, sementara mereka telah membunuh putra dari putri Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam !!" (HR Al-Bukhari no 3753)
  • Munculnya Khawarij juga di Iraq, sebagaimana sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam :

قَوْمًا يَخْرُجُونَ مِنْ هَاهُنَا وَأَشَارَ بِيَدِهِ نَحْوَ الْعِرَاقِ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ قُلْتُ هَلْ ذَكَرَ لَهُمْ عَلَامَةً قَالَ هَذَا مَا سَمِعْتُ لَا أَزِيدُكَ عَلَيْهِ

"Suatu kaum yang keluar dari arah sini -dan Nabi mengisyaratkan tangannya ke arah Iraq- mereka membaca Al-Qur'an akan teapi tidak melewati kerongkongan mereka, mereka keluar dari agama sebagaimana keluarnya anak panah dari badan hewan buruannya".(HR Ahmad no 15977)
  • Munculnya Mukhtaar bin Abi 'Ubaid Ats-Tsaqofi yang mengaku sebagai nabi
  • Fitnahnya Al-Hajjaaj bin Yusuf Ats-Tsaqofi yang banyak menumpahkan darah kum muslimin.
  • Di Baghdad mulai munculnya fitnah Kholq Al-Qur'an, yaitu di masa Imam Ahmad, sehingga Imam Ahmad dipenjara dan disiksa. Para ulama telah sepakat bahwa aqidah Al-Qur'an adalah makhluk merupakan aqidah kufur.
  • Iraq dahulu merupakan sarangnya Syi'ah Rofidoh, bahkan hingga saat ini
  • Yang pertama kali mengingkari taqdir adalah Ma'bad Al-Juhani di Bashroh di Iraq

عَنْ يَحْيَى بْنِ يَعْمَرَ، قَالَ: كَانَ أَوَّلَ مَنْ قَالَ فِي الْقَدَرِ بِالْبَصْرَةِ مَعْبَدٌ الْجُهَنِيُّ

Dari Yahya bin Ya'mar berkata, "Pertama kali yang menolak taqdir dalah Ma'bad Al-Juhani di Bahsroh (*salah satu kota di Iraq)" (HR Muslim no 1)

  • Fitnah Mu'tazilah
  • Fitnah Murji'ah juga pertama kali muncul di Iraq
  • Dan di Iraqlah mengalir darah-darah kaum muslimin yang terbunuh oleh bala tentara kaum Tatar

Mahmuud Syukriy Al-Aaluusiy Al-‘Iraaqiy rahimahullah berkata :

 “Bukan perkara yang mengherankan bahwa negeri ‘Iraq sumber setiap fitnah dan bencana. Kaum muslimin di sana senantiasa ditimpa musibah demi musibah. Orang-orang Haruuraa’ (Khawaarij) dan apa yang mereka lakukan terhadap Islam tidaklah samar lagi (akan kerusakannya). Begitu juga dengan fitnah Jahmiyyah yang telah dikafirkan mayoritas ulama salaf, hanya keluar dan lahir dari bumi ‘Iraq. Mu’tazillah dan apa yang mereka katakan kepada Al-Hasan Al-Bashriy serta lima pokok keyakinan mereka yang masyhur yang menyelisihi Ahlus-Sunnah, dan ahlul-bid’ah dari kalangan Shufiyyah yang berpendapat akan adanya fanaa’ dalam tauhid ar-rububiyyah yang bermaksud menggugurkan beban perintah dan larangan; juga muncul di Bashrah (‘Iraq). Lalu Raafidlah dan Syi’ah serta apa yang terdapat pada mereka dari sikap ghulluw (berlebih-lebihan) terhadap ahlul-bait, perkataan buruk mereka terhadap Al-Imaam ‘Aliy dan seluruh imam-imam, serta caci-maki mereka terhadap para pembesar shahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam; maka semuanya ini ma’ruuf lagi tersiar” (Ghayaatul-Amaaniy, 2/180).

Kedelapan : Jika kita membaca tentang sejarah Islam tentang fitnah-fitnah yang terjadi di dunia Islam, kita akan dapati daerah Najd Arab Saudi jauh dari tempat-tempat munculnya fitnah. Di zaman para sahabat –terutama zaman dua khalifah, Utsman dan Ali bin Abi Tholib-, muncul banyak fitnah, dan semua fitnah muncul di Iraq, Syam, dan Mesir. Tidak ada fitnah yang lebih besar dari terbunuhnya Umar bin Al-Khotthob, Utsman bin'Affan, dan Ali bin Abi Tholib. Termasuk fitnah yang besar adalah peperangan yang terjadi antara Ali dan Mu'awiyah, demikian juga perang jamal, juga perang antara Ali dan Khawarij. Dan jika kita mengecek sejarah Islam dari zaman para sahabat hingga saat ini maka kita akan dapati kebanyak fitnah besar yang timbul adalah di daerah Iraq, Mesir dan Syam, tidak kita dapatkan hal tersebut terjadi di Najd Arab Saudi.

Kesembilan : Kalaupun seandainya dakwah salafiyah (dakwah salafi wahabi) yang ada sekarang adalah dakwah yang sesat, maka apakah fitnahnya lebih besar dibandingkan dengan fitnah ilhad, kristenisasi, kefasikan, dan kefujuran yang muncul sekarang di negeri-negeri yang lain selain di Najd Arab Saudi??. Apakah pantas kita memvonis bahwa hadits-hadits tentang munculnya fitnah-fitnah itu adalah di Najd Arab Saudi??, sementara negeri-negeri lain tenggelam dalam tersebarnya kekufuran, liberalisme, kefasikan, kristenisasi, dll??!!

Jika memang dakwah Salafy Wahabi dianggap sesat, maka tidak bisa dipungkiri, bahwasanya aqidah-aqidah yang rusak dari firqoh-firqoh yang sesat banyak muncul di negeri-negeri Islam, tidak sebanding dengan dakwah Salaf Wahabi

Terlebih lagi suku kata "fitnah" seringnya digunakan untuk mengungkapkan terjadinya pertumpahan darah dan peperangan, maka apakah telah terjadi perang besar-besaran dan pertumpahan darah besar-besaran di Najd Arab Saudi bila dibandingkan pertumpahan darah dan peperangan yang sering terjadi di Iraq??!!. Kita tidak mengingkari adanya peperangan kecil-kecilan yang terjadi di Najd Arab Saudi terutama di zaman Raja Abdul Aziz, akan tetapi itu merupakan hal yang wajar, dan semua negara mengalami hal seperti ini.

Tatkala mengomentari hadits tentang munculnya tanduk syaitan dari arah timur, maka Ibnu Abdil Barr berkata :

"Maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengabarkan tentang datangnya fitnah-fitnah dari arah timur, dan demikianlah kebanyakan fitnah muculnya dari timur dan terjadi di timur, seperti perang jamal, perang sifin, terbunuhnya Al-Husai, dan fitnah-fitnah yang lainnya yang panjang jika diceritakan, yaitu fitnah-fitnah yang terjadi setelah itu di Iraq dan Khurosan hingga hari ini. Memang terjadi fitnah-fitnah di negeri-negeri Islam, akan tetapi fitnah yang terjadi di timur selalu lebih banyak" (At-Tamhiid 17/12)

Kesepuluh : Munculnya fitnah di suatu tempat, tidaklah melazimkan rusaknya aqidah di tempat tersebut.

Dari Usamah radhiallahu 'anhu

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَشْرَفَ عَلَى أُطُمٍ مِنْ آطَامِ الْمَدِينَةِ، ثُمَّ قَالَ: «هَلْ تَرَوْنَ مَا أَرَى؟ إِنِّي لَأَرَى مَوَاقِعَ الْفِتَنِ خِلَالَ بُيُوتِكُمْ، كَمَوَاقِعِ الْقَطْرِ»

"Bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melihat dari salah satu bangunan yang tinggi (benteng) di kota Madinah, lalu beliau berkata, "Apakah kalian melihat apa yang aku lihat?, Sesungguhnya aku benar-benar melihat tempat-tempat fitnah diantara rumah-rumah kalian, sebagaimana tempat-tempat turunnya hujan" (HR Al-Bukhari no 1878 dan Muslim no 2885)

Bahkan dalam hadits ini Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menyamakan fitnah yang terjadi di kota Madinah ibarat tempat-tempat jatuhnya air hujan. Kesamaannya dari sisi banyaknya fitnah tersebut dan juga tersebarnya fitnah tersebut (lihat penjelasan Imam An-Nawawi di Syarh Shahih Muslim 18/7-8).

Lantas apakah terjadinya fitnah-fitnah di kota Madinah menunjukkan akan rusaknya aqidah penduduk kota Madinah??!!

Kesebelas : Kalaupun hadits-hadits tentang fitnah menunjukkan akan rusaknya aqidah secara umum maka hal ini tidaklah menunjukkan bahwa rusaknya aqidah tersebut akan secara terus menerus dan berkesinambungan.

Penduduk Najd Arab Saudi sebelum datangnya Nabi adalah kaum musyrikin sebagaimana penduduk daerah-daerah yang lain, dan setelah wafatnya Nabi shallallahu 'alahi wa sallam sebagian penduduk Najd Arab Saudi menjadi kafir dan mengikuti Musailamah Al-Kadzdzab. Dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab baru berumur kurang lebih dua abad, lantas bukankah sebelum munculnya dakwah wahabi di Najd maka penduduk Najd sama seperti penduduk daerah-daerah yang lainnya. Dan menurut para penentang dakwah wahabi bahwasanya penduduk Najd -dari zaman tewasnya Musailamah hingga munculnya dakwah wahabi- semuanya dalam keadaan di atas petunjuk dan terbebaskan dari fitnah. Jika perkaranya demikian, maka apakah mereka tetap nekat memvonis hadits-hadits fitnah kepada kota Najd Arab Saudi??!!
bersambung...







Membongkar Koleksi Dusta Syaikh Idahram 6 - CIRI-CIRI KHAWARIJ YANG DIPAKSAKAN OLEH idahram HARUS COCOK DENGAN CIRI-CIRI KAUM SALAFY WAHABI

CIRI-CIRI KHAWARIJ YANG DIPAKSAKAN OLEH idahram HARUS COCOK DENGAN CIRI-CIRI KAUM SALAFY WAHABI

PERTAMA : Sabda Nabi tentang sifat khawarij "Kaum Yang Muda Usianya"

Idahram berkata :
((Usia kaum itu "berumur muda"

Poin ini bisa memiliki banyak maksud, diantaranya adalah (*1) usia pergerakan dakwahnya masih muda, atau (*2) ajaran yang dibawanya adalah ajaran muda (baru) yang tidak sama dengan sekte-sekte sebelumnya. (*3) Atau ilmunya sedikit dan belum matang sehingga dikatakan masih muda. (*4) Atau cara berpikirnya pendek dan sempit disebabkan oleh pengalamannya yang masih muda.

Semua kriteria ini bisa masuk ke dalam sekte wahabi)). Demikian perkataan Idahram dalam bukunya hal 143.


Bantahan terhadap igauan Idahram ini dari 2 sisi :

Pertama : Igauan Idahram menyelishi tafsiran para ulama.

Kalau kita kembali kepada para ulama yang menjelaskan sabda Nabi "Kaum yang muda usianya", maka akan kita dapati bahwa seluruh ulama sepakat bahwa maksudnya adalah "berusia muda", yaitu kaum khawarij pengikutnya adalah para pemuda.

Ibnu Hajar berkata:

"Dan Al-Asnaan adalah jamak (plural) dari kata tunggal sin, dan maksudnya adalah umur/usia, dan maksudnya bahwasanya khawarij itu para pemuda" (Fathul Baari 12/287). Dan para ulama telah sepakat dengan tafsiran ini karena itulah makna dzohir/lahiriah dari lafal hadits ini. Lihat juga penjelasan Imam An-Nawawi di Al-Minhaaj Syarh Shahih Muslim (7/160), Al-Qoodhi 'Iyaadh Al-Maliki di Masyaariqul Anwaar 'alaa Sihaah Al-Atsar (1/183), Al-Qostholaani di Irsyaad As-Saari (10/171), Al-Munaawi As-Syafii di Faidul Qodiir (4/226), Al-'Adziim Aabadi di 'Aunul Ma'buud (13/80), Al-Mubaarokfuuri di Tuhfatul Ahwadzi (6/353).

Tidak seorangpun dari mereka yang menafsirkan makna "kaum berumur muda" dengan 4 tafsiran yang disebutkan oleh Idahram. Saya tidak tahu Idahram ini mengambil tafsiran lafal hadits dari mana?? Apakah karangan ia sendiri??!!!.

Idahram berusaha lari dan kabur dari tafsiran ulama tentang berusia muda, karena dia sadar bahwasanya kaum Salafy Wahabi bukanlah kaum pemuda sebagaimana halnya dengan kaum khawarij, sehingga akhirnya Idahram berusaha mentakwil-takwil sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dengan penafsirannya sendiri !!!.

Kedua : Tafsiran-tafsiran (baca : igauan-igauan) Idahram tersebut pun menyelisihi kenyataan yang ada.

Igauan (1) : Usia dakwahnya masih muda !!!

Ini tentu menyelisihi kenyataan, bahkan usia dakwah Salafy Wahabi sudah sangat tua. Bukankah Idahram menyebutkan bahwa Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab telah mengambil dakwahnya dari Ibnu Taimiyyah??. Hal ini berarti dakwah salafy sudah berusia sekitar 6 abad??, bukankah ini sudah cukuk lama wahai Idarhram??!

Igauan (2) : Ajaran yang dibawanya adalah ajaran muda (baru) yang tidak sama dengan sekte-sekte sebelumnya.

Tentunya dakwah salafi wahabi akan berbeda dengan sekte-sekte sesat sebelumnya, seperti syi'ah, khawarij, mu'tazilah, murjiah, jahmiyah, asya'iroh, dll. Karena memang dakwah salafy adalah menyeru untuk kembali kepada pemahaman para salaf yang menyelisihi pemahaman sekte-sekte tersebut.

Igauan (3) Ilmunya sedikit dan belum matang sehingga dikatakan masih muda

Sungguh aneh dan lucu karena menyelisihi kenyataan yang ada. Orang-orang awam pun paham jika ilmu para dai salafi jauh lebih 'ilmiiyah dan penuh kejujuran dan didasari oleh Al-Qur'an dan As-Sunnah serta ditopang dengan perkataan para ulama. Adapun dakwah idahram…penuh kedustaan, kengawuran…, menafsirkan dengan hawa nafsu sendiri…!!!

Igauan (4) Cara berpikirnya sempit disebabkan pengalamannya yang masih muda

Memang benar bahwa dakwah salafy adalah sempit karena hanya membatasi umat islam kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah dengan pemahaman para salaf. Adapun dakwah Idahram maka sangat terbuka, sampai-sampai syi'ah yang mengkafirkan para sahabatpun diterima !!!??



KEDUA : Ciri-Ciri Khawarij Salafi Wahabi Kepala Plontos

Idahram berkata :
((Ciri-ciri mereka bercukur (plontos), celana gantung, dan memecah belah umat.
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «يَخْرُجُ نَاسٌ مِنْ قِبَلِ المَشْرِقِ، وَيَقْرَءُونَ القُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ، يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ، ثُمَّ لاَ يَعُودُونَ فِيهِ حَتَّى يَعُودَ السَّهْمُ إِلَى فُوقِهِ»، قِيلَ مَا سِيمَاهُمْ؟ قَالَ: " سِيمَاهُمْ التَّحْلِيقُ - أَوْ قَالَ: التَّسْبِيدُ - ". وفي صحيح مسلم وصحيح ابن حبان فيهما زيادة "يَخْرُجُوْنَ فِي فُرْقَةٍ مِنَ النَّاسِ" (رواه البخاري ومسلم والنسائي وابن ماجه وأبو داود وأحمد وغيرهم)
Dari Abu Sa'id Al-Khudri r.a. dari Nabi Saw. bersabda, "Akan keluar dari arah timur segolongan manusia yang membaca Al-Qur'an namun tidak sampai melewati batas kerongkongan mereka. Mereka keluar dari agama Islam seperti anak panah tembus keluar dari (badan) binatang buruannya. Mereka tidak pernah kembali sampai anak panah bisa kembali ke busurnya. Ciri-ciri mereka adalah mencukur habis rambutnya atau gundul".

Dalam shahih Muslim dan Shahih Ibnu Hibban ditambahkan kalimat, "Mereka keluar dalam perpecahan manusia" (HR. Bukhari, Muslim, Nasa'i, Ibnu Majah, Abu Dawud, Ahmad, dan lainnya)…))
Idahram berkata,
"Rambut kepala mereka gundul/plontos. Ini adalah teks hadits yang sangat jelas tertuju kepada faham Muhammad bin Abdil Wahab. Semasa hidupnya dahulu, dia telah memerintahkan setiap pengikutnya untuk mencukur habis rambut kepalanya sebelum mengikuti fahamnya. Ibnu Abdil Wahab mengkalim bahwa, orang-orang Islam yang masih dalam keadaan musyrik atau kafir sebelum mengikuti ajaran yang dibawanya. Oleh karena itu, mereka semua harus memberishkan sisa-sisa rambut kekafiran mereka itu dengan mencukurnya. Itulah fakta sejarah yang telah terjadi ketika Ibnu Abdil Wahab masih hidup dalam upaya 'mengislamkan' kembali umat Islam yang telah kafir dan musyrik menurut versi mereka. Hal seperti ini tidak pernah terjadi pada aliran-aliran sesat lain sebelumnya, dari sejak zaman Rasulullah Saw." (Sekte Berdarah…hal 167)
Sanggahan terhadap pernyataan Idahram di atas dari beberapa sisi,

Pertama : Tentunya setiap orang yang waras dan matanya masih belum rabun mengetahui bahwasanya ini jelas-jelas merupakan kedustaan. Apakah para ulama salafy wahabi (bahkan demikian juga penduduk awam salafy wahabi) hobinya gundul??, kemana-kemana selalu menampakkan kegundulan mereka??!!.

Demikian juga para pendukung dakwah salafy wahabi di Indonesia apakah semuanya berkepala plontos??!. Apakah ada satu saja dari sekian banyak pendukung dakwah salafy wahabi yang berpemahaman demikian??!!.

Kedua : Justru pernyataan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwa "ciri khas kaum khawarij berkepala plontos" merupakan dalil yang sangat kuat bahwasanya kaum salafy wahabi bukanlah khawarij. Karena tidak seorangpun dari mereka yang hobi plontos !!!.
Sungguh Idahram terlalu memaksa-maksakan agar kaum salafy wahabi harus menjadi khawarij, sehingga seluruh sifat-sifat khawarij yang disebutkan Nabi harus sepadan dengan ciri-ciri kaum wahabi.

Ketiga : Idahram telah melakukan tipu muslihat, dengan memotong perkataan ulama.
Untuk menguatkan pernyataan bahwa ciri-ciri khawarij salafy wahabi adalah plontos maka Idahram menukil dari salah seorang pengikut dakwah Salafy Wahabi, Idahram berkata,
((Abdul Aziz ibnu Humaid, salah seorang dari keturunan pendiri Salafy Wahabi (Muhammad bin Abdul Wahab) mengakui kenyataan itu. Ia mengatakan :
فالذي تدل على الأحاديث ، النهي عن حلق بعض وترك بعض، فأما تركه كله فلا بأس به، إذا أكرمه الإنسان كما دلت عليه السنة النبوية. وأما حديث كليب ، فهو يدل على الأمر بالحلق عند دخوله في الإسلام إن صح الحديث .... لأن ترك الحلق ليس منهيا عنه، وإنما نهى عنه ولي الأمر؛ لأن الحلق هو العادة عندنا، ولا يتركه إلا السفهاء عندنا، فنهى عن ذلك نهي تنزيه لا نهي تحريم سدا للذريعة؛ ولأن كفار زماننا لا يحلقون فصار في عدم الحلق تشبها بهم
"Yang ditunjukkan oleh hadis-hadis itu adalah larangan untuk menggundul sebagian kepala dan membiarkan sebagian yang lainnya. Tidak menggundul rambut secara keseluruhan pun tidak masalah, jika orang-orang memandangnya baik sebagaimana sunnah Nabi menyatakan itu. Adapun hadis Kulaib menunjuk kepada perintah gundul ketika seseorang masuk Islam, jika hadis itu shahih…Karena menggundul kepada adalah kebiasaan kami, dan tidak pernah ditinggalkan kecuali oleh orang-orang bodoh kami. Maka larangan tidak menggundul ini adalah larangan yang bersifat anjuran, bukan larangan haram, sebagai bentuk antisipasi. Sebab orang-orang kafir di zaman kami tidak menggundul kepalanya, sehingga tidak gundul itu adalah menyerupai orang-orang kafir (yang itu diharamkan)….)).
Demikian perkataan Idahram dalam bukunya hal 168-169.
Hal ini merupakan kedustaan, akan tetapi kedustaan dengan cara yang halus, sebuah tipu muslihat. Marilah kita melihat langsung teks asli (scan) dari pernyataan ulama tersebut sebagaimana termaktub dalam kitab Ad-Durar As-Saniyyah 4/152

Terjemahan yang benar dari teks aslinya adalah sebagai berikut :
"Anak-anak Keturunan Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab dan syaikh Muhammad bin Naashir ditanya tentang hukum mencukur sebagian rambut kepada, dan membiarkan sebagian yang lain?

Maka mereka menjawab : Yang ditunjukkan oleh hadits-hadits yaitu larangan mencukur sebagian rambut kepala dan membiarkan sebagian yang lain. Adapun meninggalkan rambut kepala seluruhnya (*tidak dicukur sama sekali) maka tidak mengapa jika seseorang memuliakan rambutnya, sebagaimana ditunjukkan oleh sunnah yang shahih. Dan adapun hadits Kulaib maka menunjukkan akan perintah untuk mencukur (gundul) tatkala ia masuk Islam –hal ini jika haditsnya shahih-, dan tidak menunjukan bahwa senantiasa botak adalah sunnah. Dan adapun memberi ta'ziir (hukuman) kepada orang yang tidak gundul dan mengambil hartanya maka hal ini tidak diperbolehkan, yang pelakunya (*yang menta'zir dan mengambil harta dari yang tidak gundul-pen) dilarang untuk melakukannya, karena meninggalkan mencukur rambut bukanlah perkara yang dilarang. Hanyalah yang melarang untuk meninggalkan botak yaitu waliyul amr, karena mencukur botak adalah adat kami, dan tidak ada yang meninggalkan cukur botak kecuali orang-orang yang bodoh, maka hal ini dilarang dengan larangan tanziih (*yaitu hukumnya hanya makruh) dan bukan larangan tahrim (*yaitu bukan karena haram), sebagai tindakan preventive." (Ad-Duror As-Saniyyah 4/152)

Dari sini kita mengetahui kedustaan Idahram dari dua sisi :

Pertama ; Ia menghapus perkataan yang kami garis bawahi (dalam terjemahan yang benar), padahal terjemahan tersebut menunjukkan kebalikan apa yang dituduhkan oleh Idahram. Sangat jelas bahwa mereka (keturunan Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab) dengan tegas menyatakan bahwa:

-         Selalu botak (yang merupakan ciri khas) kaum khawarij bukanlah sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam
-         Orang yang memberi hukuman kepada yang tidak gundul serta mengambil hartanya, orang ini harus dicegah dan dilarang
-         Tidak gundul bukanlah perkara yang dilarang.
Mereka hanya menjelaskan bahwa kebiasaan adat mereka adalah mencukur gundul sekali-sekali, dan dalam adat mereka yang tidak mau gundul sama sekali biasanya orang bodoh. Akan tetapi ingat ini hanya berkaitan dengan adat

Kedua : Idahram menambah nukilan perkataan yang tidak dikatakan oleh mereka. Tambahan tersebut adalah :

ولأَنَّ كُفَّارَ زَمَانِنَا لاَ يَحْلقون فَصَارَ فِي عدمِ الْحلق تَشَبُّهًا بهم

"Sebab orang-orang kafir di zaman kami tidak menggundul kepalanya, sehingga tidak gundul itu adalah menyerupai orang-orang kafir (yang itu diharamkan)" (Sejarah Berdarah… hal 169)
Demikian tambahan nukilan dusta yang ditambahkan oleh Idahram.

Yang semakin menunjukkan busuknya dusta Idahram, ia lalu mengomentari tambahan dustanya ini dengan menambah kedustaan tuduhan yang lain. Ia berkata, "Perlu diingat, setiap kali mereka menyebutkan kata "kafir" atau "musyrik di zaman kami" maksudnya adalah umat Islam yang tidak mengikuti ajaran mereka" (Sejarah Berdarah… hal 169)

Metode tipu muslihat seperti ini semakin menguatkan dugaan sebagian orang bahwasanya Idahram itu adalah Abu Salafy yang suka berdusta dan menambah perkataan ulama, sebagaimana telah saya buktikan dimana Abu Salafy menambah-nambahi perkataan Imam Al-Qurthubi. (silahkan lihat kembali artikel ini "Sekali lagi : Tipu muslihat Abu Salafy CS (bag 2)")

Keempat : Tuduhan dusta yang dilontarkan Idahram kepada kaum Salafy Wahabi ternyata hanyalah kedustaan yang diwarisi oleh Idahram dari para nenek moyangnya yang gemar berdusta karena hasad dan memusuhi dakwah salafy wahabi.

Dan tuduhan tersebut pernah dibantah langsung oleh Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhaab rahimahullah. Berikut teks asli (scan) bantahan beliau rahimahullah :



Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah berkata : "Adapun pembahasan tentang hukum membotak rambut kepala dan bahwasanyya sebagian orang-orang badui yang masuk dalam agama kami mereka memerangi orang yang tidak menggundul kepalanya, dan mereka membunuh hanya karena sebab masalah "gundul" saja, dan bahwasanya barang siapa yang tidak menggundul kepalanya maka menjadi murtad??!!"

Maka jawabannya : "Ini merupakan kedustaan dan mengada-ngada atas nama kami, dan orang yang melakukan ini (*membunuh orang hanya karena tidak gundul) tidaklah beriman kepada Allah dan hari akhirat. Karena kekufuran dan kemurtadan hanyalah timbul karena sikap mengingkari perkara-perkara agama islam yang telah diketahui secara darurat (*yaitu sangat jelas dan diketahui oleh semua orang-pen). Dan macam-macam bentuk kekufuran dan kemurtadan baik berupa perkataan maupun perbuatan telah diketahui oleh para ulama, dan tidak gundul bukanlah termasuk dari macam-macam bentuk kekafiran. Bahkan kami tidak mengatakan bahwa menggundul adalah sunnah, apalagi sampai wajib, apalagi sampai kalau ditinggalkan menjadi murtad dari Islam !!!



Dan yang dilarang oleh sunnah adalah al-qoza', yaitu menggundul sebagian kepala dan membiarkan sebagian yang lain. Inilah yang kita dilarang melakukannya dan kita akan memberi pelajaran kepada pelakunya. Akan tetapi orang-orang bodoh yang datang kepada kalian tidak bisa membedakan tentang macam-macam kekufuran dan kemurtadan. Dan banyak diantara mereka tidak memiliki tujuan kecuali merampas harta. Kami sama sekali tidak memerintahkan seorangpun dari para gubernur/pemimpin untuk memerangi orang yang tidak menggundul kepalanya. Akan tetapi kami memerintahkan mereka untuk memerangi orang yang berbuat kesyirikan kepada Allah dan enggan untuk mentauhidkan Allah, serta enggan untuk menjalankan syari'at seperti sholat, membayar zakat, puasa di bulan Ramadan.

Jika mereka menyelisihi hal ini dan perbuatan mereka sampai kepada kami maka kami tidak menyetujui mereka akan hal ini, dan kami berlepas diri kepada Allah dari perbuatan mereka, dan kami akan memberi pelajaran kepada mereka sesuai kadar kriminal mereka dengan idzin dan kekuatan Allah" (Ad-Duror As-Saniyyah 10/275-276)



KETIGA : Ciri-Ciri Khawarij Salafy Wahabi : Celana Gantung

Untuk menunjukkan bahwa ciri-ciri khawarij adalah bercelana gantung maka idahram membawakan sebuah hadits yang panjang yang diriwayatkan dari sahabat Abu Barzah Al-Aslamiy radhiallahu 'anhu. Idahram berkata :
أُتِيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِدَنَانِيرَ فَكَانَ يَقْسِمُهَا وَعِنْدَهُ رَجُلٌ أَسْوَدُ مَطْمُومُ الشَّعْرِ عَلَيْهِ ثَوْبَانِ أَبْيَضَانِ – وفي رواية الحاكم في المستدرك على الصحيحين فيها زيادة "رَجُلٌ مُقَلِّصُ الثِّيَابِ ذُوْ سيْمَاءٍ- بَيْنَ عَيْنَيْهِ أَثَرُ السُّجُودِ فَتَعَرَّضَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَتَاهُ مِنْ قِبَلِ وَجْهِهِ فَلَمْ يُعْطِهِ شَيْئًا ثُمَّ أَتَاهُ مِنْ خَلْفِهِ فَلَمْ يُعْطِهِ شَيْئًا فَقَالَ وَاللَّهِ يَا مُحَمَّدُ مَا عَدَلْتَ مُنْذُ الْيَوْمَ فِي الْقِسْمَةِ فَغَضِبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَضَبًا شَدِيدًا ثُمَّ قَالَ وَاللَّهِ لَا تَجِدُونَ بَعْدِي أَحَدًا أَعْدَلَ عَلَيْكُمْ مِنِّي قَالَهَا ثَلَاثًا ثُمَّ قَالَ يَخْرُجُ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ رِجَالٌ كَانَ هَذَا مِنْهُمْ هَدْيُهُمْ هَكَذَا يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ لَا يَرْجِعُونَ إِلَيْهِ وَوَضَعَ يَدَهُ عَلَى صَدْرِهِ سِيمَاهُمْ التَّحْلِيقُ لَا يَزَالُونَ يَخْرُجُونَ حَتَّى يَخْرُجَ آخِرُهُمْ فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمْ فَاقْتُلُوهُمْ قَالَهَا ثَلَاثًا شَرُّ الْخَلْقِ وَالْخَلِيقَةِ" (رواه البخاري ومسلم والنسائي وأحمد وابن أبي شيبة والطيالسي والحاكم وغيرهم)
"Rasulullah Saw. diberikan sekumpulan dinar (ghanimah), lalu beliau membagikannya. Di dekatnya ada seorang lelaki hitam mengenakan pakaian putih-putih –pada riwayat al-Hakim dalam kitab al-Mustadrok 'ala as-Shahihain ada penambahan kalimat "seorang lelaki berpakaian menggantung dan memiliki ciri khas- dan diantara kedua matanya ada bekas sujud. Lelaki itu menghadang Rasulullah Saw. dengan mendatanginya dari arah depan, Namun Rasulullah Saw. tidak memberi sesuatu kepadanya. Kemudian lelaki itu mendatanginya dari arah belakang, namun Rasulullah Saw. juga tidak memberikannya sesuatu. Lantas lelaki itu berkata, "Demi Allah, hai Muhammad, engkau tidak berlaku adil sejak hari ini dalam membagikan (ghanimah)". Rasulullah Saw. marah sekali, lalu bersabda, "Demi Allah, tidak akan kalian jumpai setelahku orang yang lebih adil daripadaku terhadap kalian.", beliau mengucapkan itu tiga kali. Kemudian Rasulullah Saw. bersabda, Akan keluar dari timur orang-orang yang mana lelaki ini bagian dari mereka dan seperti itulah penampilan mereka. Mereka membaca Al-Qur'an namun tidak sampai melewati pangkal tenggorokannya. Mereka keluar dari agama Islam seperti anak panah tembus dari (badan) binatang buruannya, tidak pernah bisa kembali lagi –Rasulullah Saw. mengelus dadanya, lalu melanjutkan- cirri-ciri mereka adalah plontos. Mereka masih saja muncul sampai muncul orang-orang mereka yang paling akhir. Jika kalian mendapati mereka, maka bunuhlah mereka –Rasulullah Saw. mengucapkan itu tiga kali-, mereka adalah seburuk-buruk makhluk" (HR. Bukhari, Muslim, Nasai, Ahmad, Ibnu Abi Syaibah, At-Thayalisi, al-Hakim, dan lainnya), demikian penukilan hadiys Nabi oleh Idahram dalam bukunya Sejarah Berdarah… hal 165-167.

Idahram berkata, "Berpakaian menggantung (muqallish ats-tsiyaab). Beginilah diantara ciri-ciri yang Rasulullah Saw. sampaikan tentang mereka. Apakah salafi Wahabi seperti itu mewajibkan celana nggantung?. Pembaca budiman pasti sudah mengetahui jawabannya. Celana di atas tumit itu tidak buruk –paling tidak untuk menghindari dari terkena najis atau kotoran- akan tetapi bukan suatu kemestian. Asal jangan berlebih-lebihan hingga –maaf- seperti tukang pacul atau celana hawai di pantai karena terlalu menggantung. Yah, yang wajar-wajar saja. Sebab, Nabi Saw. sendiri juga mempersilakan Abu Bakar untuk memanjangkan pakaiannya sebagaimana terdapat dalam hadits shahih" (Sejarah Berdarah…hal 169).

Sanggahan terhadap igauan Idahram ini dari beberapa sisi :

Pertama : Kesalahan Idahram dengan menyandarkan hadits di atas kepada Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim, karena kedua Imam tersebut tidak meriwayatkan hadits di atas. Tentunya ini merupakan tipu muslihat, sehingga mengesankan kepada para pembaca bahwa hadits ini jelas sangat shahih mengingat dikeluarkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim. Akan tetapi kenyataannya tidak demikian.

Kedua : Hadits ini ternyata sanadnya lemah. Karena dalam sanadnya ada seorang perawi yang bernama Syariik bin Syihab, dan ia adalah seorang yang majhul. Akan tetapi sebagian ulama menghasankan hadits ini atau menyatakan sebagai hadits shahih lighoirihi karena syawahid.

Ketiga : Tambahan riwayat dalam Mustadrok Al-Haakim "مقلص الثياب" ternyata bukan dari hadits Abu Barzah Al-Aslami, akan tetapi dari hadits yang diriwayatkan oleh Abu Sa'id Al-Khudri. Hal ini menunjukkan kurang telitinya Idahram dalam mentakhrij hadits.

Keempat : Hadits-hadits Abu Barzah Al-Asalmi, dan juga hadits Abu Sa'id Al-Khudri menceritakan tentang kisah Dzul Khuwashiroh yang protes terhadap pembagian Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang ia anggap tidak adil.

Akan tetapi yang perlu dicamkan bahwasanya tidak semua sifat-sifat yang dimiliki oleh Dzul Khuwaishiroh lantas menjadi ciri-ciri khas kaum khawarij. Ciri-ciri khas fisik kaum khawarij adalah sifat-sifat yang disebutkan oleh Nabi merupakan alamat khawarij, seperti kepala plontos sebagaimana telah lalu. Dimana Nabi menegaskan dalam sabdanya سِيمَاهُمْ التَّحْلِيقُ "ciri-ciri mereka adalah gundul":

Karena kalau semua sifat yang disebutkan tentang Dzul Khuwaishiroh dianggap merupakan ciri khusus kaum khawarij maka ada beberapa sifat baik yang dimiliki oleh khawarij. Misalnya mereka sholat, sehingga hal inilah yang membuat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mencegah Kholid bin Al-Waliid untuk  memenggal leher Dzul Khuwaishiroh.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Sa'id Al-Khudry, ia berkata :
فَقَامَ رَجُلٌ غَائِرُ العَيْنَيْنِ، مُشْرِفُ الوَجْنَتَيْنِ، نَاشِزُ الجَبْهَةِ، كَثُّ اللِّحْيَةِ، مَحْلُوقُ الرَّأْسِ، مُشَمَّرُ الإِزَارِ، فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ اتَّقِ اللَّهَ، قَالَ: «وَيْلَكَ، أَوَلَسْتُ أَحَقَّ أَهْلِ الأَرْضِ أَنْ يَتَّقِيَ اللَّهَ» قَالَ: ثُمَّ وَلَّى الرَّجُلُ، قَالَ خَالِدُ بْنُ الوَلِيدِ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَلاَ أَضْرِبُ عُنُقَهُ؟ قَالَ: «لاَ، لَعَلَّهُ أَنْ يَكُونَ يُصَلِّي» فَقَالَ خَالِدٌ: وَكَمْ مِنْ مُصَلٍّ يَقُولُ بِلِسَانِهِ مَا لَيْسَ فِي قَلْبِهِ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنِّي لَمْ أُومَرْ أَنْ أَنْقُبَ عَنْ قُلُوبِ النَّاسِ وَلاَ أَشُقَّ بُطُونَهُمْ» قَالَ: ثُمَّ نَظَرَ إِلَيْهِ وَهُوَ مُقَفٍّ، فَقَالَ: «إِنَّهُ يَخْرُجُ مِنْ ضِئْضِئِ هَذَا قَوْمٌ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ رَطْبًا، لاَ يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ، يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ»
"Maka berdirilah seseorang yang matanya mencengkung ke dalam, kedua tulang pipinya menonjol, jidatnya maju, jenggotnya tebal, kepalanya botak, menggulungkan sarungnya, lalu ia berkata, "Wahai Rasulullah, bertakwalah engkau kepada Allah !!". Nabi berkata, "Celaka engkau, bukankah aku adalah penduduk bumi yang paling pantas untuk bertakwa kepada Allah??". Lalu orang itupun pergi, maka Kholid bin Al-Waliid berkata, "Wahai Rasulullah apakah boleh aku memenggal lehernya?", Nabi menjawab, "Jangan, siapa tahu ia sholat". Kholid berkata, "Betapa banyak orang yang sholat mengucapkan di lisannya apa yang tidak ada di hatinya". Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkata, "Aku tidak diperintahkan untuk memeriksa hati-hati orang dan tidak diperintah untuk membelah perut mereka". Lalu Nabi melihat kepada orang tersebut dan orang tersebut dalam keadaan berjalan pergi, lalu Nabi berkata, "Akan keluar dari keturunan orang ini sebuah kaum yang membaca Al-Qur'an dalam keadaan basah (*yaitu senantasa lidah mereka basah membaca al-qur'an) akan tetapi tidak melewati kerongongan mereka, mereka keluar dari agama sebagaimana keluarnya anak panah dari (jasad) binatang buruannya" (HR Al-Bukhari no 4351 dan Muslim no 1064)

Dalam hadits-hadits tentang Dzul Khuwaishiroh ada beberapa sifat-sifat baik yang dimiliki olehnya, diataranya, ia adalah seorang yang sholat, yang semakin menunjukkan akan sholatnya adalah ada tanda bekas sujud diantara kedua matanya.

Lantas apakah sifat-sifat ini merupakan ciri khas khawarij? Tentu tidak, bahkan ini merupakan ciri-ciri yang baik. Apakah jika ada orang yang jidatnya hitam karena sering sujud dikatakan memiliki ciri khawarij?. Bukankah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berjenggot tebal??

Kelima : Jika setiap sifat yang disebutkan tentang Dzul Khuwaisiroh nenek moyang khawarij ini dijadikan ciri khusus khawarij maka tentunya kita akan mengatakan, diantara ciri-ciri khusus khawarij adalah jidatnya tinggi, matanya cekung ke dalam, tulang pipinya menonjol. Jika perkaranya demikian maka tentu tidak semua kaum khawarij yang diperangi Ali adalah khawarij, karena tentunya tidak semua memiliki sifat wajah seperti ini.

Keenam : Sifat-sifat tersebut adalah sifat-sifat yang dilihat oleh para sahabat yang meriwayatkan hadits yang menyaksikan kejadiannya langsung, dan bukan sifat-sifat yang disebutkan oleh Nabi tentang khawarij. Lain halnya dengan sifat "gundul" maka itu disebutkan khusus oleh Nabi tentang khawarij

Ketujuh : Dalam lafal-lafal hadits tidak disebutkan celana gantung, akan tetapi disebutkan مُقَلِّصُ الثِّيَابِ (yaitu baju) atau مُشَمَّرُ الإِزَارِ (yiatu menggulung/menaikan sarung). Jika perkaranya demikian maka setiap orang yang memakai sarung yang dinaikan maka ia telah memiliki sifat khawarij.

Kedelapan : Menaikkan atau celana gantung merupakan perkara yang terpuji selama tidak berlebihan. Bahkan diantara sunnah Nabi adalah mengangkat celana atau sarung hingga tengah betis.

عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ الْخُدْرِي قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ :"إِزَارُ الْمُسْلِمِ إِلَى نِصْفِ السَّاقِ, وَلا حَرَج - أَوْ وَلا جُنَاح – فِيْمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْكَعْبَيْنِ, فَمَا كَانَ أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ فَهُوَ فِي النَّارِ, مَنْ جَرَّ إِزَارَهُ بَطَرًا لَمْ يَنْظُرِ اللهُ إِلَيْهِ

Dari Abu Said Al-Khudri berkata, "Rasulullah shallallahu 'alihi wa sallam bersabda: Sarung seorang muslim hingga tengah betis dan tidak mengapa jika di antara tengah betis hingga mata kaki. Segala (kain)  yang di bawah mata kaki maka (tempatnya) di neraka.  Barang siapa yang menyeret sarungnya (di tanah-pent) karena sombong maka Allah tidak melihatnya." (HR. Abu Daud no: 4093, Malik no: 1699, Ibnu Majah no: 3640.  Hadits ini dishahihkan oleh Imam Nawawi dalam Riyadus Shalihin,  Syaikh Albani dan Syaikh Syu'aib Al-Arnauth)

Lantas Nabi shallalahu 'alaihi wa sallam dan para sahabat celana atau sarung mereka nggantung, apakah lantas dikatakan mereka adalah khawarij???. (Untuk lebih luas tentang masalah ini silahkan baca kembali artikel ini "ISBAL ?? NO !! Apa sih susahnya? wong tinggal ninggikan celana sedikit? Kan, masih tetap keren?")



KEEMPAT : Ciri Khas Khawarij : Mereka Keluar Dalam Perpecahan Manusia

Idahram berkata, "Mereka keluar dalam perpecahan manusia". Sejarah mencatat bahwa ajaran Muhammad bin Abdil Wahab muncul ketika umat Islam sedang terpecah-belah akibat penjajahan bangsa barat terhadap dunia islam" (Sejarah Berdarah Sekte Salafy Wahabi hal 170)

Igauan Idahram ini menyelisihi penafsiran yang ditunjukkan oleh lafal-lafal hadits dalam riwayat-riwayat yang lain.

Kesimpulan ciri yang disebutkan oleh Idahram diambil dari lafal dalam hadits Nabi shallallahu 'alaihi wasallam يَخْرُجُوْنَ فِي فُرْقَةٍ مِنَ النَّاسِ "Mereka keluar tatkala terjadi perpecahan diantara manusia"

Apakah yang dimaksud dengan perpecahan ini adalah sebagaimana yang diigaukan oleh Idahram "ketika umat Islam sedang terpecah-belah akibat penjajahan bangsa barat terhadap dunia islam"??. Jawabannya adalah tidak, Al-Imam An-Nawawi berkata :

"Sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam "يَخْرُجُوْنَ عَلَى حين فرقة من الناس", para ulama memberi harokat dalam as-Shahih dengan dua model, yang pertama "حِيْنِ فُرْقَةٍ" yaitu "pada waktu terjadinya perpecahan manusia", yaitu perpecahan yang terjadi diantara kaum muslimin, yaitu perpecahan yang terjadi antara Ali dan Mu'awiyah –semoga Allah meridhoi mereka berdua-.

Dan yang kedua "خَيْرِ فِرْقَةٍ" yaitu mereka khawarij keluar dari kelompok yang terbaik diantara dua kelompok. Akan tetapi pengharokatan yang pertama lebih masyhur dan lebih banyak. Dan ini dikuatkan dengan sebuah riwayat setelah riwayat ini "يخرجون في فُرْقَةٍ من الناس" yaitu dengan mendommah huruf faa' فُرْقَةٍ tanpa ada khilaf" (Al-Minhaaj Syarh Shahih Muslim 7/166)

Al-Hafiz Ibnu Hajar mendukung penafsiran yang pertama karena adanya riwayat-riwayat yang lain yang menunjukkan akan hal itu. Diantara riwayat-riwayat lain yang beliau sebutkan adalah;

Pertama ; Sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam

تَمْرُقُ مَارِقَةٌ عِنْدَ فُرْقَةٍ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ يَقْتُلُهُمْ أَوْلَى الطَّائِفَتَيْنِ بِالْحَقِّ

"Muncul khawarij tatkala perpecahan diantara kaum muslimin, mereka dibunuh oleh salah satu dari dua kelompok kaum muslimin yang lebih utama kepada kebenaran"

Maksud Nabi yaitu Khawarij muncul tatkala terjadi perpecahan diantara dua kelompok, yaitu kelompok Ali dan kelompok Mu'awiyah, lalu khawarij diperangi dan dibunuh oleh kelompok Ali, yang merupakan kelompok yang lebih mendekati kebenaran dari pada kelompok Mu'awiyah.

Kedua : Sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam riwayat yang lain

يَكُوْنُ فِي أُمَّتِي فِرْقَتَانِ فَيَخْرُجُ مِنْ بَيْنِهِمَا طَائِفَةٌ مَارِقَةٌ يَلِي قَتْلَهُمْ أَوْلاَهُمْ بِالْحَقِّ

"Akan ada di umatku dua kelompok, maka keluarlah diantara kedua kelompok tersebut sebuah kelompok khawarij, dan mereka akan diperangi oleh kelompok yang lebih utama kepada kebenaran"

Ketiga : Sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam riwayat yang lain

يَخْرُجُوْنَ فِي فُرْقَةٍ مِنَ النَّاسِ يَقْتُلُهُمْ أَدْنَى الطَّائِفَتَيْنِ إِلَى الْحَقِّ

"Mereka (khawarij) keluar pada saat perpecahan di antara manusia, dan mereka dibunuh oleh salah satu dari dua kelompok yang lebih dekat kepada kebenaran"

(Silahkan ketiga riwayat di atas, dan juga dua riwayat yang lainnya di Fathul Baari 12/295)

Dari sini kita tahu bahwasanya maksud Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadits-hadits di atas adalah khawarij yang muncul di zaman Ali bin Abi Tholib radhiallahu 'anhu.
bersambung...