Senin, 01 September 2014

Husein bin Ali bin Abi Thalib – Peristiwa Syahidnya Cucu Nabi


imam husein as syahid di karbala 
 
 
 

Peristiwa Kesyahidan Husein bin Ali bin Abi Thalib

Bulan Muharram merupakan bulan yang agung dan memiliki banyak keutamaan; Nabi Musa ‘alaihissalam diselamatkan dari Firaun dan bala tentaranya di bulan Muharram. Untuk menghormati bulan ini, Allah haramkan peperangan walaupun perang tersebut bertujuan meninggikan kalimat-Nya. Di bulan ini pun terdapat suatu hari, yang dapat mengampuni dosa setahun yang lalu dengan berpuasa di hari tersebut. Namun, bulan Muharram juga mengisahkan sebuah duka, duka dengan wafatnya penghulu pemuda penghuni surga, cucu Rasulullah, Husein bin Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu.


Terkait peristiwa tersebut, ada sebuah kelompok yang rutin memperingati wafatnya Husein bin Ali radhiallahu ‘anhu dengan cara meratapi dan menyiksa diri. Mereka berandai-andai jika saja waktu itu mereka bersama Husein dan menolong Husein yang dizalimi. Mereka menamakan diri mereka Syiah, pencinta dan pendukung ahlul bait (keluarga Nabi). Setiap orang bisa mengklaim diri sebagai penolong keluarga Nabi, namun pertanyaannya adalah benarkah mereka menolongnya?!



Kita tidak hendak saling menyalahkan, tidak juga memicu perpecahan, kita hanya akan mengangkat fakta sejarah bagaimana cucu manusia yang paling mulia ini bisa terbunuh di tanah Karbala.
Kita awali kisah ini dengan memasuki tahun 60 H ketika Yazid bin Muawiyah dibaiat menjadi khalifah. Saat itu Yazid yang berumur 34 tahun diangkat oleh ayahnya Muawiyah bin Abi Sufyan radhiallahu ‘anhu sebagai khalifah umat Islam menggantikan dirinya.



Ketika Yazid dibaiat ada dua orang sahabat Nabi yang enggan membaiatnya, mereka adalah Abdullah bin Zubeir dan Husein bin Ali bin Abi Thalib. Abdullah bin Zubeir pun dipinta untuk berbaiat, ia mengatakan, “Tunggulah sampai malam ini, akan aku sampaikan apa yang ada di benakku.” Saat malam tiba, maka Abdullah bin Zubeir pergi dari Madinah menuju Mekah. Demikian juga Husein, ketika beliau dipinta untuk berbaiat, beliau mengatakan, “Aku tidak akan berbaiat secara sembunyi-sembunyi, tapi aku menginginkan agar banyak orang melihat baiatku.” Saat malam menjelang, beliau juga berangkat ke Mekah menyusul Abdullah bin Zubeir.



Kabar tidak berbaiatnya Husein dan perginya beliau ke kota Mekah sampai ke telinga penduduk Irak atau lebih spesifiknya penduduk Kufah. Mereka tidak menginginkan Yazid menjadi khalifah bahkan juga Muawiyah, karena mereka adalah pendukung Ali dan anak keturunannya. Lalu penduduk Kufah pun mengirimi Husein surat yang berisi “Kami belum berbaiat kepada Yazid dan tidak akan berbaiat kepadanya, kami hanya akan membaiat Anda (sebagai khalifah).” Semakin hari, surat tersebut pun semakin banyak sampai ke tangan Husein, jumlanya mencapai 500 surat.



Tidak terburu-buru menanggapi isu ini, Husein mengutus sepupunya Muslim bin Aqil bin Abi Thalib menuju Kufah untuk meneliti dahulu kebenaran berita tersebut. Tibalah Muslim bin Aqil di Kufah dan ia melihat kebenaran berita yang sampai kepada Husein. Penduduk Kufah pun membaiat Husein melalui Muslim bin Aqil.



Kabar dibaiatnya Husein melalui Muslim bin Aqil sampai ke Syam, tempat Khalifah Yazid bin Muawiyah. Ia segera mencopot gubernur Kufah, Nu’man bin Basyir radhiallahu ‘anhu karena Nu’man tidak mengambil tindakan apa pun atas kejadian itu. Sebagai penggantinya, diangkatlah Ubaidullah bin Ziyad menjadi amir Kufah.


Ubaidullah langsung bergerak cepat hendak mengupayakan penangkapan Muslim bin Aqil. Langkah pertama yang dilakukan Ubaidullah adalah mengintrogasi sahabat-sahabat dekat Muslim. Ia menangkap Hani’ bin Urwah, kemudian menanyai keberadaan Muslim kepadanya. Hani’ bin Urwah bersikukuh tidak akan membocorkan rahasia persembunyian Muslim, akhirnya ia ditahan.



Penahanan Hani’ bin Urwah memancing reaksi dari Muslim bin Aqil, ia mengerahkan 4000 orang mengepung benteng Ubaidullah bin Ziyad menekannya agar membebaskan Hani’. Sayang, kisah penghianatan penduduk Kufah ternyata berulang, mereka yang sebelumnya membaiat Muslim bin Aqil pergi meninggalkannya. Di siang hari saja jumlah 4000 tersebut menyusut hanya menjadi 30 orang dan ketika matahari terbenam tinggallah Muslim bin Aqil seorang diri. Akhirnya ia pun terbunuh. Sebelum wafat, ia memberi pesan kepada Umar bin Sa’ad untuk menyampaikannya kepada Husein bin Ali bin Abi Thalib “Pulanglah bersama keluargamu. Jangan engkau terpedaya oleh penduduk Kufah. Karena mereka telah berhianat kepadamu dan kepadaku.”

Husein radhiallahu ‘anhu Menuju Kufah

Pada saat hendak berangkat menuju Kufah, Husein bertemu dan dinasihati oleh beberapa sahabat Nabi agar tidak menuju Kufah. Di antara sahabat yang menasihati Husein adalah:


Abdullah bin Abbas “Kalau sekiranya orang-orang tidak mencela aku dan engkau, akan aku ikat tanganku ini di kepalamu. Tidak akan kubiarkan engkau pergi.”



Abdullah bin Umar, setelah mendengar keberangkatan Husein menuju Kufah, ia bergegas menyusulnya dan berhasil bertemu dengannya setelah perjalanan 3 malam.


Abdullah bin Umar: Hendak kemana engkau?

Husein: Menuju Irak.


Husein mengeluarkan surat-surat penduduk Irak yang menunjukkan mereka berpihak kepada dirinya. Husein mengatakan, “Ini surat-surat mereka, aku akan kesana dan menerima baiat mereka.”
Abdullah bin Umar: Aku akan sampaikan kepadamu sebuah hadis. Sesungguhnya Jibril pernah datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia memberi pilihan kepada Nabi antara dunia dan akhirat, beliau pun memilih akhirat dan tidak menginginkan dunia. Engkau adalah darah daging Rasulullah, demi Allah! Janganlah salah seorang dari kalian (keluarga Nabi) mengambil dunia tersebut atau menggapai bagian yang telah Allah jauhkan dari kalian.



Husein pun tetap pada pendiriannya berangkat menuju Kufah. Melihat pendirian Husein, menangislah Abdullah bin Umar dan mengatakan “Aku titipkan engkau kepada Allah dari pembunuhan.”
Abdullah bin Zubeir mengatakan, “Hendak kemana engkau wahai Husein? Engkau mau menemui orang-orang yang telah membunuh ayahmu dan menghina saudaramu (Hasan bin Ali)? Janganlah pergi! Namun Husein pun tetap berangkat.


Abu Said al-Khudri mengatakan, “Wahai Abu Abdullah (maksudnya Husein pen.), aku ada sebuah nasihat untukmu dan aku adalah orang yang sangat mencintaimu. Aku mendengar berita bahwa Syiah (pendukung)mu di Kufah menulis pernyataan kepadamu, mereka mengajakmu keluar dari Mekah dan bergabung dengan mereka di Kufah. Janganlah engkau menemui mereka! Sesungguhnya aku mendengar ayahmu sewaktu di Kufah mengatakan, ‘Demi Allah, aku telah membuat mereka (penduduk Kufah) bosan dan marah dan mereka pun membuatku bosan juga membuatku marah. Tidak ada seorang pun di antara mereka yang memenuhi janji.”


Saat Husein melanjutkan perjalanan, sampailah Amir bin Sa’ad utusan dari Muslim bin Aqil. Amir mengabarkan tentang terbunuhnya Husein dan penghianatan orang-orang Kufah. Mendengar berita tersebut Husein pun sadar apa yang ia lakukan akan sia-sia, ia pun memutuskan untuk pulang. Namun anak-anak Muslim bin Aqil menginginkan perjalanan dilanjutkan menuntut hukuman atas tewasnya ayah mereka.

Husein bin Ali bin Abi Thalib Tiba di Tanah Karbala

Mengetahui Husein bin Ali radhiallahu ‘anhu berangkat menuju Kufah, Ubaidullah bin Ziyad berencana mencegatnya agar tidak memasuki Kufah dengan mengirim 1000 pasukan yang dipimpin oleh al-Hurru bin Yazid at-Tamimi kemudian ditambah 4000 pasukan dibawah kepemimpinan Umar bin Sa’ad.
Saat tiba di Karbala, Husein bertanya tentang nama daerah tersebut, “Daerah apa ini?” Orang-orang menjawab, “Ini adalah daerah Karbala.” Husein pun langsung mengatakan, “Karbun (bencana) dan bala’ (musibah).”



Dibayang-bayangi 5000 pasukan membuat Husein semakin menyadari bahwa janji-janji penduduk Kufah itu hanyalah bualan semata. Apalagi pasukan-pasukan itu sendiri adalah penduduk Kufah yang telah mengiriminya surat. Lalu Husein mengajukan 3 alternatif kepada pasukan Kufah sebagai jalan keluar; pertama, Husein meminta agar pasukan Kufah mengawalnya pulang ke Mekah (agar ia dan keluarganya terjaga) atau yang kedua, pasukan Kufah mengizinkannya untuk pergi ke daerah perbatasan agar ia bergabung dengan pasukan kaum muslimin untuk berjihad atau alternatif ketiga, mereka mengizinkannya menuju Yazid agar ia membaiatnya secara langsung.



Umar bin Sa’ad pun menanggapi positif pilihan yang diajukan Husein, ia mengusulkan agar Husein mengirimkan utusan ke Yazid terlebih dahulu dan ia sendiri mengirimkan utusan ke Ubaidullah untuk memberitakan kabar ini sekaligus alternatif yang diajukan Husein.


Setibanya utusan Umar bin Sa’ad di hadapan Ubaidullah dan menyampaikan apa yang dikehendaki Husein, Ubaidullah pun bergembira dan memberi kemuliaan kepada Husein agar ia sendiri yang memilih sesuai dengan yang ia kehendaki; kembali ke Mekah atau Madinah, menuju daerah perbatasan, atau menuju Yazid di Syam, ia serahkan kepada pilihan Husein. Namun seseorang yang dekat dengan Ubaidullah yang bernama Syamr bin Dzi al-Jasyan angkat bicara atas keputusan Ubaidullah, “Demi Allah, urusannya tidak demikian, dia yang harus tunduk kepada putusanmu.” Maksud Syamr engkau (Ubaidullah) adalah pemimpin bukan dia (Husein), jadi dia yang harus tunduk kepada putusanmu bukan sebaliknya. Ternyata Ubaidullah yang tadinya memuliakan Husein berpaling mengikuti saran dari sahabat dekatnya, Syamr bin Dzi al-Jausyan. Ubaidullah memutuskan menawan Husein dan dibawa ke hadapannya di Kufah sebagai tawanan kemudia ia yang menentukan kemana Husein seharusnya diasingkan.


Setelah sampai perintah Ubaidullah di tanah Karbala, Husein pun menolak kalau dirinya dijadikan tawanan, ia seorang muslim terlebih ia adalah keluarga Rasulullah. Karena Husein menolak untuk ditawan, maka pasukan Ubaidullah itu berusaha menangkap paksa dirinya, Husein mengatakan, “Kalian renungi dulu apa yang hendak kalian lakukan. Apakah dibenarkan (secara syariat), kalian memerangi orang sepertiku? Aku anak dari putri Nabi kalian dan tidak ada lagi di bumi ini anak dari putri Nabi kalian selain diriku. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang aku dan saudaraku (Hasan bin Ali), ‘Dua orang ini adalah pemimpin para pemuda penghuni surga.’ Akhirnya Husein pun terbunuh bersama keluarga Rasulullah yang lain. Seorang yang secara langsung membunuh Husein dan memenggal kepalanya bernama Sinan bin Anas.
Demikianlah mereka yang mengaku Syiah (pendukung) Ali dan keluarganya, mereka membelot dan menumpahkan darah ahlul bait Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam peristiwa ini, ada tiga orang yang berperan besar sehingga cucu Nabi yang mulia ini tewas. Mereka adalah Ubaidullah bin Ziyad, Syamr bin Dzi al-Jauzyan, dan Sinan bin Anas, ketiga orang ini adalah Syiah (pendukung) Ali di Perang Shiffin, mereka termasuk dalam barisan pasukan Ali bin Abi Thalib. Bisa jadi mereka yang meratapi kematian Husein di hari Asyura, menganiaya diri mereka, berandai-andai bersama Husein, dan merasakan penderitaannya, seandainya mereka berada di hari tersebut. Mereka akan turut serta dalam pasukan Kufah dan membelot dari Husein bin Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhuma.


Sumber: Huqbah min at-Tarikh oleh Syaikh Utsman al-Khomis


Ditulis oleh Nurfitri Hadi (Tim KonsultasiSyariah.com)


Artikel www.KonsultasiSyariah.com






 

Imam Hasan, Imam Maksum yang Dibenci

Ternyata syi’ah membenci perilaku imamnya sendiri yang katanya maksum, apakah sang imam yang maksum melakukan kesalahan hingga perbuatanannya dibenci? Bukankah imam yang maksum tidak mungkin melakukan kesalahan? Mari kita simak bersama jawabannya.
Syiah Imamiyah berkeyakinan bahwa jumlah imam yang akan mengawal kehidupan manusia dan memberi petunjuk pada manusia adalah dua belas, oleh karena itu sekte Syiah Imamiyah juga disebut Syiah Itsna Asyariyyah atau Syiah dua belas imam. Salah satu imam mereka adalah Hasan bin Ali, anak pertama Ali bin Abi Talib, kakak Imam Husein. Namun selanjutnya terjadi sebuah hal yang nampak janggal, yaitu mengapa tidak ada keturunan imam Hasan yang menjadi imam? Mengapa para imam setelah Husein adalah keturunan Husein? Tidak ada satu pun keturunan Hasan yang menjadi imam? Jika anda iseng bertanya pada teman anda yang Syiah, anda tidak akan mendapat jawaban yang memuaskan. Hanya klaim-klaim yang nampak dipaksakan.

Berikut ini akan kami nukilkan riwayat dari kitab Syiah sendiri tentang bagaimana perlakuan dan sikap Syiah terhadap imam Hasan. Sudah semestinya Syiah menghormati dan bersikap baik terhadap imamnya, tidak mencela maupun benci terhadap apa yang diperbuatnya. Bukankah dalam keyakinan syia bahwa imam itu maksum, terbebas dari segala bentuk kesalahan dan lupa? Itulah definisi maksum menurut mereka. Namun pembaca akan melihat kenyataan lain yang tercvantum dalam kitab-kitab referensi Syiah sendiri. Diharapkan setelah membaca makalah ini cakrawala pembaca akan sedikit meluas, pembaca akan mendapati bahwa ternyata dalam masalah ini masih banyak sisi lain yang sayangnya belum banyak yang dapat mengakses. Pembaca akan beruntung membaca makalah ini, karena pembaca belum tentu dapat menemukan makalah seperti ini di tempat lain.

Dalam kitab Biharul Anwar jilid 44 hal 24 disebutkan sebagai berikut :
Abu Ja'far berkata, salah seorang pengikut Hasan yang bernama Sufyan bin Laila datang menghadap Hasan dengan menaiki onta, dia melewati imam Hasan yang sedang duduk di teras rumahnya, dia pun berkata : Assalamualaikum wahai penghina orang beriman!". Hasan berkata padanya : turunlah kemari dan jangan tergesa-gesa. Dia pun turun dan mengikatkan ontanya pada tiang rumah seraya menghampiri Hasan. Hasan berkata padanya : barusan kamu bilang apa? Jawab Sufyan Saya mengatakan Assalamualaika wahai penghina orang beriman". Hasan menjawab siapa yang memberitahu padamu hal itu? Dia menjawab " kamu telah sengaja melepaskan kepemimpinan umat dan kau serahkan pada seorang taghut yang berhukum dengan selain hukum Allah. Hasan berkata : akan kuberitahukan padamu mengapa saya berbuat demikian, aku mendengar ayahku berkata, bahwa Nabi telah bersabda : hari hari tidak akan berlalu sampai memegang urusan umat ini orang yang ba;'umnya luas dadanya lebar, suka makan dan tidak pernah kenyang, dialah Muawiyah,karena inilah aku melakukan hal itu. Hasan bertanya pada Sufyan : Apa yang membuatmu kemari? Jawabnya : kecintaanku padamu wahai Hasan, yang membuatku datang kemari menemuimu. Lalu Hasan berkata : demi Allah, tidak ada seorang hamba yang mencintai kami walaupun dia sedang ditawan di negeri Dailam, maka kecintaan itu akan berguna baginya, sesungguhnya kecintaan manusia pada kami akan menggugurkan dosa sebagaimana angin yang menggugurkan daun dari pepohonan.

Pengikut Hasan yang mencintainya malah menjelekkan Hasan dengan mengatakan bahwa Hasan adalah penghina orang beriman. Jika kita melihat lagi keyakinan bahwa para imam adalah maksum maka perbuatan itu adalah tidak dapat digugat, karena dilakukan oleh imam yang maksum, terjaga dari kesalahan. Dalam riwayat ini dinyatakan bahwa Sufyan datang karena dorongan kecintaannya pada Hasan. Kecintaan itu diungkapkan dengan mengatakan : Assalamualaika wahai penghina orang beriman. Cinta macam apa itu? Dan imam Hasan nampaknya senang dengan ungkapan kecintaan orang itu. Apakah imam Hasan mau saja terkesan dibodohi, dan percaya begitu saja akan kecintaan orang yang menghinanya? Apakah pengikut Hasan tadi tidak tahu bahwa Hasan adalah maksum yang tidak mungkin berbuat salah? Bagi orang itu, nampak jelas bahwa imam Hasan bersalah, sehingga layak untuk dicela. Subhanallah, inilah akhlak orang beriman terhadap imamnya yang maksum dan mulia?

Sementara dalam Biharul Anwar jilid 44 hal 60 tercantum riwayat berikut ini :
Dari Sufyan dia berkata : saya mendatangi Hasan bin Ali setelah dia membaiat muawiyah, saat itu dia sedang duduk di teras rumahnya besama beberapa orang. Lalu aku berkata padanya : Assalamualaika wahau penghina orang beriman ! Hasan menjawab " waalaikassalam wahai Sufyan turunlah kemari. Aku pun turun dan mengikat ontaku pada tiang rumah dan menghampiri Hasan dan duduk di sampingnya, lalu Hasan berkata padaku : " kamu bilang apa barusan?" kujawab : Assalamualaika wahai penghina orang beriman" Hasan bertanya : mengapa kamu berkata demikian kepada kami? Kujawab : aku akan menebus kedua orang tuaku demi anda, anda telah menghinakan leher-leher kami ketika anda membaiat toghut itu dan menyerahkan kepemimpinan kaum muslimin pada orang terkutuk anak si pemakan hati, padahal di tangan anda ada seratus ribu orang yang siap mati demi anda dan Allah telah menjadikan anda sebagai pemimpin kaum muslimin. Hasan berkata: wahai Sufyan, kami para ahlul bait jika telah mengetahui kebenaran maka akan memegangnya, saya telah mendengar Ali berkata : saya mendengar Nabi bersabda, tidak akan berlalu hari dan malam hingga kepemimpinan ummat ini berada di tangan orang yang lebar dadanya besar lehernya, selalu makan dan tidak pernah kenyang, dia tidak akan dilihat oleh Allah, tidak akan mati hingga tidak memiliki pembela di langit dan penolong di bumi, dia adalah Muawiyah dan aku pun tahu bahwa Allah akan melaksanakan kehendaknya.

Syiah hendaknya menjawab pertanyaan ini : apa hukumnya menyerahkan kepemimpinan pada orang zalim? Mengapa tidak diserahkan pada imam yang bergiliran setelah imam Hasan? Mengapa tidak diserahkan kepada imam Husein? Padahal saat itu imam Hasan memimpin seratus ribu pasukan yang siap mati.  Mengapa hal itu terjadi? Mengapa imam Hasan memilih untuk berdamai?

Dalam kitab Tuhfatul Uqul halaman 308 tercantum riwayat berikut :

Imam Assadiq berkata Allah mencela beberapa orang dalam Al Qur'an karena menyiarkan berita. Abu Ja'far berkata, semoga aku dijadikan penebusmu, di mana tercantum hal itu?
Lalu Imam Ja'far berkata : orang yang menyiarkan rahasia kami bagaikan orang yang menghunuskan pedangnya pada kami.  semoga Allah merahmati hamba yang mendengar rahasia ilmu kami lalu menguburnya di bawah kedua kakinya. Demi Allah aku mengetahui orang yang terjelek di antara kalian, daripada dokter hewan yang mengerti tentang hewan. Sejelek-jelek orang adalah yang tidak membaca Al Qur'an kecuali dengan menjauhinya, tidak mendatangi sholat kecuali saat terakhir dan orang yan gtidak dapat menjaga lisannya. Ketahuilah, setelah Hasan ditusuk dan pasukannya mulai bersilang selisih maka dia menyerahkan tampuk kekhilafahan kepada muawiyah, lalu kaum syi'ah memberi salam pada imam Hasan : Assalamu Alaika wahai penghina orang beriman, lalu Hasan berkata : saya bukan menghinakan orang beriman tapi saya adalah orang yang memuliakan kaum mukminin, ketika saya melihat kalian tidak akan sanggup menghadapi mereka, saya serahkan kepemimpinan pada Muawiyah supaya saya dan kalian tetap hidup di antara mereka, seperti seorang berilmu yang merusak kapal supaya penumpangnya tetap selamat, begitulah apa yagn kuperbuat agar kalian tetap hidup di antara mereka wahai Ibnu Nu'man.

Dala'ilul Imamah hal 64 :
Dari Abu Ja'far, dari Tsaqif Al Bakka dia berkata, saya melihat Hasan bin Ali setelah dia menyerahkan khilafah pada Muawiyah, Hujr bin Adi datang menemuinya dan berkata : Assalamualaika wahai penghina orang beriman, Hasan berkata : saya tidak menghina orang beriman tapi saya memuliakan mereka, tapi saya hanya ingin agar mereka tetap hidup. Lalu dia memukulkan kakinya ke kemah, tiba-tiba saya sudah berada di tengah Kufah, dan sampai ke Damaskus dan Mesir, aku melihat Amr bin Ash di Mesir dan Muawiyah di Damaskus, Hasan berkata, jika aku menghendaki maka akan aku ambil kekuasaan mereka berdua, tapi Muhammad telah menempuh jalan dan Ali telah menempuh jalan lain dan aku menyelisihi mereka berdua, dan itu bukan kemauanku sendiri.

Al Manaqib jilid 4 hal 36 :
Dari tafsir Tsa'labi dan Musnad Al Musili, Jami' Tirmidzi dan lafal hadits dari tirmidzi dari yusuf bin mazin arrasibi, bahwa ketika Hasan bin Ali berdamai dengan Muawiyah maka ada yang berkata padanya wahai penghina orang beriman dan penghitam wajah orang beriman, dia berkata : jangan kalian menghinaku karena dalam hal ini sesungguhnya ada maslahat.

Seperti yang telah kita baca, yang mengucapkan perkataan ini adalah Syiahnya, dan Hasan tidak berdamai dengan Muawiyah karena sedikitnya jumlah pasukan dan bukan karena merasa hina, tapi untuk mencegah tumpahnya darah kaum muslimin. Sebagai akibat perbuatannya ini, Syiah tidak mengangkat seorang pun dari keturunannya menjadi imam.

Biharul Anwar jilid 42 hal 77:
Dari Zurarah dari Abu Ja'far berkata: setelah terbunuhnya Husein bin Ali, Muhammad bin Hanafiyah mengirim utusan pada Ali bin Husein, lalu menemui Ali bin Husein sendirian dan berkata : wahai keponakanku, kamu telah megetahui wasiat dari Nabi untuk Ali, lalu Hasan dan Husein. Sedang ayahmu telah terbunuh dan tidak mewasiatkan, sedangkan aku adalah pamanmu yang kedudukannya sama seperti ayahmu, sedangkan aku adalah anak Ali, lebih tua umurku daripadamu maka akulah yang berhak menjadi imam daripada kamu yang masih kecil, janganlah kamu merebut imamah ini dariku. Lalu Ali bin Husein berkata wahai pamanku takutlah engkau kepada Allah dan jangan mengaku memiliki sesuatu yang bukan milikmu, aku menasehatimu supaya jangan sampai paman menjadi orang bodoh. Sesungguhnya ayahku telah mewasiatkan imamah padaku sebelum berangkat menuju Irak, dan menekankan hal itu padaku sesaat sebelum syahid, ini pedang Rasulullah ada padaku maka janganlah engkau ingin merebut hal itu dariku, saya takut umur paman akan dipendekkan dan menjadi tidak beres urusanmu. Sesungguhnya ketika Hasan mengajak berdamai Muawiyah maka Allah tidak akan menjadikan penerus wasiat kecuali dari anak cucu Husein
 Allah menghukum imam yang mendapat predikat maksum dari Allah sendiri, seperti kata syi'ah, dalam ayat 33 surat Al Ahzab. Dari mana Ali Zainal Abidin mengetahui bahwa Allah telah merubah putusanNya?
Dalam riwayat yang dicantumkan oleh al Qummi dalam kitab Al Imamah wa Tabsirah Minal Hirah hal 194 : Sesungguhnya setelah Hasan mengajak berdamai muawiyah maka Allah mengubah keputusannya dan hanya menjadikan imamah dari anak cucu Husein.
Syi’ah memprotes perdamaian yang berlangsung atas inisiatif Hasan sendiri, tetapi Rasulullah saw malah memuji perdamaian itu. jauh-jauh hari Rasulullah saw telah memberitakan bahwa Hasan akan menjadi pendamai dua kelompok besar kaum muslimin yang bertikai. Rasulullah membawa Hasan ke atas mimbar dan bersabda: cucuku ini adalah tuan, semoga Allah mendamaikan dua kelompok kaum muslimin dengan tangannya. Hadits ini tercantum dalam Shahih Bukhari.

Siapa yang menelaah literatur Syiah akan mendapati bahwa faktor utama imam Hasan mengajak berdamai Muawiyah adalah karena Hasan telah membaca tanda-tanda bahwa syi'ah akan meninggalkannya.

Dalam kitab Al Ihtijaj jilid 2 hal 291 tercantum berikut ini :
Dari Salim bin Abil Ja'd berkata salah seorang dari kami berkata, saya mendatangi Hasan bin Ali dan mengatakan padanya: wahai cucu Rasulullah engkau telah menghinakan kami dan menjadikan Syiah sebagai hamba sahaya selamanya, lalu Hasan menjawab: mangapa kamu mengatakan itu? Aku menjawab: karena kamu menyerahkan imamah kepada si taghut ini (Muawiyah). Hasan menjawab: demi Allah aku tidak menyerahkan kepemimpinan ini kepada Muawiyah karena saya tidak memiliki pasukan yang akan membelaku, jika aku memiliki tentara yang menolongku maka aku akan memeranginya sepanjang siang dan malam sampai Allah memutuskan apa yang akan terjadi di antara kita, tapi saya telah mengetahui hakekat penduduk Kufah dan telah menguji mereka, tidak ada yang dapat kupercaya. Mereka tidak memiliki sifat setia dan tanggung jawab dalam perkataan dan perbuatan, mereka mengatakan pada kami bahwa hati kami pada kalian, tapi pedang mereka terhunus pada kami.
Inilah perkataan Hasan bin Ali tentang Syiah, padahal kita tahu bahwa syiah masa itu adalah para pembela Ali bin Abi Thalib yang dibimbing langsung olehnya. Tentunya mereka adalah kelompok syi’ah terbaik. Itupun masih berkwalitas di bawah standar sehingga Hasan bin Ali takut dikhianati oleh mereka. Lalu bagaimana dengan syi’ah yang ada di sekitar kita kali ini? 

Sumber : http://hakekat.com/content/view/8/1/                      




Al-Hasan Radhiallahu anhu Tidak Mempunyai Keturunan ?!!

Al-Hasan Radhiallahu anhu Tidak Mempunyai Keturunan[1]



Di antara ucapan mereka adalah bahwa Al-Hasan bin Ali tidak mempunyai penerus keturunan, bahwa keturunan beliau sudah tidak ada, dan bahwa tidak ada seorang pun dari penerus keturunannya yang laki-laki.


Ucapan ini tersebar di kalangan mereka dan mereka bersepakat di atasnya sehingga tidak perlu untuk dibuktikan, demikian komentar mereka. Di antara mereka ada yang mengklaim bahwa … (tidak jelas maksudnya) semuanya sama seperti mereka. Mereka menggunakan ucapan ini untuk bisa sampai kepada tujuan mereka yaitu membatasi ke’imam’an hanya pada anak keturunan Al-Husain[2], dan di antara anak keturunannya adalah kedua belas imam itu. Dengannya mereka bertujuan untuk membatalkan ke’imam’an para ulama yang berdakwah dari kalangan anak keturunan Al-Hasan, bersamaan dengan keutamaan mereka, terpenuhinya syarat-syarat ke’imam’an pada mereka, orang-orang telah membaiat mereka, syahnya penisbatan keluarga mereka kepada Al-Hasan, dan tersebarnya ilmu mereka, dimana mereka semua telah mencapai derajat mujtahid mutlak. Maka semoga Allah membinasakan mereka atas kedustaan yang mereka ada-adakan tersebut.



Perhatikanlah mereka musuh-musuh ahlul bait yang mengganggu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan Fathimah, ketika mereka mengingkari nasab orang yang terbukti syah nasabnya secara pasti dari anak keturunan Al-Hasan radhiallahu anhu, dan kebenaran penisbatan keturunannya telah mutawatir[3] dan tidak tersembunyi dari setiap orang yang mempunyai ilmu dalam masalah ini. Dan sungguh Nabi shallallahu alaihi wasallam telah menggolongkan perbuatan mencela nasab termasuk dari perbuatan-perbuatan jahiliah[4]. Dan telah datang dalam sebuah riwayat yang menunjukkan bahwa Imam Mahdi itu berasal dari anak keturunan Al-Hasan radhiallahu anhu, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan selainnya[5].


[1] Asy-Syaikh rahimahullah menyebutkan bahwa Rafidhah menolak adanya keturunan Al-Hasan, karena mereka -semoga Allah membinasakan mereka- membenci Al-Hasan bin Ali radhiallahu anhu karena beliau mengalah kepada Muawiah dalam masalah khilafah. Padahal itu beliau lakukan guna menjaga darah kaum muslimin dan sebagai pengamalan dari sabda Rasulullah:



إِنَّ ابْنِي هَذَا سَيِّدٌ وَلَعَلَّ اللَّهَ وَسَيُصْلِحَ بِهِ بَيْنَ فِئَتَيْنِ عَظِيمَتَيْنِ مِنْ الْمُسْلِمِينَ
“Sesungguhnya anakku ini adalah sayyid (pemimpin) dan semoga Allah akan mendamaikan dua kelompok besar kaum Muslimin lewat tangannya.” Dari Abu Bakrah dalam riwayat Al-Bukhari no. 3746.



Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Katsir rahimahullah dalam Al-Bidayah wa An-Nihayah: 8/16



[2]  Dengan bukti bahwa semua imam mereka berasal dari anak keturunan Al-Husain bin Ali  radhiallahu anhu. Mulai dari Ali bin Al-Husain rahimahullah sampai pada imam mahdi khayalan mereka yang bernama Muhammad bin Al-Hasan Al-Askari, yang sebenarnya hakikat keberadaannya hanya merupakan khurafat belaka.



[3] Lihat apa yang ditulis oleh guru kami Al-Imam Al-Wadi’I rahimahullah dalam kitabnya Riyadh Al-Jannah hal. 64, dimana beliau menukil dari Allamah Yamah Muhammad bin Ismail Al-Amir Ash-Shan’ani dalam kitabnya Al-Masa`il Ats-Tsaman. Karena beliau menguatkan apa yang penulis rahimahullah sebutkan bahwa anak keturunan Al-Hasan masih ada sampai sekarang. LIhat juga Siyar A’lam An-Nubala`: 3/279



[4] Asy-Syaikh mengisyaratkan kepada hadits yang diriwayatkan oleh Muslim no. 934 dari Abu Malik Al-Asy’ari bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:


أَرْبَعٌ فِي أُمَّتِي مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ لَا يَتْرُكُونَهُنَّ الْفَخْرُ فِي الْأَحْسَابِ وَالطَّعْنُ فِي الْأَنْسَابِ وَالْاسْتِسْقَاءُ بِالنُّجُومِ وَالنِّيَاحَةُ
“Ada empat perkara jahiliyah yang masih melekat pada umatku dan mereka belum meninggalkannya: Membanggakan kedudukan, mencela nasab (garis keturunan), meminta hujan dengan bintang-bintang, dan niyahah (meratapi mayit).”


[5] Haditsnya dalam riwayat Abu Daud no. 5462 dari jalan Abu Ishaq As-Sabi’i dari Ali bin Abi Thalib. Al-Mundziri berkata dalam ‘Aun Al-Ma’bud, “Ini sanad yang terputus, Abu Ishaq hanya pernah sekali melihat Ali.” Dan Al-Albani menyatakannya dha’if dalam Al-Misykah no. 5462


[Diterjemah dari Risalah fi Ar-Radd ala Ar-Rafidhah hal. 78-79, dengan meringkas pada footnote terakhir]





Al Hasan Bin Ali, Pemersatu Umat Islam

Sahabat Abu Bakrah mengisahkan, suatu hari Nabi shallallahu alaihi wa sallam sedang memangku cucunya Al Hasan bin Ali bin Abi Thalib radhiallahu’anhumaSambil memangku cucunya, beliau berbicara kepada kami. Sesekali beliau menghadap kepada kami, dan sesekali beliau mencium cucunya. Lalu beliau bersabda:


إِنَّ ابْنِي هَذَا لَسَيِّدٌ، إِنْ يَعِشْ يُصْلِحْ بَيْنَ طَائِفَتَيْنِ مِنَ الْمُسْلِمِينَ
Sejatinya cucuku ini adalah seorang pemimpin besar. Dan bila ia berumur panjang, niscaya dia akan mempersatukan/ mendamaikan antara dua kelompok ummat Islam yang sedang bertikai” (HR Ahmad dan lainnya).


Sungguh benar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Pada tahun 40 atau 41 Hijriyah, setelah melalui peperangan sengit antara pasukan sahabat Mu’awiyyah dan Pasukan sahabat Al Hasan bin Ali Bin Ali Thalib, kebesaran jiwa Al Hasan cucu Nabi shallallahu alaihi wa sallam benar-benar terbukti. Dengan segala kebesaran jiwanya, beliau menyerahkan kepemimpinan  umat Islam yang ada di tangannya, kepada sahabat Mu’awiyyah, demi menyatukan ummat Islam yang sedang berselisih ketika itu.


Sejak saat itulah ummat Islam bersatu dibawah kepemimpinan sahabat Mu’awiyyah, dan terbuktilah kebenaran sabda Nabi bahwa cucunya ini menyatukan antara dua kelompok dari umat Islam yang bertikai. Dan selanjutnya tahun serah terima kekuasaan ini dikenal dengan sebutan Tahun Persatuan.
Semoga Allah menyatukan kita bersama sahabat Al Hasan bin Ali dan juga sahabat Mu’awiyah radhiallahu’anhum jami’an di surga-Nya. Amiin.

Penulis: Ustadz DR. Muhammad Arifin Baderi, Lc, MA.


Artikel Muslim.Or.Id





Minggu, 31 Agustus 2014

Bografi Hasan bin Ali bin Abu Tholib Radhiallahu anhu

(3-50 H)
Dia adalah putra sulung Ali bin Abu Talib dengan Fatimah Postur dan paras mukanya mirip dengan Rasulullah. Dia diangkat sebagai khalifah sepeninggal ayahnya. Dia lebih mengutamakan tidak berperang, menghindari pertumpahan darah sesama muslim, untuk itu dia menyerahkan kursi ke khalifahan kepada Muawiah sampai dia meninggal dunia di Madinah.



Riwayat Hidup Al-Hasan dan Wafatnya



Beliau dilahirkan pada bulan Ramadlan tahun ke-3 Hijriyah menurut kebanyakan para ulama sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Hajar. (lihat Fathul Bari juz VII, hal. 464)
Setelah ayah beliau Ali bin Abi Thalib radhiya­llahu ‘anhu terbunuh, sebagian kaum muslimin membai’at beliau, tetapi bukan karena wasiat dari Ali. Berkata Syaikh Muhibbudin al-Khatib bahwa diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnyajuz ke-1 hal. 130 -setelah disebutkan bahwa Ali bin Abi Thalib akan terbunuh- mereka berkata kepadanya: “Tentukanlah penggantimu bagi kami.” Maka beliau menjawab: “Tidak, tetapi aku tinggalkan kalian pada apa yang telah ditinggalkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam….” Dan disebutkan oleh beliau (Muhibuddin Al-Khatib) beberapa hadits dalam masalah ini. (Lihat Ta’liq kitab Al-’Awashim Minal Qawashim, Ibnul Arabi, hal. 198-199). Tetapi setelah itu Al-Hasan menyerahkan ketaatannya kepada Mu’awiyah untuk mencegah pertumpahan darah di kalangan kaum muslimin.


Kisah tersebut diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab As-Shulh dari Imam Al-Hasan Al-Bashri, dia berkata: -Demi Allah- Al-Hasan bin Ali telah menghadap Mu’awiyah beserta beberapa kelompok pasukan berkuda ibarat gunung, maka berkatalah ‘Amr bin ‘Ash: “Sungguh aku berpen­dapat bahwa pasukan-pasukan tersebut tidak akan berpaling melainkan setelah membunuh pasukan yang sebanding dengannya”. Berkata kepadanya Mu’awiyah -dan dia demi Allah yang terbaik di antara dua orang-: “Wahai ‘Amr! Jika mereka sa­ling membunuh, maka siapa yang akan memegang urusan manusia? Siapa yang akan menjaga wanita-­wanita mereka? Dan siapa yang akan menguasai tanah mereka?” Maka ia mengutus kepadanya (Al-­Hasan) dua orang utusan dari Quraisy dari Bani ‘Abdi Syams Abdullah bin Samurah dan Abdullah bin Amir bin Kuraiz, ia berkata: “Pergilah kalian berdua kepada orang tersebut! Bujuklah dan ucapkan kepadanya serta mintalah kepadanya (perdamaian -peny.)” Maka keduanya mendatangi­nya, berbicara dengannya dan memohon pada­nya…) kemudian di akhir hadits Al-Hasan bin Ali meriwayatkan dari Abi Bakrah bahwa dia melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas mimbar dan Hasan bin Ali di sampingnya beliau sesaat menghadap kepada manusia dan sesaat melihat kepadanya seraya berkata :


إِنَّ ابْنِى هَذَا سَيِّدٌ، وَلَعَلَّ اللهَ أَنْ يُصْلِحَ بِهِ بَيْنَ فِئَتَيْنِ عَظِيْمَتَيْنِ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ. (رواه البخارى مع الفتح ?/64? رقم 204)
Sesungguhnya anakku ini adalah sayyid, semoga Allah akan mendamaikan dengannya antara dua kelompok besar dari kalangan kaum muslimin. (HR. Bukhari dengan Fathul Bari, juz V, hal. 647, hadits no. 2704)


Berkata Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah: “….Al-Husein menyalahkan saudaranya Al-Hasan atas pendapat ini, tetapi beliau tidak mau mene­rimanya. Dan kebenaran ada pada Al-Hasan sebagaimana dalil yang akan datang….” (lihat Al­Bidayah wan Nihayah, juz VIII hal. 17). Yang dimaksud oleh beliau adalah dalil yang sudah kita sebutkan di atas yang diriwayatkan dari Abi Bakrah radhiyallahu ‘anhu.


Itulah keutamaan Al-Hasan yang paling besar yang dipuji oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka bersatulah kaum muslimin hingga tahun tersebut terkenal dengan tahun jama’ah.


Yang mengherankan justru kaum Syi’ah Rafidlah menyesali kejadian ini dan menjuluki Al-­Hasan radhiyallahu ‘anhu sebagai ‘pencoreng wajah-wajah kaum mukminin’. Sebagian mereka menganggapnya fasik sedangkan sebagian lagi bahkan mengkafirkannya karena hal itu. Berkata Syaikh Muhibbudin Al-Khatib mengomentari ucapan Rafidlah ini sebagai berikut: “Padahal termasuk dari dasar-dasar keimanan Rafidlah -bahkan dasar keimanan yang paling utama- adalah keyakinan mereka bahwa Al-Hasan, ayah, saudara dan sem­bilan keturunannya adalah maksum. Dan dari kon­sekwensi kemaksuman mereka, bahwa mereka tidak akan berbuat kesalahan. Dan setiap apa yang ber­sumber dari mereka berarti hak yang tidak akan terbatalkan. Sedangkan apa yang bersumber dari Al­-Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhuma yang paling besar adalah pembai’atan terhadap amiril mukminin Mu’awiyah, maka mestinya mereka pun masuk dalam bai’at ini dan beriman bahwa ini adalah hak karena ini adalah amalan seorang yang maksum menurut mereka. (Lihat catatan kaki kitab Al-­Awashim minal Qawashim hal. 197-198).


Tetapi kenyataannya mereka menyelisihi imam mereka sendiri yang maksum bahkan menyalahkannya, menfasikkannya, atau mengka­firkannya. Sehingga terdapat dua kemungkinan :


- Pertama, mereka berdusta atas ucapan mereka tentang kemaksuman dua belas imam, maka hancurlah agama mereka (agama Itsna ‘Asyariyyah).

- Kedua, mereka meyakini kemaksuman Al-Hasan, maka mereka adalah para peng­khianat yang menyelisihi imam yang maksum dengan permusuhan dan kesombongan serta kekufuran. Dan tidak ada kemungkinan yang ketiga.


Adapun Ahlus Sunnah yang beriman dengan kenabian “kakek Al-Hasan” shallallahu ‘alaihi wa sallam berpendapat bahwa perdamaian dan bai’at beliau kepada Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu adalah salah satu bukti kenabian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dan amal terbesar Al-Hasan serta mereka bergembira dengannya kemudian menganggap Al­Hasan yang memutihkan wajah kaum mukminin.
Demikianlah khilafah Mu’awiyah berlang­sung dengan persatuan kaum muslimin karena Al­lah Subhanahu wa Ta ‘ala dengan sebab pengor­banan Al-Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhu yang besar yang dia -demi Allah- lebih berhak terhadap khilafah daripada Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu sebagaimana yang dikatakan oleh Abu Bakar Ibnul Arabi dan para ulama. Semoga Allah meridlai seluruh para shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pada tahun ke 10 masa khilafah Mu’awiyah meninggallah Al-Hasan radhiyallahu `anhu pada umur 47 tahun. Dan ini yang dianggap shahih oleh Ibnu Katsir, sedangkan yang masyhur adalah 49 tahun. Wallahu A’lam bish-Shawab. Ketika beliau diperiksa oleh dokter, maka dia mengatakan bahwa Al-Hasan radhiyallahu ‘anhu meninggal karena racun yang memutuskan ususnya. Namun tidak diketahui dalam sejarah siapa yang membunuh­nya. Adapun ucapan Rafidlah yang menuduh pihak Mu’awiyah sebagai pembunuhnya sama sekali tidak dapat diterima sebagaimana dikatakan oleh Ibnul ‘Arabi dengan ucapannya:
“Kami mengatakan bahwa hal ini tidak mungkin karena dua hal:


Pertama, bahwa dia (Mu’awiyah) sama sekali tidak mengkhawatirkan kejelekan apapun dari Al-Hasan karena beliau telah menyerahkan urusannya kepada Mu’awiyah. Yang kedua, hal ini adalah perkara ghaib yang tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah, maka bagaimana mungkin menuduhkannya kepada salah seorang makhluk-Nya tanpa bukti pada zaman yang berjauhan yang kita tidak dapat mudah percaya dengan nukilan seorang penukil dari kalangan pengikut hawa nafsu (Syi’ ah). Dalam keadaan fitnah dan Ashabiyyah, setiap orang akan menuduh lawannya dengan tuduhan yang tidak semestinya, maka tidak mungkin diterima kecuali dari seorang yang bersih dan tidak didengar darinya kecuali keadilan.” (Lihat Al-Awashim minal Qawashim hal. 213-214)


Demikian pula dikatakan oleh Syaikhul Is­lam Ibnu Taimiyyah bahwa tuduhan Syi’ah tersebut tidak benar dan tidak didatangkan dengan bukti syar’i serta tidak pula ada persaksian yang dapat diterima dan tidak ada pula penukilan yang tegas tentangnya. (Lihat Minhajus Sunnah juz 2 hal. 225)

Semoga Allah merahmati Al-Hasan bin Ali dan meridlainya dan melipatgandakan pahala amal dan jasa-jasanya. Dan semoga Allah menerimanya sebagai syahid. Amiin.